- Transaksi mencurigakan besar terjadi sebelum Trump mengumumkan jeda serangan, menghasilkan potensi keuntungan $40–50 juta bagi trader misterius.
- Perdagangan melibatkan kontrak minyak dan S&P futures senilai total $2,76 miliar, terjadi sesaat sebelum pengumuman resmi Trump dirilis.
- Kejadian ini memicu dorongan penyelidikan Wall Street mengenai kemungkinan *insider trading*, meskipun Gedung Putih menolak tuduhan tersebut.
Suara.com - Dunia keuangan dikejutkan oleh transaksi mencurigakan yang terjadi sesaat sebelum Presiden AS, Donald Trump, mengumumkan jeda serangan terhadap Iran.
Sejumlah trader misterius diduga meraup keuntungan hingga 40–50 juta dolar AS atau sekitar Rp800 miliar hanya dalam hitungan menit.
Perdagangan besar-besaran terjadi sekitar pukul 06.50 waktu setempat, jauh sebelum pernyataan Trump dirilis pada dua hari lalu.
Sekitar 7.200 kontrak minyak senilai 760 juta dolar AS berpindah tangan, disusul pembelian 6.000 kontrak S&P futures dengan nilai mencapai 2 miliar dolar AS.
Beberapa menit kemudian, Trump mengunggah pernyataan di Truth Social tentang pembicaraan produktif dengan Iran.
Dampaknya langsung terasa di pasar, harga minyak anjlok 10–15 persen, sementara saham melonjak hingga 4 persen.
![Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melontarkan pernyataan kontroversial terkait rakyat Iran dalam acara penggalangan dana Partai Republik di Washington, 25 Maret 2026. [Tangkap layar X]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/03/26/79389-donald-trump.jpg)
Trader komoditas senior, Mike Khouw, mengaku heran dengan timing transaksi tersebut.
“Orang-orang benar-benar panik. Tidak ada berita yang mengindikasikan pernyataan Trump sebelumnya,” ujarnya dilansir dari NY Post.
Ia memperkirakan pelaku transaksi meraup keuntungan besar dalam waktu singkat.
“Jika mereka menjual setelah unggahan Trump, mereka menghasilkan banyak uang. Tidak buruk untuk 15 menit kerja,” katanya.
Besarnya nilai dan waktu transaksi langsung memicu kecurigaan di Wall Street.
Banyak pihak kini mendorong adanya penyelidikan oleh regulator untuk memastikan tidak ada praktik ilegal seperti insider trading.
Meski demikian, Gedung Putih membantah adanya pelanggaran.
“Setiap insinuasi bahwa pejabat terlibat tanpa bukti adalah tidak berdasar dan tidak bertanggung jawab,” kata juru bicara pemerintah.
Sejumlah analis juga menyebut kemungkinan penggunaan algoritma perdagangan canggih sebagai penyebab.
“Algoritma bisa membaca pola dan memprediksi potensi kabar positif,” jelas Khouw.
Reaksi keras datang dari kalangan politikus AS dan Inggris.
Senator AS Chris Murphy menyebut situasi ini sebagai skandal besar.
“Siapa yang terlibat? Trump? Keluarganya? Ini korupsi yang mencengangkan,” tegasnya.
Sementara itu, politisi Inggris John Glen meminta penyelidikan menyeluruh.
“Ini terlihat sangat tidak biasa. Sangat menjijikkan jika ada yang mengambil keuntungan dari perang,” katanya.
Pakar pasar juga memperingatkan dampak jangka panjang terhadap kepercayaan investor.
“Pasar hanya bekerja jika semua pihak memiliki akses informasi yang sama. Jika tidak, kepercayaan bisa runtuh,” ujar seorang analis pasar.