Suara.com - Kementerian Luar Negeri menyatakan kesiapan Presiden Prabowo Subianto bertolak ke Teheran untuk "memfasilitasi dialog", tapi ide ini dipertanyakan sejumlah kalangan dan disebut "sangat tidak realistis".
Pernyataan ini dikeluarkan di momen AS-Israel memutuskan serangan ke Iran pada Sabtu (28/01).
Beberapa analis berpendapat, konflik AS-Israel dengan Iran akan berlangsung lama.
Di tengah ketidakpastian ini, Iran telah menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis di dunia bagi perdagangan energi global.
Penutupan ini, secara tidak langsung berdampak pada ekonomi dunia termasuk Indonesia sebagai importir minyak, menurut peneliti.
Di sisi lain, warga Indonesia yang tercatat berada di Iran sebanyak 329 jiwa, dan KBRI Teheran menyatakan jaringan WNI di sana "tidak merasakan adanya ancaman langsung". Namun KBRI setempat tetap menyerukan kewaspadaan.
https://twitter.com/i/status/2027686527774691574
Kementerian Luar Negeri pada saat-saat serangan AS-Israel ke Iran, mengeluarkan pengumuman, "Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Presiden Republik Indonesia, menyampaikan kesiapan untuk memfasilitasi dialog bagi terciptanya kembali kondisi keamanan yang kondusif".
"Dan apabila disetujui kedua belah pihak, Presiden Indonesia bersedia untuk bertolak ke Teheran untuk melakukan mediasi," tulis akun resmi Kemlu di X, pada Sabtu (28/02).
Baca Juga: Media Asing Soroti Lunaknya Prabowo di Hadapan Trump
Tapi gagasan ini dipertanyakan mantan diplomat Indonesia, Dino Patti Djalal, bahkan disebut "sangat tidak realistis".
"Saya heran kenapa ide ini tidak difilter dulu sebelum diumumkan," kata Dino bertanya-tanya melalui akun Instagramnya, Minggu (01/03).
Tidak mungkin Presiden Prabowo memediasi konflik AS-Israel dengan Iran yang semakin keras, karena AS jarang sekali tunduk oleh pihak ketiga, kata Dino.
"Ego Amerika sebagai negara superpower terlalu tinggi untuk menerima itu," kata pria yang pernah menjabat Duta Besar Indonesia untuk AS. Pemerintah Iran belakangan ini tidak begitu dekat dengan pemerintah Indonesia, tambahnya.
Hal lain yang membuat "ide menakjubkan" ini mustahil terjadi adalah membujuk pihak AS seperti Trump atau Menlu AS Marco Rubio melakukan kunjungan dengan petinggi Iran.
Belum lagi kemungkinan Presiden Prabowo harus bertemu dengan PM Israel, Benjamin Netanyahu dalam upaya memediasi.
"Secara politik diplomatik dan juga logistik tidak mungkin terjadi. Ini akan menjadi bunuh diri politik bagi Presiden Prabowo di dalam negeri," jelas Dino.
Indonesia, kata dia, harus tegas mengambil posisi dalam konflik ini. Berani mengatakan kesalahan AS-Israel karena menyerang Iran.
"Serangan Israel-AS ke Iran itu betentangan dengan segala prinsip yang disampaikan oleh Presiden Prabowo dalam pidato bersejarah di sidang umum PBB tahun lalu," katanya.
'Memoles citra'
Peneliti dari PARA Syndicate, Virdika Rizky Utama menyebut gagasan itu sebagai "cari panggung internasional".
"Ini bukan lagi soal strategi diplomasi Indonesia yang konsisten, tapi lebih ke upaya memoles citra di tengah krisis," katanya. "Seharusnya kalau memang berani, datangi Amerika dan Israel lalu minta mereka berhenti menyerang [Iran]".
Selain itu, menurut Virdika saat ini politik bebas aktif Indonesia "sudah mati" setelah bergabung dengan Dewan Perdamaian (Board of Peace) bentukan Trump.
"Jadi, kalau sekarang mau bergaya jadi mediator di Iran, dunia internasional pasti tertawa. Bagaimana mungkin negara yang sudah beraliansi dengan salah satu pihak yang terlibat konflik bisa dipercaya jadi penengah yang jujur," katanya.
Sementara itu, pengamat pertahanan dari ISEAS-Yusof Ishak Institute, Made Supriatma menilai gagasan presiden jadi juru runding sebagai "gimmick".
Made menulis pendapatnya dalam unggahan di Facebook pribadinya dan memuat banyak pertanyaan, termasuk: "Indonesia menawarkan diri sebagai mediator. Serius?"
Saat dihubungi, kata dia, sejauh ini Indonesia tak cukup memiliki pengaruh dari segi kekuatan politik, netralitas, hubungan baik dengan negara-negara berkonflik, pengaruh ekonomi-militer, dan saluran komunikasi yang aktif.
- Pemimpin Iran, Ayatollah Ali Khamenei, wafat dalam serangan AS dan Israel
- Ayatollah Ali Khamenei wafat, siapa penerusnya dan apa yang mungkin terjadi selanjutnya?
- Bagaimana status program nuklir Iran, dan ancaman apa yang mungkin ditimbulkan?
Apalagi dalam konteks perang AS-Israel dengan Iran, bukan lagi urusan mendongkel satu-dua pemimpin negara, tapi meruntuhkan rezim.
"Amerika dan Israel ini sudah perang terbuka dan terus membunuh pemimpin satu negara. Apalagi yang mau dinegosiasikan? Nggak ada jalan bagi Iran untuk mundur-mundur, kecuali berperang," kata Made.
Dampak penutupan Selat Hormuz
Sejak serangan AS-Israel dimulai, Iran memutuskan menutup Selat Homuz. Sampai Minggu (01/03), AS-Israel meluncurkan serangan terbaru setelah pimpinan Iran, Ali Khemeni wafat.
Menurut Dino Patti Djalal, konflik yang melibatkan tiga negara secara langsung ini akan menjadi "berkepanjangan".
"Karena tujuan dari serangan militer ini, kali ini bukan hanya untuk menghentikan kapasitas nuklir Iran, tapi untuk menumbangkan pemerintah di Teheran," katanya.
AS-Israel akan mengerahkan segala daya dari militer hingga intelijen untuk menumbangkan Iran. Sebaliknya, Iran tak akan tinggal diam, dan melakukan perlawanan.
Baca juga:
- AS dorong China mencegah Iran menutup Selat Hormuz Apa akibatnya jika jalur minyak itu diblokir?
- Iran bersedia bernegosiasi dengan AS 'Syaratnya bebas dari ancaman dan ekspektasi yang tidak masuk akal'
- AS mengerahkan pesawat tempur dan kapal perang dekat Iran
"Mengingat [serangan ke] Iran berbeda dari Venzuela, mempunyai jaringan politik dan militer yang cukup signifikan, di beberapa wilayah di luar Iran di Timur Tengah, maka dapat dipastikan bahwa perang ini juga akan menyeret pihak-pihak luar, dan akan menyebarkan guncangan di luar wilayah Iran," kata Dino.
Selat Homuz adalah jalur perdagangan minyak vital global, yang terletak antara Iran dan Oman. Jalur masuk dan keluarnya memiliki lebar sekitar 50 km, dan sekitar 40 km pada titik tersempitnya.
Sekitar seperlima dari minyak mentah di dunia hilir mudik melalui jalur tersempitnya. Kendati demikian, selat itu cukup dalam untuk dilalui kapal besar di bagian tengahnya.
Lembaga Informasi Energi Amerika Serikat (EIA) memperkirakan sekitar 20 juta barel minyak melintasi Selat Hormuz per hari pada paruh pertama 2023.
Jumlah itu setara dengan perdagangan energi senilai hampir US$600 miliar per tahun yang diangkut melalui rute maritim.
Gangguan dalam bentuk apa pun di jalur laut dapat menyebabkan penundaan pengiriman minyak global secara signifikan, yang segera berdampak pada harga minyak.
Banyak negara bergantung distribusi energinya melalui jalur ini. Selain China, ekonomi-ekonomi besar Asia lainnya, termasuk India, Jepang, dan Korea Selatan, juga sangat bergantung pada minyak mentah yang melewati Selat Hormuz.
Penelitian lembaga kajian Vortexa mengindikasikan, ekspor minyak mentah dari Arab Saudi mencapai sekitar enam juta barel per hari melalui jalur Selat Hormuz.
Jumlah ini melebihi pengiriman dari negara-negara lain di kawasan tersebut.
EIA memperkirakan pada 2022, sekitar 82% minyak mentah dan kondensat (hidrokarbon cair berkepadatan rendah yang mirip gas alam) melintasi selat menuju ke negara-negara di Asia, tak terkecuali Indonesia.
Waspadai dampak kenaikan harga di Indonesia
Banyak kalangan di Indonesia masih memantau situasi ke depan menyusul penutupan Selat Homuz.
Dikutip dari Kompas.id, penutupan jalur perdagangan secara tidak langsung dapat memengaruhi harga barang domestik karena banyak barang di Indonesia diimpor, terutama dari China.
Selain itu, pendiri dan CEO Supply Chain Indonesia, Setijadi, memperkirakan gangguan di Selat Homuz dapat memicu kenaikan biaya distribusi nasional dan harga barang dalam negeri.
Dalam skenario terberat, misalnya harga solar naik hingga 30%, maka dapat memicu lonjakan ongkos angkut antara 10,5% - 12%.
PT Pertamina Persero mengatakan memantau perkembangan dinamika energi global, dan mengklaim telah melakukan mitigasi guna menjaga kelancaran rantai pasok global dan ketahanan energi nasional.
"Pertamina telah menyiapkan langkah mitigasi risiko serta memperkuat komunikasi dengan Kementerian Luar Negeri, KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia), KJRI (Konsulat Jenderal Republik Indonesia), dan otoritas setempat guna menjaga kelancaran operasional dan keamanan kru," kata Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, Minggu (01/03).
Risiko terbatasnya pasokan minyak mentah, BBM, dan LPG dari Timur Tengah diantisipasi dengan mengelola suplai dari kawasan lain. Pertamina, kata dia, memiliki portofolio sumber pasokan yang beragam dari beberapa negara mitra, termasuk dari produksi dalam negeri.
"Diversifikasi ini memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan suplai di tengah dinamika geopolitik," kata Baron. Pertamina juga mengoptimalkan operasi kilang domestik untuk menjaga keseimbangan produksi dan distribusi.
Dilansir dari Kompas.id, untuk produk minyak mentah sepanjang 2025, Pertamina mengimpor sekitar 387.000 barel minyak per hari. Sebanyak 19% impor tersebut berasal dari Timur Tengahyang kemungkinan akan terhambat saat Selat Homuz ditutup.
Di lapangan, dua kapal Pertamina pengangkut produk fosil juga dikabarkan masih berada di area Selat Hormuz. Pjs Corporate Secretary PT Pertamina International Shipping (PIS), Vega Pita mengklaim pihaknya saat ini sedang mengusahakan kedua kapal untuk keluar dari area teluk.
"Saat ini, tim armada kami tengah menjalin komunikasi intens dengan pihak pengelola untuk koordinasi dan memastikan keselamatan para kru dan kapal," kata Vega Pita seperti dikutip Suara.com, Minggu (01/03).
Di sisi lain, harga minyak mentah Brent, patokan global, per Minggu malam (01/03) mencapai 72,48 dolar AS per barel. Kemungkinan pascagejolak di Timur Tengah harganya naik.
Peneliti dari PARA Syndicate, Virdika Rizky Utama menyebut "penutupan Selat Hormuz ini sebagai salah satu krisis energi paling parah dalam sepuluh tahun terakhir".
"Saya rasa harga [minyak mentah] bisa tembus di atas 100 dolar AS per barel atau bahkan lebih kalau penutupannya berlangsung lama," katanya.
Ia khawatir gejolak berkepanjangan ini dapat memukul biaya impor energi yang dapat berefek ke mana-mana seperti lonjakan harga barang dan jasa, hingga membuat "defisit perdagangan makin parah dan menekan APBN".
"Inflasi di dalam negeri bakal naik dan beban subsidi energi jadi berat sekali. Ini bukan cuma masalah ekonomi, tapi juga soal stabilitas politik karena harga BBM adalah isu yang sangat sensitif bagi masyarakat kita," kata Virdika.
Dari sisi geopolitik, kejadian ini membuktikan betapa rapuhnya keamanan energi global, katanya. Negara-negara di Asia termasuk Indonesia bakal terpaksa mencari sumber pasokan lain dan memperkuat cadangan mereka.
Soal kapan selat itu bakal dibuka lagi, semuanya tergantung pada dinamika politik di Iran pasca kematian Khamenei. Dalam situasi transisi kepemimpinan yang penuh dendam, logika damai biasanya kalah, kata Virdika.
Ia memprediksi penutupan Selat Homuz akan berlangsung berbulan-bulan. Iran, kata dia, akan menggunakan cara ini untuk memperkuat posisinya.
"Ya intinya, krisis ini tidak akan selesai cepat dan Indonesia harus segera menyiapkan strategi darurat energi daripada cuma sibuk berdiplomasi cari panggung," kata Virdika.
Bagaimana nasib WNI di Iran?
Husein Ali mengatakan kedua anaknya yang saat ini berada di Kota Qom, Iran dalam kondisi "aman-aman saja" meskipun keluarga tetap merasa "was-was".
"Dua jam yang lalu kita telepon-teleponan Kalau di Qom dia hanya pertama kemarin pagi terdengar suara bom katanya dia. Tapi ya biasa-biasa saja, aman," kata Husein Minggu siang (01/03).
Sejak serangan diluncurkan, terjadi pemadaman internet di Iran. Beberapa komunikasi dapat terhubung melalui jaringan Starlink. Dan, Qom menjadi salah satu kota yang menjadi sasaran serangan selain Teheran, Isfahan, Karaj, dan Kermanshah, menurut kantor berita Fars.
"Cuma disuruh hati-hati," lanjut Husein. Anaknya ini sedang menempuh studi dan kata dia, lebih banyak berada di asrama dengan kuliah daring.
Anaknya yang lebih tua sudah berkeluarga dan tinggal 15 tahun di kota yang sama. Tapi sejauh ini, ia belum bisa berkomunikasi beberapa hari ini.
"Yang di sini was-was juga kan keluarga ibunya. Berapa hari itu yang dia nggak bisa internet ada empat hari mungkin. Nyambung lagi malah telepon kita was-was dengar ada apa ini," lanjut Husein. Tapi ia yakin kedua anaknya baik-baik saja.
BBC Indonesia meminta dia kembali menghubungi anaknya agar mendapat informasi lebih lengkap dari lapangan. Tapi kata Husein, "Maaf masih tidak bisa dihubungi, kayaknya tidak ada koneksi internet."
Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Teheran melaporkan sedikitnya 329 WNI yang telah melapor dan tercatat. KBRI Teheran saat ini fokus memastikan keselamatan WNI.
"Konsentrasi KBRI Teheran saat ini adalah terus melakukan komunikasi dua arah dengan seluruh warga negara Indonesia yang ada di Iran, di seluruh kota," kata Duta Besar Luar Biasa Indonesia untuk Iran dan Turkmenistan, Roy Soemirat dikutip Kompas.com.
Ia menambahkan, saat ini komunikasi dari WNI di Iran sangat vital untuk menentukan langkah perlindungan yang tepat.
- Cerita keluarga WNI yang anaknya menetap di Iran 'Sudah lima hari tak bisa dihubungi, saya selalu berdoa agar mereka baik-baik saja'
- WNI di Iran 'khawatir tidak bisa selesaikan kuliah', pemerintah siapkan rencana evakuasi
- Harapan dan ketakutan warga Iran soal potensi serangan AS 'Bebas dari rezim atau jatuh ke perang saudara?'
"Komunikasi ini sangat penting untuk kami dapat memberikan assessment yang paling tepat untuk memberikan bantuan dan perlindungan yang dibutuhkan oleh para WNI," katanya.
Ia mengklaim seluruh simpul WNI telah dihubungi/menghubungi dari pelbagai kota di Iran. Kata dia, hingga Sabtu siang (28/02) waktu Iran, WNI yang tercatat ini "tidak mengalami atau merasakan adanya ancaman langsung". Meski demikian, KBRI tetap mengimbau kewaspadaan.
KBRI Teheran juga berkomunikasi dan berkoordinasi dengan Kemenlu di Jakarta untuk memantau perkembangan dan mengambil tindakan.
Serangan AS-Israel terhadap Iran yang dimulai Sabtu (28/02) telah menewaskan 201 orang dengan 747 terluka, menurut Bulan Sabit Merah Iran. Sedikitnya 148 orang tewas setelah serangan yang dilaporkan menghantam sebuah sekolah di Iran selatan, menurut pejabat setempat.