- Langgar Kidul adalah cikal bakal lahirnya gerakan pembaruan Islam Muhammadiyah.
- Koreksi arah kiblat Kiai Ahmad Dahlan memicu kontroversi hingga perobohan langgar.
- Kini, langgar menjadi destinasi edukasi sejarah perjuangan dan pemikiran Kiai Dahlan.
"Itu yang sampai sekarang sejarawan Muhammadiyah yang pernah saya ajak diskusi itu belum menemukan jawaban yang pastinya," ungkap Ahmad.
Dokumentasi dari tahun 1933 menunjukkan bangunan langgar sudah dua lantai, sehingga perubahan itu disinyalir terjadi pada dekade 1920-an. Di lantai atas, tepat di depan mihrab, terdapat goresan di lantai yang diyakini sebagai patokan koreksi kiblat. Namun, apakah goresan itu dibuat langsung oleh Kiai Dahlan atau ditambahkan kemudian, masih menjadi perdebatan.
"Tapi kalau dalam keluarga besarnya itu memang bilangnya itu adalah goresan Kiai Dahlan," imbuhnya.
Laboratorium Pendidikan yang Membebaskan
Lebih dari sekadar tempat ibadah, langgar ini menjelma menjadi laboratorium gagasan pendidikan Kiai Dahlan. Jauh sebelum Muhammadiyah berdiri resmi pada 18 November 1912, ia telah merintis sekolah yang mengajarkan ilmu agama dan ilmu umum di teras rumah dan langgar ini.
Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah (MIDI) menjadi embrionya, yang kemudian berkembang pesat menjadi cikal bakal sekolah-sekolah Muhammadiyah yang kini tersebar di seluruh nusantara, termasuk SD Muhammadiyah Suronatan dan Madrasah Muallimin serta Muallimat.
"Jadi pada masa awalnya Muhammadiyah berkembang di Jogja itu memang di kompleks ini selalu digunakan sebagai tempat perintisan sekolah-sekolahnya," tutur Ahmad.
Dari Gudang Terbengkalai Menjadi Kompas Sejarah
Kompleks ini aktif sebagai sekolah hingga dekade 1980-an. Namun, setelah itu, bangunan bersejarah ini sempat memasuki episode kelam.
"Tahun '90an itu selesai dan di situlah mulai episode yang bangunan ini sempat terbengkalai karena digunakan untuk gudang," kenang Ahmad.
"Dari saya TK sampai saya SD itu saya menangi ini jadi gudang enggak pernah dibuka."
Titik terang datang pada 2010. Menjelang Muktamar satu abad Muhammadiyah, kompleks ini direnovasi total dan kembali dihidupkan sebagai ruang ibadah sekaligus destinasi edukasi sejarah. Pengunjung dari berbagai kalangan kini datang silih berganti, ingin menyerap semangat pembaruan dari tempat ini.
Kini, Langgar Kidul Kiai Ahmad Dahlan telah bersolek, menjadi pengingat abadi bahwa warisan sang pencerah bukan sekadar bangunan fisik, melainkan semangat pendidikan yang membebaskan dan keberanian berpikir kritis. Di tengah modernitas Yogyakarta, langgar ini tetap berdiri sebagai kompas moral dan intelektual.