- Serangan udara pada 18 Maret 2026 di ladang gas South Pars/North Dome diduga melibatkan Israeli Air Force dan AS.
- Serangan tersebut mengakibatkan gangguan 12 persen produksi gas Iran serta menghentikan operasi dua kilang besar.
- Ladang gas bersama Iran dan Qatar ini menyimpan hampir seperlima cadangan gas dunia dan berdampak pada pasar energi global.
Total luasnya mencapai sekitar 9.700 km², menjadikannya salah satu aset energi paling strategis secara global.
Produksi gas dari sisi Qatar mencapai sekitar 18,5 miliar kaki kubik per hari pada awal 2026.
Angka ini menyumbang sekitar 80 persen pendapatan negara tersebut dan memasok sekitar 20 persen kebutuhan LNG dunia.
Sebaliknya, Iran hanya memproduksi sekitar 2 miliar kaki kubik per hari.
Kesenjangan ini kerap dikaitkan dengan sanksi internasional, isolasi, serta masalah manajemen di sektor energi Iran.
Dampak Global Langsung
Serangan tersebut langsung mengguncang pasar energi dunia. Harga minyak melonjak dari 103 dolar menjadi 108 dolar per barel hanya dalam waktu singkat.
Di Eropa, harga gas naik sekitar 7 persen karena kekhawatiran eskalasi konflik di kawasan Teluk.
![Ladang gas raksasa South Pars/North Dome Gas-Condensate Field kembali jadi sorotan dunia setelah serangan udara mengguncang fasilitas energi vital tersebut. [Tangkap layar X]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/03/19/16004-ladang-gas-south-pars.jpg)
Iran juga menghentikan pasokan gas ke Irak, negara yang bergantung pada Iran untuk hingga 40 persen kebutuhan energi. Langkah ini memperbesar potensi krisis energi regional.
Perebutan Energi dan Geopolitik
Selain nilai ekonominya, ladang ini memiliki dampak geopolitik besar.
Ketimpangan produksi antara Iran dan Qatar bahkan menyebabkan migrasi gas alami ke sisi Qatar akibat tekanan reservoir yang lebih tinggi.
Para analis menilai serangan ini bisa memicu ketegangan baru di Timur Tengah, khususnya terkait infrastruktur energi.
Dengan cadangan raksasa dan peran vitalnya dalam pasokan energi dunia, masa depan ladang ini kini menjadi perhatian utama komunitas internasional.
Kontributor: Azka Putra