- Jakarta selalu menghadapi tekanan inflasi pangan tinggi selama Ramadan, dipicu kenaikan permintaan beras, telur, dan daging dari luar daerah.
- Pemprov DKI Jakarta menjamin stok pangan BUMD aman meski ada kenaikan kebutuhan, serta melakukan pengawasan rutin di pasar.
- Masyarakat diimbau waspada terhadap praktik curang pedagang dengan menerapkan prinsip "Cek KLIK" dan menghindari belanja berlebihan.
Suara.com - Setiap tahun, pemandangan yang sama selalu berulang di pasar-pasar tradisional dan rak supermarket saat bulan suci Ramadan mulai membayang di kalender. Kenaikan harga bahan pokok seolah menjadi tradisi tak tertulis yang memaksa masyarakat mengernyitkan dahi sembari menata ulang strategi pengeluaran harian mereka.
Lonjakan permintaan yang masif terhadap komoditas seperti beras, telur, dan daging sapi seringkali memicu ketimpangan stok yang cukup mengkhawatirkan hingga menjelang Idulfitri. Di tengah hiruk-pikuk persiapan hari raya, ketidakpastian distribusi pangan ini menjadi ujian kesabaran ekstra bagi warga yang hanya ingin merayakan kemenangan dengan hidangan sederhana di meja makan.
Masalah Pangan Jelang dan Selama Ramadan
Selama lima tahun terakhir, Jakarta jadi salah satu contoh wilayah yang konsisten menghadapi tekanan inflasi yang signifikan pada kelompok bahan pangan setiap kali memasuki bulan Ramadan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa komoditas seperti beras, telur, dan daging ayam selalu menjadi pemicu utama kenaikan harga akibat lonjakan permintaan masyarakat yang masif.
Masalah ini diperparah oleh ketergantungan Jakarta yang mencapai 98 persen terhadap pasokan pangan dari luar daerah. Fluktuasi harga seringkali sulit dikendalikan karena sangat bergantung pada kelancaran distribusi logistik dan kondisi cuaca di wilayah sentral produksi.
Volume kebutuhan pangan warga Jakarta saat puncak Idulfitri tercatat mengalami kenaikan antara 0,36 persen hingga lebih dari 8 persen. Hal ini sering memicu ketimpangan stok di pasar tradisional, di mana harga daging sapi bahkan sempat menyentuh angka Rp140.000 per kilogram pada periode tahun 2024.
Selain faktor teknis distribusi, budaya belanja berlebih atau panic buying turut memberikan tekanan psikologis terhadap stabilitas harga di pasar. Di kalangan masyarakat, sering muncul kekhawatiran akan lonjakan masif harga bahan pangan sehingga memicu aksi penimbunan stok di setiap rumah tangga.
Jakarta pun sering menemukan masalah peredaran produk pangan yang mendekati masa kedaluwarsa (expired), yang biasa dimanfaatkan pedagang untuk promosi diskon besar-besaran guna menarik minat pembeli. Karena produk tersebut dibungkus rapi, konsumen sering kali tidak bisa mengecek satu per satu tanggal kedaluwarsanya, yang dimanfaatkan oknum pedagang untuk menghabiskan stok lama mereka.

Pengawasan dan Penindakan
Baca Juga: Transjabodetabek Cawang-Cikarang Resmi Mengaspal, Rute Blok M-Soetta Jalan Sebelum Lebaran
Pemerintah daerah terus berupaya menjaga ketersediaan pasokan agar masyarakat tetap dapat memenuhi kebutuhan pokok tanpa harus terbebani harga yang melambung tinggi. Salah satunya seperti di Jakarta, di mana Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta sudah merilis data lonjakan permintaan kebutuhan pangan jelang Imlek dan Ramadan tahun ini.
Peningkatan kebutuhan paling mencolok tercatat pada komoditas telur ayam yang mencapai angka persentase sebesar 7,50 persen. Selain telur, komoditas daging sapi serta bawang putih juga ikut merangkak naik dengan persentase sebesar 3,57 persen. Ada juga komoditas cabai rawit yang meningkat di angka 3,02 persen dan bawang merah di angka 2,89 persen.
Pemprov DKI Jakarta, melalui Gubernur Pramono Anung, juga sudah menjamin bahwa stok BUMD Pangan untuk kebutuhan di atas jelang Ramadan dan Idulfitri tahun ini masih tergolong aman. Berdasarkan laporan terakhir, cadangan pangan seperti telur ayam masih di angka 5,5 ton, daging sapi 1.246 ton, bawang putih 48 ton, cabai rawit 57 ton serta bawang merah 104 ton.
"Relatif terkontrol dengan baik," klaim Pramono.
Dinas KPKP juga sudah mengambil langkah strategis untuk menjaga stabilitas harga stok pangan di tengah lonjakan permintaan berbagai komoditas pokok. Mulai dari pelaksanaan kegiatan pangan murah keliling yang dilaksanakan oleh BUMD Pangan Pemprov DKI Jakarta, hingga peninjauan harga rutin bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID).
"Untuk mengetahui perkembangan harga, ketersediaan, dan informasi mengenai pangan," papar Sekretaris Daerah (Sekda) DKI Jakarta, Uus Kuswanto.
Pun untuk pengawasan peredaran produk-produk pangan yang mendekati masa kedaluwarsa, Pemprov DKI Jakarta juga hadir melalui sidak ke pasar ritel modern dan pasar tradisional yang dilakukan Satgas Pangan Bersama. Peringatan keras penyitaan barang, hingga sanksi pidana terhadap pedagang yang terbukti menjual produk yang sudah tidak layak konsumsi sudah dipersiapkan.
Apa yang Bisa Dilakukan Masyarakat?
Masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai praktik curang pedagang yang sering muncul di tengah tingginya permintaan pangan menjelang Ramadan dan Idulfitri. Salah satu langkah paling krusial adalah menerapkan prinsip "Cek KLIK" untuk memastikan kemasan, label, izin edar, dan tanggal kedaluwarsa produk tetap aman dikonsumsi, seperti imbauan Pemprov DKI Jakarta hasil kerja sama dengan BPOM.
Konsumen juga harus ekstra teliti saat membeli paket parsel yang sudah terbungkus rapi karena risiko penyisipan produk kedaluwarsa di dalamnya sangat tinggi. Disarankan untuk memilih isi parsel secara mandiri atau memastikan toko memberikan jaminan transparansi mengenai masa berlaku setiap item yang dijual.
Ketelitian terhadap timbangan dan kualitas bahan segar seperti daging atau ayam juga menjadi kunci agar tidak dirugikan oleh oknum spekulan, khususnya di pasar tradisional. Pastikan timbangan dimulai dari angka nol, dan kenali ciri fisik pangan yang sehat guna menghindari pembelian produk yang mengandung bahan pengawet berbahaya.
Masyarakat juga diimbau untuk memantau harga komoditas melalui aplikasi resmi seperti JAKI untuk menghindari permainan harga yang tidak wajar. Tak lupa, menghindari belanja berlebihan atau panic buying pun secara tidak langsung ikut membantu menjaga stabilitas stok dan mencegah ruang gerak bagi para penimbun barang.
"Ketersediaan pangan di Jakarta sangat mencukupi," tegas Pramono Anung sekali lagi.