- Iran berhasil bertahan melawan gempuran AS-Israel melalui strategi perang asimetris dan penguatan karakter nasional.
- AS menyerang target strategis masif, sementara Israel fokus melumpuhkan sumber daya intelektual musuh secara spesifik.
- Indonesia perlu memperkuat karakter bangsa, literasi digital, serta membenahi sistem pertahanan dan intelijen negara.
Suara.com - Konflik di Timur Tengah antara koalisi Amerika Serikat (AS)–Israel melawan Iran memberikan banyak pelajaran berharga bagi Indonesia. Di tengah gempuran militer berteknologi tinggi (high-tech) dari Barat, Iran mampu bertahan berkat kekuatan karakter nasional (character building) dan strategi perang asimetris yang kuat.
Pengamat intelijen dan keamanan nasional, Dr. Stepi Anriani, menyoroti bagaimana perbedaan ideologi dan karakter bangsa memengaruhi strategi perang masing-masing negara.
Stepi mengawali analisisnya dengan membedah karakteristik operasi militer ketiga negara tersebut. Menurutnya, AS dengan sejarah panjang perang sipil dan kebesaran bangsanya cenderung melakukan operasi yang menargetkan hal-hal strategis berskala masif.
"Ketika kita lihat yang disasar (AS) dalam operasi Epic Fury itu adalah hal-hal strategis. Sekitar 4.500 titik (pangkalan militer) disasar, denuklirisasi, hingga rudal. Pokoknya hal-hal strategis yang merepresentasikan kebesaran Amerika," jelas Stepi dalam kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP, pada Kamis (26/3/2026).
Sebaliknya, operasi "Roaring Lion" yang dilancarkan Israel memiliki pendekatan yang lebih spesifik dan mematikan. Stepi menjelaskan bahwa intelijen Israel, seperti Mossad dan Shin Bet, dibentuk dengan mentalitas melindungi bangsanya. Oleh karena itu, target operasi mereka bukanlah fasilitas fisik semata, melainkan otak di balik kekuatan musuh.
"Yang disasar Israel itu periset, penemu, orang-orang pintar, profesor yang bikin rudal dan nuklir. Jadi yang disasar adalah hal-hal kecil, tapi melumpuhkan dan mematikan," ungkapnya.
Stepi juga menegaskan pentingnya membedakan antara Yahudi dan Zionis, karena tidak semua orang Yahudi mendukung agresi militer Israel.
Daya Tahan Iran dan Senjata Murah Mematikan
Di sisi lain, Iran menunjukkan strategi bertahan yang luar biasa lewat operasi True Promise. Alih-alih meladeni peperangan simetris, Iran memilih bertahan secara solid dari gempuran musuh, layaknya formasi bertahan total dalam sepak bola.
"Kami harus bertahan di tengah tekanan dan gempuran. Kalau main bola itu seperti (formasi) 4-4-2, bertahan tapi paten," ujar Stepi.
Kekuatan Iran tidak bertumpu pada alutsista mahal buatan Barat. Teheran justru mengembangkan persenjataan mandiri dengan biaya yang jauh lebih murah (low-cost), namun memiliki daya hancur tinggi.
"Dia bikin persenjataan tidak high-cost. Mungkin kalau dirupiahkan hanya Rp30 juta atau Rp50 juta, tapi bisa menghantam (aset) yang ratusan miliar. Bagaimana (Israel) tidak panik?" paparnya.
Kekuatan Iran ini sangat dipengaruhi oleh pembangunan karakter nasional yang ditanamkan oleh para pemimpinnya, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Hal ini terlihat dari video viral yang menunjukkan kearifan Khamenei saat berinteraksi dengan anak-anak Iran, yang lebih memikirkan nilai-nilai spiritual ketimbang materialistik.
Vibrasi kesederhanaan dan ketokohan Khamenei bahkan mampu memicu simpati global, termasuk dari masyarakat Indonesia.
Tiga Catatan Penting untuk Indonesia
Melihat dinamika perang generasi keenam yang melibatkan siber, artificial intelligence (AI), dan proksi ini, Stepi merumuskan tiga catatan penting yang harus segera dibenahi oleh Indonesia.
Pertama, perlunya memperkuat character building dan nasionalisme generasi muda berlandaskan nilai-nilai Pancasila. Kedua, meningkatkan literasi digital agar masyarakat tidak mudah termakan hoaks dan disinformasi (perang informasi) yang sengaja dihembuskan di media sosial.