Lapangan Tenis Tanah Liat Hijau Ternyata Bisa Jadi Solusi Serap Karbon, Bagaimana Caranya?

Bimo Aria Fundrika

Selasa, 24 Maret 2026 | 17:00 WIB
Lapangan Tenis Tanah Liat Hijau Ternyata Bisa Jadi Solusi Serap Karbon, Bagaimana Caranya?
Ilustrasi lapangan tenis tanah liat hijau (Freepik/freepik)

Suara.com - Pemilihan material pada lapangan tenis ternyata tidak hanya soal performa permainan, tetapi juga berkaitan dengan isu lingkungan. Studi terbaru menunjukkan bahwa jenis permukaan lapangan dapat berkontribusi dalam mengurangi emisi karbon dioksida (CO2) di atmosfer.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Applied Geochemistry mengungkap bahwa penggunaan tanah liat hijau pada lapangan tenis mampu menyerap karbon dioksida. Laporan dari Phys.org menyebutkan, temuan ini menyoroti potensi material konstruksi fasilitas olahraga sebagai bagian dari solusi penanganan krisis iklim.

Kemampuan ini terjadi melalui proses kimia yang dikenal sebagai pelapukan batuan yang ditingkatkan. Metode ini memanfaatkan batuan silikat, seperti basal, untuk menangkap karbon dioksida dari udara. Ketika air hujan bereaksi dengan mineral dalam batuan tersebut, terjadi reaksi kimia yang mengikat CO2 dan menyimpannya dalam bentuk yang lebih stabil.

Di Amerika Serikat, lapangan tenis tanah liat hijau umumnya terbuat dari metabasal, yaitu jenis batuan yang memiliki sifat serupa dengan basal dan efektif dalam menyerap karbon. Material ini memungkinkan lapangan tidak hanya berfungsi sebagai sarana olahraga, tetapi juga sebagai penyerap karbon dalam jangka panjang.

Metode Penelitian dan Perhitungan Emisi

Penelitian ini dilakukan oleh ilmuwan bumi Jonathan Lambert dari NYU Gallatin School of Individualized Study bersama Frank J. Pavia dari Washington University. Mereka memetakan 17.178 lapangan tenis tanah liat hijau di Amerika Serikat untuk menghitung potensi penyerapan karbon secara bruto dan neto.

Dalam analisisnya, para peneliti menggunakan model komputasi yang memperhitungkan seluruh siklus hidup lapangan. Perhitungan tersebut mencakup emisi karbon dari proses penambangan dan pengolahan material, transportasi ke lokasi pembangunan, proses konstruksi, hingga pemeliharaan rutin. Selain itu, faktor fisik seperti ukuran butiran batu, suhu lapangan, dan komposisi kimia juga turut dianalisis.

Efisiensi Penyerapan dan Perbandingan dengan Lapangan Keras

Hasilnya menunjukkan bahwa secara kolektif, lapangan-lapangan tersebut mampu menghilangkan sekitar 25.000 metrik ton CO2 setiap tahun. Studi ini juga mengukur waktu yang dibutuhkan lapangan untuk mencapai kondisi emisi nol bersih.

baca juga

Sekitar 80 persen lapangan mampu mencapai titik tersebut dalam waktu kurang dari 10 tahun, sementara 92 persen mencapainya dalam waktu kurang dari 20 tahun. Rata-rata, lapangan tanah liat hijau membutuhkan sekitar 3,5 tahun untuk menjadi negatif bersih.

Dibandingkan dengan lapangan keras berbahan beton, lapangan tanah liat hijau juga memiliki keunggulan dari sisi emisi awal. Emisi yang dihasilkan selama proses konstruksi tercatat 1,6 hingga 3 kali lebih rendah dibandingkan lapangan keras, bahkan sebelum memperhitungkan kemampuan penyerapan karbonnya.

Pengaruh Lokasi dan Faktor Lingkungan

Namun, efektivitas penyerapan karbon ini tidak merata di semua lokasi. Faktor geografis, terutama suhu, sangat memengaruhi laju pelapukan batuan. Lapangan yang berada di wilayah dengan suhu lebih hangat cenderung memiliki tingkat penyerapan karbon yang lebih tinggi. Sebaliknya, lapangan di wilayah dingin menunjukkan kinerja yang lebih rendah.

Selain itu, faktor logistik juga berperan. Lapangan yang berlokasi dekat dengan pusat pengolahan basal, seperti di Virginia, memiliki efisiensi penyerapan yang lebih tinggi karena emisi dari transportasi material lebih rendah. Sebaliknya, sejumlah lapangan di wilayah terpencil dan bersuhu rendah diperkirakan sulit mencapai status emisi nol bersih.

Peluang Infrastruktur Olahraga Berkelanjutan

Temuan ini membuka peluang bagi sektor olahraga untuk berkontribusi dalam upaya mitigasi perubahan iklim. Pemilihan material konstruksi, termasuk pada fasilitas olahraga, dapat menjadi bagian dari strategi keberlanjutan yang lebih luas.

Jonathan Lambert menyebut penelitian ini sebagai langkah awal untuk mengembangkan solusi iklim yang lebih praktis dan mudah diterapkan. Ia menilai bahwa optimalisasi komposisi batuan serta pengelolaan pemeliharaan yang lebih baik dapat meningkatkan kapasitas penyerapan karbon di masa depan.

Secara keseluruhan, penggunaan tanah liat hijau pada lapangan tenis dinilai sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan dibandingkan lapangan keras berbasis semen. Selain mengurangi emisi sejak tahap konstruksi, material ini juga memiliki kemampuan aktif dalam menyerap karbon, menjadikannya salah satu opsi yang layak dipertimbangkan dalam pembangunan infrastruktur olahraga berkelanjutan.

Penulis: Vicka Rumanti

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Bukan Hanya Pepohonan, Tanah Hutan Tua Ternyata Penyimpan Karbon Terbesar di Bumi

Bukan Hanya Pepohonan, Tanah Hutan Tua Ternyata Penyimpan Karbon Terbesar di Bumi

News | Jum'at, 20 Maret 2026 | 13:30 WIB

Indonesia Uji Model Data Karbon Global, Jawab Krisis Transparansi Pasar

Indonesia Uji Model Data Karbon Global, Jawab Krisis Transparansi Pasar

News | Selasa, 17 Maret 2026 | 16:10 WIB

Jadi Traveler Bijak: Ikuti 7 Tips Ini Biar Liburanmu Ramah Lingkungan!

Jadi Traveler Bijak: Ikuti 7 Tips Ini Biar Liburanmu Ramah Lingkungan!

Lifestyle | Selasa, 17 Maret 2026 | 11:31 WIB

Terkini

Cara Cari Restoran Terdekat untuk Pesan Makanan Online, Jangan Cuma Lihat Rating

Cara Cari Restoran Terdekat untuk Pesan Makanan Online, Jangan Cuma Lihat Rating

Lifestyle | Rabu, 23 September 2026 | 00:09 WIB

Pengendara Harap Bersiap, Dishub Bogor Terapkan Pengalihan Arus di Sukaraja Besok

Pengendara Harap Bersiap, Dishub Bogor Terapkan Pengalihan Arus di Sukaraja Besok

Bogor | Selasa, 22 September 2026 | 23:29 WIB

vivo X500 Series Sudah Meluncur di China, Kapan Masuk Indonesia? Ini Jawaban vivo

vivo X500 Series Sudah Meluncur di China, Kapan Masuk Indonesia? Ini Jawaban vivo

Tekno | Selasa, 22 September 2026 | 23:19 WIB

Hujan Turun di Palembang, Apakah Kabut Asap Benar-Benar Hilang?

Hujan Turun di Palembang, Apakah Kabut Asap Benar-Benar Hilang?

Sumsel | Selasa, 22 September 2026 | 23:15 WIB

Harga Timah Tembus US$54.250, Kenapa Komoditas Ini Makin Diburu Dunia?

Harga Timah Tembus US$54.250, Kenapa Komoditas Ini Makin Diburu Dunia?

Sumsel | Selasa, 22 September 2026 | 23:02 WIB

Janjian Balap Liar via WhatsApp, 4 Pemuda Diamankan Polres Cianjur

Janjian Balap Liar via WhatsApp, 4 Pemuda Diamankan Polres Cianjur

Jabar | Selasa, 22 September 2026 | 23:01 WIB

AI Mulai Masuk Bisnis Pelajar, 6.125 Siswa Dibekali Keterampilan Wirausaha Digital

AI Mulai Masuk Bisnis Pelajar, 6.125 Siswa Dibekali Keterampilan Wirausaha Digital

Tekno | Selasa, 22 September 2026 | 23:00 WIB

realme 16 Pro Harry Potter Edition Meluncur, Bawa Teknologi Warna yang Berubah Saat Kena Matahari

realme 16 Pro Harry Potter Edition Meluncur, Bawa Teknologi Warna yang Berubah Saat Kena Matahari

Tekno | Selasa, 22 September 2026 | 22:45 WIB

Bupati Askolani Sebut Bimtek Kepsek Ilegal, Kok Bisa Berujung OTT Polda Sumsel?

Bupati Askolani Sebut Bimtek Kepsek Ilegal, Kok Bisa Berujung OTT Polda Sumsel?

Sumsel | Selasa, 22 September 2026 | 22:40 WIB

BMKG Sebut Hujan Turun Berangsur Guyur Area Karhutla hingga Bulan Oktober

BMKG Sebut Hujan Turun Berangsur Guyur Area Karhutla hingga Bulan Oktober

Video | Selasa, 22 September 2026 | 22:10 WIB

×