Ketidakadilan Gender: Mengapa Perempuan Paling Dirugikan Atas Krisis Air?

Bimo Aria Fundrika

Jum'at, 20 Maret 2026 | 12:29 WIB
Ketidakadilan Gender: Mengapa Perempuan Paling Dirugikan Atas Krisis Air?
Perempuan yang mencari sumber air (Freepik/freepik)

Suara.com - Air adalah salah satu sumber kehidupan. Namun, bagi jutaan anak perempuan, air sering kali menjadi penghalang bagi mimpi-mimpi mereka. Laporan terbaru dari The Guardian mengungkap sebuah ketidakadilan, yakni perempuan dan anak perempuan hingga saat ini menjadi pihak yang paling menanggung beban terberat dari krisis air global yang diperparah oleh perubahan iklim.

Perempuan bukan hanya korban dari mengeringnya sumber air global, tapi juga menjadi pihak yang paling sedikit dilibatkan dalam solusinya. Padahal, data menunjukkan bahwa ketika perempuan diberikan akses dan pengambilan keputusan terkait air, seluruh komunitas akan bertumbuh menjadi lebih sehat.  

Krisis Iklim yang Diskriminatif

Menurut laporan baru dari PBB, perubahan iklim bukan sekadar masalah lingkungan, melainkan mesin kemiskinan bagi perempuan. Data menunjukkan bahwa kenaikan suhu sebesar 1 derajat Celcius saja mampu mengurangi pendapatan rumah tangga yang dipimpin perempuan sebesar 34% lebih banyak daripada rumah tangga yang dipimpin laki-laki.

Selain faktor ekonomi, krisis air memakan waktu yang sangat berharga. Secara kolektif, perempuan di seluruh dunia menghabiskan 250 juta jam setiap hari hanya untuk mengambil air.

Saat sumber air mengering akibat cuaca ekstrem, beban ini menjadi meningkat. Jam kerja mingguan perempuan rata-rata bertambah 55 menit dibandingkan laki-laki. Waktu yang hilang ini seharusnya bisa digunakan untuk pendidikan, mengasuh anak, atau aktivitas ekonomi produktif lainnya.

Dampak Bagi Pendidikan dan Kesehatan

Laporan dari The World Water Development menemukan bahwa kurangnya akses air dan sanitasi dapat menghambat pembangunan sosial secara sistematis. Di 40 negara berpenghasilan rendah, sekitar 10 juta remaja putri terpaksa absen dari sekolah atau kegiatan sosial karena tidak adanya fasilitas toilet yang layak.

Tak hanya itu, the head of public health policy at the charity WaterAid, Helen Hamilton juga menyoroti risiko keselamatan yang mungkin terjadi. Ketika sumber air semakin jauh dan langka akibat iklim yang tidak menentu, perempuan bisa saja mengalami risiko kekerasan berbasis gender karena harus berjalan jauh ke wilayah terpencil untuk mencari air bagi keluarga mereka.

baca juga

Belajar dari Rumate, Kenya

Meski tantangannya terlihat sangat sulit, solusi nyata mulai bermunculan ketika perempuan tidak lagi dipandang sebagai korban, melainkan sebagai pengelola. UNESCO menegaskan bahwa untuk mendorong pembangunan berkelanjutan, maka perempuan juga harus dilibatkan untuk berpartisipasi dalam tata kelola air.

Bukti nyata keberhasilan ini dicatat oleh World Vision charity di wilayah Rumate, Kenya. Di sana, para perempuan yang dulunya menghabiskan waktu empat jam per hari untuk mencari air, kini dilibatkan langsung dalam pengeboran sumur dan pembangunan infrastruktur. Hasilnya, anak-anak di wilayah tersebut kini menjadi lebih sehat dan terbebas dari malnutrisi karena akses air bersih yang sudah terjamin. Lebih dari itu, para ibu juga memiliki waktu untuk memulai usaha kecil.

Mengakhiri Ketidakadilan

The global director for water at World Vision, Parvin Ngala menekankan bahwa norma sosial sering kali gagal menghargai usaha perempuan terkait akses mendapatkan air. Padahal, ketika akses air diberikan secara adil, seluruh komunitas akan mendapatkan manfaatnya.

Memperjuangkan hak air bagi perempuan bukan sekadar memenuhi kebutuhan dasar, melainkan sebagai upaya membangun ketahanan sebuah bangsa untuk menghadapi masa depan dunia dan alam yang semakin tidak menentu. Seperti yang ditegaskan oleh PBB, air bersih bukan lagi kemewahan, melainkan fondasi bagi kesehatan, pendidikan, dan kesempatan ekonomi yang setara bagi semua.

Penulis: Vicka Rumanti

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Sekretariat Wapres Dorong UMKM dan Pelaku Ekonomi Perempuan Naik Kelas

Sekretariat Wapres Dorong UMKM dan Pelaku Ekonomi Perempuan Naik Kelas

News | Kamis, 19 Maret 2026 | 18:03 WIB

Studi: 58 Persen Orang Lebih Utamakan Lingkungan daripada Pertumbuhan Ekonomi

Studi: 58 Persen Orang Lebih Utamakan Lingkungan daripada Pertumbuhan Ekonomi

News | Kamis, 19 Maret 2026 | 12:35 WIB

Menjadi Ibu pun Tetap Bisa Menjadi Diri Sendiri: Ulasan Buku Empowered ME

Menjadi Ibu pun Tetap Bisa Menjadi Diri Sendiri: Ulasan Buku Empowered ME

Your Say | Rabu, 18 Maret 2026 | 16:45 WIB

Terkini

Mosi Tidak Percaya! Jajaran Wakasek dan Guru SMPN di Subang Mundur Massal

Mosi Tidak Percaya! Jajaran Wakasek dan Guru SMPN di Subang Mundur Massal

Jabar | Rabu, 05 Agustus 2026 | 00:11 WIB

Lolos ke Final Usai Singkirkan Persija, Lucho Keluhkan Lapangan Dipta yang Keras dan Kering

Lolos ke Final Usai Singkirkan Persija, Lucho Keluhkan Lapangan Dipta yang Keras dan Kering

Jabar | Rabu, 05 Agustus 2026 | 00:02 WIB

Singkirkan Arema FC, Persebaya Tantang Persib di Final Piala Presiden 2026

Singkirkan Arema FC, Persebaya Tantang Persib di Final Piala Presiden 2026

Bola | Selasa, 04 Agustus 2026 | 23:55 WIB

Apa Itu Registration Ban FIFA? Ini Penyebab Klub Sriwijaya FC Bisa Dilarang Daftar Pemain

Apa Itu Registration Ban FIFA? Ini Penyebab Klub Sriwijaya FC Bisa Dilarang Daftar Pemain

Sumsel | Selasa, 04 Agustus 2026 | 23:42 WIB

Jejak Kasus Haji Halim Ali, Dari Pengusaha Besar hingga Ahli Waris Kembalikan Rp127 Miliar

Jejak Kasus Haji Halim Ali, Dari Pengusaha Besar hingga Ahli Waris Kembalikan Rp127 Miliar

Sumsel | Selasa, 04 Agustus 2026 | 23:26 WIB

Modus Penimbun Pertalite Terbongkar, Isi BBM Berulang Pakai Barcode Berbeda di SPBU

Modus Penimbun Pertalite Terbongkar, Isi BBM Berulang Pakai Barcode Berbeda di SPBU

Sumsel | Selasa, 04 Agustus 2026 | 22:55 WIB

Geger Temuan Mayat Mutilasi dalam Karung Beras di Pancoran Mas Depok

Geger Temuan Mayat Mutilasi dalam Karung Beras di Pancoran Mas Depok

Jabar | Selasa, 04 Agustus 2026 | 22:53 WIB

Jelang HUT ke-81 RI, Masjid Indonesia Pertama di Kanada Barat Resmi Berdiri

Jelang HUT ke-81 RI, Masjid Indonesia Pertama di Kanada Barat Resmi Berdiri

Lifestyle | Selasa, 04 Agustus 2026 | 22:52 WIB

Diduga Bawa Kabur Kamera Rp200 Juta, DJ Wanita dan Suaminya Dipolisikan di Bogor

Diduga Bawa Kabur Kamera Rp200 Juta, DJ Wanita dan Suaminya Dipolisikan di Bogor

Jabar | Selasa, 04 Agustus 2026 | 22:46 WIB

5 Perubahan Contact Center di Era Generative AI, Tak Lagi Sekadar Layanan Pengaduan

5 Perubahan Contact Center di Era Generative AI, Tak Lagi Sekadar Layanan Pengaduan

Lifestyle | Selasa, 04 Agustus 2026 | 22:42 WIB

×