- Wakil Menteri Iran menyebut China, Rusia, dan Prancis intensif berkomunikasi untuk menghentikan permusuhan di kawasan tersebut.
- Presiden Putin mengajukan usulan penyelesaian politik konflik Iran dan Ukraina melalui pembicaraan langsung dengan Presiden Trump.
- Meskipun upaya damai, Iran melancarkan serangan balasan "Operasi Janji Setia 4" menggunakan rudal berat sebagai perlawanan.
Suara.com - Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, mengungkapkan bahwa sejumlah kekuatan besar dunia, termasuk China, Rusia, dan Prancis, telah menjalin komunikasi intensif dengan Teheran.
Fokus utama pembicaraan tersebut adalah mengupayakan penghentian permusuhan (cessation of hostilities) secepat mungkin.
Gharibabadi menegaskan bahwa syarat utama dari pihak Teheran untuk menyetujui gencatan senjata adalah jaminan mutlak bahwa "tidak ada lagi agresi lanjutan" yang dilancarkan ke wilayah mereka.
Namun, di saat yang sama, ketegangan di lapangan justru menunjukkan dinamika yang berlawanan dengan upaya damai tersebut.
Intervensi Rusia dan Usulan Damai Putin
Presiden Rusia, Vladimir Putin, dilaporkan telah melakukan pembicaraan telepon langsung dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada Senin (9/3/2026) malam.
Ajudan Presiden Rusia, Yury Ushakov, menyatakan bahwa Putin mengajukan sejumlah usulan konkret untuk menyelesaikan konflik di Iran dan Ukraina melalui jalur politik dan diplomatik.
Moskow mendorong penyelesaian cepat berdasarkan hasil komunikasi terbaru Rusia dengan para pemimpin negara Teluk dan Presiden Iran, Masoud Pezehskian.
Langkah ini diambil guna meredam dampak perang yang kian meluas ke stabilitas regional, seperti yang dilaporkan Al Jazeera.
Di sisi lain, Presiden Donald Trump memberikan pernyataan optimis dari Florida bahwa perang ini sudah mendekati akhir.
Trump mengeklaim militer AS sengaja membiarkan beberapa target vital, seperti pembangkit listrik, tidak tersentuh untuk saat ini.
Meski begitu, Trump memperingatkan bahwa AS akan memberikan perlindungan penuh bagi kapal-kapal tanker yang beroperasi di Teluk dan Selat Hormuz melalui asuransi risiko politik dan pengawalan militer.
"Jika Iran menyerang kapal-kapal di bawah perlindungan AS, hasilnya akan sangat fatal," tegas Trump.
Ia juga mengejek langkah Teheran yang menyerang negara tetangganya (Arab Saudi dan UEA) sebagai tindakan "bodoh" yang justru membuat negara-negara Teluk berbalik memihak Amerika Serikat.
Analis senior dari Middle East Institute, Harrison, memberikan catatan kritis terhadap pernyataan Trump. Menurutnya, terdapat ketidaksinkronan antara tujuan militer dan politik.
Trump menyatakan ingin rakyat Iran mengambil alih pemerintahan, namun serangan udara yang menghantam infrastruktur sipil dan pemukiman warga justru berisiko menghilangkan dukungan dari masyarakat lokal.
"Pemerintahan Trump memiliki tujuan militer yang jelas, namun tujuan politiknya masih kabur," ujar Harrison.
Meski pembicaraan damai terus bergulir, situasi di Teheran dan kota-kota besar lainnya seperti Isfahan dan Karaj dilaporkan sangat mencekam.
Ledakan keras terus terdengar setiap beberapa jam, mengguncang bangunan-bangunan di ibu kota. Pemerintah Iran belum merilis detail target yang terkena dampak, namun laporan mengenai jatuhnya korban jiwa di daerah pemukiman terus bermunculan.
Sebagai bentuk perlawanan, Iran meningkatkan intensitas serangannya dengan meluncurkan gelombang ke-33 yang disebut "Operasi Janji Setia 4".
Pihak militer Iran mengeklaim mulai menggunakan rudal berat dengan bobot lebih dari 1.000 kilogram untuk menghantam target di Israel dan pangkalan-pangkalan militer di kawasan regional sebagai balasan atas agresi yang mereka terima.
DISCLAIMER: Berita ini disusun berdasarkan perkembangan situasi global per 10 Maret 2026. Konflik di Iran bersifat sangat dinamis dengan risiko perubahan situasi keamanan yang cepat.