- RI hapus tarif 99% barang AS, namun produk RI ke AS tetap kena tarif tinggi 19%.
- Kesepakatan bisnis RI-AS capai US$38,4 miliar mencakup pangan, mineral, dan chip.
- Media internasional soroti perjanjian dagang yang dinilai sangat menguntungkan pihak AS.
Suara.com - Kesepakatan dagang terbaru antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) tengah menjadi sorotan tajam dunia internasional.
Pasalnya, sejumlah media raksasa asal Negeri Paman Sam menyebut perjanjian tarif resiprokal yang diteken di Washington D.C., Kamis (19/2/2026) lalu, memberikan keuntungan luar biasa besar bagi pihak AS.
Melansir laporan Associated Press , Gedung Putih mengonfirmasi bahwa Indonesia, sebagai kekuatan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, telah sepakat untuk menghapus tarif bagi 99 persen barang asal Amerika.
Namun, yang menjadi ironi adalah sikap AS yang tetap kukuh mempertahankan tarif tinggi bagi produk-produk asal Tanah Air.
"Berdasarkan kesepakatan tersebut, Indonesia akan menghapus tarif untuk 99% barang Amerika, sementara AS akan mempertahankan tarif untuk sebagian besar barang Indonesia sebesar 19%," tulis laporan AP News mengutip keterangan resmi Gedung Putih, sebagaimana dilihat, Jumat (27/2/2026).
Besaran tarif 19% yang dibebankan AS kepada Indonesia ini setara dengan tarif yang mereka tetapkan untuk Kamboja dan Malaysia. Tak hanya soal tarif, Jakarta juga berkomitmen menghapus hambatan non-tarif serta melonggarkan pembatasan ekspor mineral kritis dan komoditas industri lainnya ke AS.
Selain relaksasi tarif, sektor swasta kedua negara juga menyepakati 11 komitmen bisnis dengan nilai fantastis mencapai US$38,4 miliar (setara Rp600 triliun lebih).
Investasi dan kesepakatan dagang ini mencakup pembelian kedelai, jagung, kapas, dan gandum dari petani AS, kerja sama mineral kritis dan pemulihan ladang minyak, usaha patungan (joint venture) dalam pengembangan chip komputer.
Senada dengan AP News, media bergengsi lainnya seperti New York Times, Reuters, hingga The Diplomat kompak menyuarakan narasi serupa. Mereka menyoroti bagaimana posisi tawar Indonesia tampak melunak dengan memberikan akses pasar yang nyaris tanpa hambatan bagi produk-produk Amerika.
Baca Juga: Berapa Daya Angkut Pick Up Mahindra Scorpio? Akan Dipakai Agrinas, Unggul dari Suzuki Carry
Banyak analis menilai, komitmen Indonesia untuk memborong produk AS dan membuka keran ekspor mineral kritis menjadi "kemenangan diplomatik" yang sangat menguntungkan bagi ekonomi AS di bawah pemerintahan saat ini.
Kini, publik menunggu penjelasan lebih rinci dari pemerintah terkait apa kompensasi strategis yang didapatkan Indonesia di balik angka-angka yang terlihat "jomplang" tersebut.