- BMKG mengimbau masyarakat bersiap menghadapi musim kemarau 2026 lebih awal akibat berakhirnya fenomena La Niña Lemah pada Februari 2026.
- Sebanyak 114 Zona Musim, meliputi Jawa dan NTB, diprediksi memasuki kemarau April 2026 dengan sifat Bawah Normal.
- Puncak kemarau diperkirakan Agustus 2026; petani dan pemerintah daerah diminta segera menyesuaikan jadwal dan meningkatkan kesiapsiagaan.
Suara.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat untuk bersiap menghadapi musim kemarau tahun 2026 yang diprediksi akan tiba lebih awal dari rerata klimatologinya.
Perubahan pola iklim ini dipicu oleh berakhirnya fenomena La Niña Lemah pada Februari 2026 yang kini telah bergeser ke fase Netral.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa pemantauan anomali iklim di Samudera Pasifik menunjukkan adanya peluang kemunculan El Niño pada pertengahan tahun ini.
“Sementara itu, kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) diprediksi tetap stabil pada fase Netral sepanjang tahun,” kata Faisal dalam keterangan tertulis BMKG, Rabu (4/3/2026).
Peralihan Angin Baratan atau Monsun Asia menjadi Angin Timuran yang merupakan Monsun Australia menjadi penanda utama dimulainya periode gersang tersebut.
BMKG mencatat sebanyak 114 Zona Musim (ZOM) akan mulai memasuki musim kemarau pada April 2026, meliputi wilayah Jawa, NTB, hingga sebagian Kalimantan.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, merinci bahwa sekitar 46,5 persen wilayah Indonesia diprediksi akan mengalami awal kemarau yang maju atau lebih cepat dari biasanya.
“Wilayah yang diprediksi mengalami awal kemarau lebih maju meliputi sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan dan timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku, hingga sebagian wilayah Papua,” paparnya.
Berdasarkan analisis data meteorologi, puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi akan terjadi pada bulan Agustus 2026.
Baca Juga: BMKG: Jabodetabek Bakal Dikepung Hujan Lebat dan Angin Kencang Hingga Sore
Kondisi kering ini diperkirakan akan mendominasi wilayah Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, hingga sebagian besar Pulau Papua.
Sifat musim kemarau kali ini diproyeksikan akan berada pada kategori Bawah Normal atau jauh lebih kering dibandingkan kondisi tahun-tahun sebelumnya.
“Dengan kondisi ini, durasi musim kemarau di 57,2% wilayah Indonesia diprediksi lebih panjang dari normalnya,“ tambah Faisal.
Menanggapi risiko tersebut, para petani diharapkan segera menyesuaikan jadwal tanam dengan memilih varietas tanaman yang lebih hemat air dan tahan terhadap kekeringan.
Pemerintah daerah juga diminta untuk meningkatkan kesiapsiagaan di sektor kehutanan guna mencegah potensi kebakaran hutan dan lahan yang mengancam kualitas udara.
“BMKG menegaskan bahwa seluruh informasi prediksi ini merupakan bentuk peringatan dini (Early Warning) yang harus segera diterjemahkan menjadi aksi nyata (Early Action) oleh para pemangku kepentingan demi meminimalkan risiko bencana kekeringan di Indonesia,” pungkas Faisal.