Suara.com - Masoud Pezeshkian resmi adalah Presiden Iran yang resmi menjabat sejak 28 Juli 2024. Namanya disorot setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei dinyatakan meninggal dunia pada hari ini, 1 Maret 2026.
Lahir pada 29 September 1954 di tengah keluarga berlatar belakang Azerbaijan Iran, Pezeshkian mencatatkan sejarah sebagai orang tertua yang menduduki kursi kepresidenan dalam usia 69 tahun.
Sebelum memuncak ke kursi nomor satu, ia dikenal luas sebagai akademisi medis dan politikus yang memiliki pengaruh besar di parlemen.
Latar belakang pendidikan Pezeshkian berakar dari Universitas Ilmu Kedokteran Tabriz, tempat ia menuntaskan studi kedokterannya.
Pengalaman kepemimpinannya terasah saat ia dipercaya menjadi koordinator tim medis lapangan selama periode perang Iran-Irak pada dekade 1980-an. Dedikasi ini membawanya masuk ke lingkaran pemerintahan pusat di awal tahun 2000.
Berikut adalah tonggak penting dalam karier politiknya:
- Menteri Kesehatan (2001–2005): Menjabat di bawah kepemimpinan Presiden Mohammad Khatami.
- Anggota Parlemen (Sejak 2008): Mewakili wilayah Tabriz, Osku, dan Azarshahr selama beberapa periode.
- Wakil Ketua Parlemen (2016–2020): Memegang peran strategis dalam badan legislatif Iran.
Dikenal sebagai tokoh moderat dan reformatif, Pezeshkian membawa visi untuk menjadikan Iran lebih terbuka terhadap komunitas internasional.
Ia mengedepankan jalur diplomasi dan berupaya memperbaiki keharmonisan hubungan antara rakyat dengan otoritas negara.
Jalan Pezeshkian menuju kursi presiden terbuka setelah insiden tragis kecelakaan helikopter yang merenggut nyawa Presiden Ebrahim Raisi pada 19 Mei 2024.
Baca Juga: Profil Katie Qian Fashion Stylist No Na, Sudah Jadi Langganan Artis Dunia
Sesuai konstitusi, Iran segera menyelenggarakan pemilihan presiden darurat untuk mengisi kekosongan jabatan dalam kurun waktu kurang dari dua bulan.
Putaran Pertama (28 Juni 2024): Pezeshkian bersaing dengan sejumlah tokoh kuat seperti Saeed Jalili dan Mohammad Bagher Qalibaf. Pada fase ini, ia berhasil mengamankan suara terbanyak dengan total 10.415.991 suara. Namun, karena tidak ada kandidat yang mencapai ambang batas suara 50 persen, pemilu harus dilanjutkan ke babak penentuan.
Putaran Kedua (5 Juli 2024): Pertarungan sengit terjadi antara Pezeshkian dan Saeed Jalili. Pada putaran final ini, tingkat partisipasi masyarakat meningkat tajam hingga mencapai 49,8 persen. Pezeshkian keluar sebagai pemenang mutlak setelah mengantongi lebih dari 16 juta suara atau sekitar 54 persen dari total suara sah. Kemenangan ini secara resmi mengukuhkannya sebagai Presiden ke-9 Republik Islam Iran.
Sebagai presiden yang diterima oleh lintas kalangan, baik moderat maupun beberapa faksi konservatif, tantangan besar kini menanti Pezeshkian.
Ia diharapkan mampu menggerakkan ekonomi Iran di tengah sanksi internasional dan mewujudkan janji-janji kampanyenya untuk menjalin kerja sama global yang lebih inklusif tanpa meninggalkan prinsip-prinsip dasar kedaulatan Iran.
Kontributor : Rizqi Amalia