Pemanasan Global Ubah Cara Atmosfer Mengurai Gas Rumah Kaca: Apa Dampaknya?

Bimo Aria Fundrika

Kamis, 05 Februari 2026 | 18:00 WIB
Pemanasan Global Ubah Cara Atmosfer Mengurai Gas Rumah Kaca: Apa Dampaknya?
Ilustrasi pemanasan global (Freepik/freepik)

Suara.com - Selama ini, gas rumah kaca sering diaanggap sebagai musuh yang menetap di atas langit. Namun, pemanasan global ternyata mengubah cara atmosfer “membuang sampah” gasnya sendiri. Hal ini terungkap dari temuan terbaru para ilmuwan di University of California, Irvine (UCI).

Seperti dikutip dari phys.org, fokus utama penelitian ini adalah Dinitrogen Oksida (N2O), yakni gas rumah kaca terpenting ketiga setelah karbon dioksida (CO2) dan metana, sekaligus musuh utama lapisan ozon saat ini.

Berdasarkan data dari satelit NASA tahun 2004-2024 (dua dekade) terungkap bahwa masa hidup N2O di atmosfer ternyata menyusut sebanyak 1,4% setiap dekadenya.

Mengapa Hal Ini Bisa Terjadi?

Ironisnya, emisi CO2 yang seharusnya memanaskan permukaan bumi, justru mendinginkan lapisan stratosfer di ketinggian 10-50 km. Pendinginan ini dikombinasikan dengan perubahan pola sirkulasi udara global, sehingga mempercepat perjalanan molekul N2O menuju zona eksekusi di stratosfer atas. Di sana, gas ini kemudian dihancurkan oleh sinar ultraviolet dan reaksi kimia.

N2O biasanya dapat bertahan pada rata-rata 117 tahun, tetapi kini usianya berkurang 1,5 tahun setiap sepuluh tahunnya.

Mengapa Temuan Ini Penting?

Bukan sekadar statistik kimia, temuan ini merupakan potongan teka-teki yang selama ini hilang. Dalam artikel phys.org dituliskan bahwa Profesor Michael Prather dari UCI menjelaskan bahwa efek “pembersihan otomatis” ini sangat signifikan.

Karena begitu kuat efek ini, dampak dari penurunan masa hidup N2O bisa setara dengan perubahan skenario kebijakan iklim besar-besaran. Konsentrasi gas yang ada dalam atmosfer bisa berkurang sangat banyak hanya karena perubahan sirkulasi ini, bahkan belum termasuk kita mengubah emisi di daratan.

baca juga

Ada Sisi Gelapnya?

Nah meski terdengar seperti kabar baik, fenomena ini ternyata seperti pedang bermata dua. Saat N2O terurai lebih cepat, ia melepaskan oksida nitrogen yang justru bisa memakan lapisan ozon pelindung Bumi.

Itu berarti, ketika kita mencoba mendinginkan planet, mekanisme ini malah memberikan tambahan tekanan melalui Protokol Montreal pada pemulihan lubang ozon yang selama ini kita perjuangkan.

Penelitian terbitan PNAS ini menegaskan bahwa model iklim masa depan bukan hanya dengan menghitung seberapa banyak emisi yang kita buang dari lahan pertanian atau knalpot kendaraan bermotor. Namun, kita juga harus memperhitungkan bagaimana atmosfer akan “merespons” panas tersebut.

Jika variabel ini tidak dimasukkan ke dalam kesepakatan dunia, sama saja seperti kita membuat rencana perjalanan menggunakan peta lama. Prediksi iklim untuk tahun 2100 bisa jadi tidak akurat dan meleset sangat jauh.

Penulis: Vicka Rumanti

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Studi Oxford: Hampir Separuh Penduduk Dunia Terancam Panas Ekstrem pada 2050

Studi Oxford: Hampir Separuh Penduduk Dunia Terancam Panas Ekstrem pada 2050

News | Senin, 02 Februari 2026 | 18:10 WIB

Mengenal Fitoplankton: Sumber Oksigen untuk Bumi Selain Hutan

Mengenal Fitoplankton: Sumber Oksigen untuk Bumi Selain Hutan

Your Say | Selasa, 23 Desember 2025 | 10:45 WIB

Bagaimana Perubahan Iklim Bisa Tingkatkan Ancaman Penyakit Zoonosis?

Bagaimana Perubahan Iklim Bisa Tingkatkan Ancaman Penyakit Zoonosis?

News | Rabu, 17 Desember 2025 | 16:25 WIB

Terkini

Cara Cari Restoran Terdekat untuk Pesan Makanan Online, Jangan Cuma Lihat Rating

Cara Cari Restoran Terdekat untuk Pesan Makanan Online, Jangan Cuma Lihat Rating

Lifestyle | Rabu, 23 September 2026 | 00:09 WIB

Pengendara Harap Bersiap, Dishub Bogor Terapkan Pengalihan Arus di Sukaraja Besok

Pengendara Harap Bersiap, Dishub Bogor Terapkan Pengalihan Arus di Sukaraja Besok

Bogor | Selasa, 22 September 2026 | 23:29 WIB

vivo X500 Series Sudah Meluncur di China, Kapan Masuk Indonesia? Ini Jawaban vivo

vivo X500 Series Sudah Meluncur di China, Kapan Masuk Indonesia? Ini Jawaban vivo

Tekno | Selasa, 22 September 2026 | 23:19 WIB

Hujan Turun di Palembang, Apakah Kabut Asap Benar-Benar Hilang?

Hujan Turun di Palembang, Apakah Kabut Asap Benar-Benar Hilang?

Sumsel | Selasa, 22 September 2026 | 23:15 WIB

Harga Timah Tembus US$54.250, Kenapa Komoditas Ini Makin Diburu Dunia?

Harga Timah Tembus US$54.250, Kenapa Komoditas Ini Makin Diburu Dunia?

Sumsel | Selasa, 22 September 2026 | 23:02 WIB

Janjian Balap Liar via WhatsApp, 4 Pemuda Diamankan Polres Cianjur

Janjian Balap Liar via WhatsApp, 4 Pemuda Diamankan Polres Cianjur

Jabar | Selasa, 22 September 2026 | 23:01 WIB

AI Mulai Masuk Bisnis Pelajar, 6.125 Siswa Dibekali Keterampilan Wirausaha Digital

AI Mulai Masuk Bisnis Pelajar, 6.125 Siswa Dibekali Keterampilan Wirausaha Digital

Tekno | Selasa, 22 September 2026 | 23:00 WIB

realme 16 Pro Harry Potter Edition Meluncur, Bawa Teknologi Warna yang Berubah Saat Kena Matahari

realme 16 Pro Harry Potter Edition Meluncur, Bawa Teknologi Warna yang Berubah Saat Kena Matahari

Tekno | Selasa, 22 September 2026 | 22:45 WIB

Bupati Askolani Sebut Bimtek Kepsek Ilegal, Kok Bisa Berujung OTT Polda Sumsel?

Bupati Askolani Sebut Bimtek Kepsek Ilegal, Kok Bisa Berujung OTT Polda Sumsel?

Sumsel | Selasa, 22 September 2026 | 22:40 WIB

BMKG Sebut Hujan Turun Berangsur Guyur Area Karhutla hingga Bulan Oktober

BMKG Sebut Hujan Turun Berangsur Guyur Area Karhutla hingga Bulan Oktober

Video | Selasa, 22 September 2026 | 22:10 WIB

×