- Komando Pusat AS menghancurkan 16 kapal penebar ranjau Iran di Selat Hormuz menyusul ultimatum Trump, Selasa (10/3/2026).
- Ancaman militer lanjutan akan diterapkan jika Iran tidak segera menyingkirkan ranjau yang telah dipasang di jalur perairan krusial tersebut.
- Militer AS tengah mempertimbangkan opsi pengawalan kapal sipil karena aktivitas pelayaran di Selat Hormuz hampir terhenti total.
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt segera meluruskan informasi tersebut dalam konferensi pers pada Selasa sore.
Ia menegaskan bahwa Amerika Serikat hingga kini belum melakukan pengawalan terhadap kapal tanker minyak maupun kapal jenis apa pun di Selat Hormuz.
Klarifikasi juga disampaikan oleh pihak kementerian terkait.
“Sebuah klip video dihapus dari akun X resmi Sekretaris Wright setelah dipastikan bahwa keterangannya salah oleh staf Departemen Energi,” ujar juru bicara Departemen Energi AS.
Iran Ancam Serang Armada AS
Kegaduhan dan klaim sepihak Wright tersebut memicu reaksi langsung dari Garda Revolusi Iran, yang membantah adanya kapal tanker yang berhasil dikawal oleh militer AS.
Melalui komentar yang disiarkan oleh media pemerintah Iran, Juru Bicara Garda Revolusi Iran Ali Mohammad Naini melontarkan ancaman keras terhadap segala bentuk manuver militer asing di wilayahnya.
“Setiap pergerakan armada AS dan sekutunya akan dihentikan oleh rudal dan drone kami,” tegas Naini.
Reporter: Tsabita Aulia
Baca Juga: Eks Jenderal AS Ungkap Bahaya Nyata Ranjau Iran bagi Kapal Tanker di Selat Hormuz