Studi: Karbon Biru Bisa Tekan Emisi Dunia, Mengapa Banyak Negara Belum Menggunakannya?

Bimo Aria Fundrika

Kamis, 26 Maret 2026 | 11:55 WIB
Studi: Karbon Biru Bisa Tekan Emisi Dunia, Mengapa Banyak Negara Belum Menggunakannya?
Ilustrasi perbatasan laut dan hutan mangrove (Freepik/freepik)

Suara.com - Sebuah penelitian internasional yang diterbitkan dalam jurnal Nature Ecology & Evolution menyoroti adanya hambatan kritis dalam pemanfaatan ekosistem karbon biru (blue carbon ecosystems (BCEs)) untuk mengatasi perubahan iklim global. Studi ini melibatkan tim peneliti lintas negara, termasuk dari Universitas St Andrews, RMIT Australia, dan International Atomic Energy Agency (IAEA).

Dikutip dari phys.org, laporan ini merumuskan agenda global yang bertujuan mempercepat kemajuan di bidang blue carbon ecosystems. Melalui identifikasi pertanyaan-pertanyaan yang paling mendesak, penelitian ini diharapkan dapat menjadi panduan bagi para pengambil kebijakan dalam mengelola ekosistem pesisir secara lebih efektif dan adil di seluruh dunia.

Kesenjangan Potensi dan Implementasi Nasional

Berdasarkan data yang dipaparkan dalam penelitian tersebut, ekosistem karbon biru memiliki kapasitas untuk mengimbangi sekitar 1% hingga 3% dari total emisi gas rumah kaca global melalui upaya konservasi dan restorasi yang tepat. Namun, pemanfaatan potensi ini dinilai belum optimal jika dilihat dari integrasi kebijakan di berbagai negara.

Data menunjukkan bahwa dari seluruh negara yang memiliki potensi signifikan untuk berkontribusi pada mitigasi iklim, hanya sekitar 20% yang saat ini memasukkan komponen karbon biru ke dalam Laporan Inventaris Nasional mereka. Hal ini menandakan bahwa terdapat celah yang signifikan dalam pemenuhan peluang yang ditawarkan di bawah kerangka Perjanjian Paris. Kemajuan teknologi dalam pengukuran stok dan fluks karbon yang telah berkembang turut mendorong minat global serta mempercepat upaya penelitian, memperkuat hubungan antara sains, kebijakan, dan tindakan di lapangan.

10 Pertanyaan Prioritas

Makalah ini disusun melalui latihan penetapan prioritas yang melibatkan peneliti dari 15 institusi berbeda. Proses ini mencakup kontribusi dari akademisi senior, peneliti muda, hingga masyarakat adat untuk memastikan keberagaman perspektif.

Dari total 116 submisi yang masuk, para ahli menyaring dan menetapkan sepuluh pertanyaan penting yang akan mendefinisikan arah riset karbon biru di masa depan. Fokus utama dari pertanyaan-pertanyaan tersebut mencakup mekanisme pengelolaan ekosistem pesisir dalam skala besar, integrasi perlindungan habitat melalui dukungan terhadap mata pencaharian masyarakat lokal, dan penguatan bukti ilmiah untuk mendukung tata kelola kawasan konservasi yang kredibel.

Penulis utama, Profesor Peter Macreadie dari RMIT Australia menyatakan bahwa bidang ini telah mengalami pergeseran cepat menuju fokus pada implementasi, tata kelola, dan kesetaraan. Hal ini menuntut adanya kesepakatan internasional mengenai langkah-langkah yang paling krusial untuk diambil dalam waktu dekat.

baca juga

Integrasi Pengetahuan Tradisional dan Kolaborasi Multilateral

Salah satu poin penting yang juga ditekankan dalam studi ini adalah penggabungan antara pengetahuan ekologi tradisional dengan data akademis. Dr. Hannah Morrissette dari Smithsonian Environmental Research Center mencatat bahwa pelestarian ekosistem karbon biru harus didasarkan pada konteks lokal agar mencapai efektivitas maksimal. Strategi yang kuat secara ilmiah perlu berjalan selaras dengan tanggung jawab terhadap masyarakat pesisir yang bergantung pada ekosistem tersebut.

Salah satu penulis, Profesor Pere Masque-Barri, dari International Atomic Energy Agency (IAEA) mengatakan bahwa dari 30 ilmuwan di seluruh dunia ini memungkinkan para peneliti untuk mengembangkan peta jalan internasional dalam penelitian karbon biru, yang mencerminkan komitmen IAEA terhadap penelitian kelautan tingkat tinggi dan pembangunan kapasitas di seluruh dunia.

Desakan Aksi

Penelitian ini dipublikasikan ketika dunia melewati titik tengah Dekade Ilmu Kelautan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk pembangunan berkelanjutan. Profesor William Austin menekankan bahwa kebutuhan akan kerja sama multilateral saat ini menjadi lebih mendesak dibandingkan sebelumnya guna memastikan perlindungan dan pemulihan habitat karbon biru di seluruh dunia dapat berjalan sesuai target mitigasi iklim global.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Benarkah Naik Transportasi Umum Bisa Efektif Kurangi Emisi?

Benarkah Naik Transportasi Umum Bisa Efektif Kurangi Emisi?

News | Kamis, 26 Maret 2026 | 10:47 WIB

Lapangan Tenis Tanah Liat Hijau Ternyata Bisa Jadi Solusi Serap Karbon, Bagaimana Caranya?

Lapangan Tenis Tanah Liat Hijau Ternyata Bisa Jadi Solusi Serap Karbon, Bagaimana Caranya?

Lifestyle | Selasa, 24 Maret 2026 | 17:00 WIB

Mudik Gratis BUMN 2026: PLN Berangkatkan 12.500 Pemudik Sekaligus Tekan Emisi

Mudik Gratis BUMN 2026: PLN Berangkatkan 12.500 Pemudik Sekaligus Tekan Emisi

Bisnis | Jum'at, 20 Maret 2026 | 13:57 WIB

Terkini

Kasus PETI Kuansing, Polisi Sita Ratusan Gram Perhiasan di Toko Emas Kampar

Kasus PETI Kuansing, Polisi Sita Ratusan Gram Perhiasan di Toko Emas Kampar

Riau | Selasa, 11 Agustus 2026 | 21:47 WIB

Transisi Energi Berwajah Hijau Jadi Modus Baru Perampasan Ruang Hidup

Transisi Energi Berwajah Hijau Jadi Modus Baru Perampasan Ruang Hidup

News | Selasa, 11 Agustus 2026 | 21:31 WIB

Korupsi Tak Cukup Dibalas Tangkap: Kejar Uang, Jaringan, dan Penikmatnya

Korupsi Tak Cukup Dibalas Tangkap: Kejar Uang, Jaringan, dan Penikmatnya

News | Selasa, 11 Agustus 2026 | 21:19 WIB

Senpi Dinas Diduga Dipakai Mantan Istri Bunuh Diri, Bripka Iman Harefa Resmi Masuk Patsus

Senpi Dinas Diduga Dipakai Mantan Istri Bunuh Diri, Bripka Iman Harefa Resmi Masuk Patsus

News | Selasa, 11 Agustus 2026 | 21:15 WIB

Dua Biodigester Bakal Dibangun di Jakarta Utara, Dapat Hasilkan Energi dan Pupuk Organik

Dua Biodigester Bakal Dibangun di Jakarta Utara, Dapat Hasilkan Energi dan Pupuk Organik

News | Selasa, 11 Agustus 2026 | 21:13 WIB

PTBA Perkuat Kemandirian Ekonomi Warga Lahat lewat Budidaya Ayam Petelur

PTBA Perkuat Kemandirian Ekonomi Warga Lahat lewat Budidaya Ayam Petelur

Sumsel | Selasa, 11 Agustus 2026 | 21:09 WIB

Tak Mau Berpolitik Tanpa Data, Megawati Sebut Riset dan Sains Vital bagi Pergerakan Partai

Tak Mau Berpolitik Tanpa Data, Megawati Sebut Riset dan Sains Vital bagi Pergerakan Partai

News | Selasa, 11 Agustus 2026 | 21:08 WIB

Pinka Harprani Dilantik Megawati Pimpin Sayap Partai TMP, Bawa Misi Gaet Suara Anak Muda

Pinka Harprani Dilantik Megawati Pimpin Sayap Partai TMP, Bawa Misi Gaet Suara Anak Muda

News | Selasa, 11 Agustus 2026 | 21:00 WIB

Rawat Alam di Tengah Aktivitas Industri, Kilang Plaju Konsisten Lestarikan Keanekaragaman Hayati

Rawat Alam di Tengah Aktivitas Industri, Kilang Plaju Konsisten Lestarikan Keanekaragaman Hayati

Sumsel | Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:45 WIB

6 Tanda-Tanda Rumah Memiliki Energi Positif Chi yang Membuat Penghuni Tenang

6 Tanda-Tanda Rumah Memiliki Energi Positif Chi yang Membuat Penghuni Tenang

Lifestyle | Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:38 WIB

×