- Analis militer menganggap keputusan AS-Israel berperang dengan Iran ceroboh karena berisiko menjadi 'Vietnam Kedua' yang merugikan Amerika.
- Meskipun serangan awal AS-Israel berhasil secara taktis, Iran memicu "Jebakan Eskalasi" untuk menyeret AS pada konflik strategis.
- Iran menerapkan 'Eskalasi Horizontal' dengan memperluas konflik ke negara Teluk untuk menaikkan biaya perang bagi Amerika Serikat.
Suara.com - Sejumlah analis militer menilai Amerika Serikat ceroboh saat memutuskan bersama Israel untuk membuka perang melawan Iran. Sebab, negeri para Mullah tersebut bisa menjadi 'Vietnam kedua' yang mempermalukan tentara Pakde Sam.
Konfrontasi bersenjata antara koalisi AS-Israel melawan Iran kini memasuki fase yang sangat krusial dan berbahaya.
Meskipun Washington dan Yerusalem mencatatkan sejumlah keberhasilan taktis di lapangan, para analis militer mulai mencium aroma kegagalan strategis yang serupa dengan pengalaman pahit AS di Vietnam.
Iran tampaknya sengaja merancang konflik ini untuk menjadi rawa yang dalam, mahal, dan melelahkan bagi militer Amerika.
Di atas kertas, serangan udara AS dan Israel terlihat sangat efektif. Mereka berhasil melumpuhkan sejumlah tokoh kunci rezim Teheran, termasuk Ayatollah Ali Khamenei, dan menghancurkan fasilitas militer strategis.
Namun, kemenangan di permukaan ini justru menyembunyikan ancaman yang lebih besar: "Jebakan Eskalasi" atau escalation trap.
Di sinilah Iran memainkan perannya untuk mengubah perang ini menjadi "Vietnam Kedua" bagi Amerika.
![Israel mengebom Teheran Iran, Sabtu (28/2/2026) pagi (kiri) dan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. [Suara.com]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/02/28/43723-israel-bom-iran-teheran-imam-ayatollah-ali-khamenei.jpg)
Memahami Jebakan Eskalasi
Robert Pape, sejarawan AS terkemuka yang ahli dalam keterbatasan kekuatan udara, memperingatkan bahwa keberhasilan awal dalam sebuah kampanye militer sering kali menyesatkan.
Menurutnya, serangan awal mungkin terlihat sempurna secara teknis, namun gagal mencapai tujuan politik jangka panjang.
“Apa yang kita lihat pada serangan awal adalah kesuksesan taktis hampir 100 persen,” ujar Robert Pape, dikutip dari The Guardian, Selasa (17/3/2026),
Namun, ia menambahkan bahwa masalah besar muncul ketika keberhasilan itu tidak diikuti oleh kesuksesan strategis, yang akhirnya menyeret penyerang ke tahap berbahaya.
“Masalahnya adalah ketika hal itu tidak membawa kesuksesan strategis... Anda akan sampai pada tahap kedua dari jebakan tersebut. Penyerang masih memiliki dominasi eskalasi, sehingga ada upaya untuk melipatgandakan kekuatan, yang kemudian menaiki tangga eskalasi dan itu tetap tidak menghasilkan kesuksesan strategis," jelasnya.
Ia melanjutkan, "Kemudian Anda mencapai tahap ketiga, yang merupakan krisis nyata, di mana Anda mempertimbangkan opsi-opsi yang jauh lebih berisiko. Saya akan mengatakan kita berada di tahap kedua, dan di ambang tahap ketiga."
Tahap ketiga yang dimaksud sering kali melibatkan pengiriman pasukan darat secara besar-besaran, sebuah langkah yang secara historis menjadi awal dari bencana militer AS di Asia Tenggara puluhan tahun silam.

Strategi 'Eskalasi Horizontal' Iran
Menghadapi kecanggihan teknologi militer Barat, Teheran tidak membalas dengan kekuatan yang setara di udara.
Sebaliknya, mereka menerapkan 'Eskalasi Horizontal'. Strategi ini bertujuan memperluas cakupan geografis konflik, menyasar negara-negara Teluk, dan meningkatkan biaya perang bagi Washington serta ekonomi global, khususnya melalui gangguan pasokan energi di Selat Hormuz.
Langkah ini dirancang untuk menciptakan tekanan internal bagi sekutu-sekutu AS di kawasan tersebut.
Dengan menyerang fasilitas di negara-negara Teluk, Iran memaksa masyarakat setempat untuk mempertanyakan keberadaan militer Amerika di tanah mereka.
“Mereka memaksa publik di Teluk untuk bertanya: ‘Mengapa kita harus membayar harga dari perang yang tampaknya didorong oleh kebijakan ekspansionis Israel?’” kata Pape.
Strategi ini efektif menciptakan keretakan antara pemerintah negara-negara Arab dengan rakyatnya sendiri.

Psikologi Trump dan Risiko 'Incrementalism'
Di sisi lain, kebijakan luar negeri AS di bawah Donald Trump dianggap terlalu dipengaruhi oleh "ilusi kontrol".
Robert Malley, mantan utusan AS untuk Iran, mencatat bahwa Trump cenderung merasa nyaman berada di tangga eskalasi, yang justru merupakan medan permainan yang diinginkan oleh Teheran.
“Pada suatu saat, saya berasumsi akan ada jalur keluar, tetapi saya bisa membayangkan eskalasi mencapai tingkat yang benar-benar tidak akan kita duga bahkan sebulan yang lalu... pasukan di darat, mengincar infrastruktur dasar, mengambil alih bagian dari Iran, bekerja dengan kelompok etnis Kurdi atau kelompok etnis lainnya. Semua itu bersifat eskalatif dengan cara yang berbeda,” ungkap Robert Malley.
Kekhawatiran terbesar adalah "lereng licin inkrementalisme" (slippery slope of incrementalism). Ini adalah kondisi di mana keterlibatan militer AS bertambah sedikit demi sedikit hingga akhirnya mereka terjebak dalam perang besar yang tidak bisa dimenangkan.
Robert D Kaplan, seorang spesialis urusan luar negeri, memberikan peringatan keras melalui perbandingan sejarah yang nyata.
Ia melihat bahwa lintasan konflik di Iran saat ini memiliki kemiripan yang menakutkan dengan awal mula Perang Vietnam.
“Perang di Vietnam membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk berkembang menjadi perang ukuran menengah... Situasi di Iran mungkin mengikuti lintasan yang serupa,” tulis Robert D Kaplan dalam analisisnya.
Jika skenario ini terus berlanjut, AS mungkin akan mendapati dirinya terlibat dalam perang darat yang kompleks di wilayah Iran yang luas dan bergunung-gunung.
Sementara itu, Iran tidak menunjukkan tanda-tanda akan menyerah. Seperti yang diperingatkan oleh para ahli, Teheran tidak akan menyodorkan kemenangan di atas nampan perak bagi Trump.
Mereka lebih memilih untuk terus memukul titik-titik lemah AS, termasuk potensi serangan terhadap target-target lunak Amerika di luar negeri, guna memastikan bahwa harga yang harus dibayar Washington untuk perang ini menjadi tak tertahankan.