Suara.com - Hilangnya hutan tropis bukan lagi sekadar isu lingkungan, tetapi mulai menjelma menjadi ancaman nyata bagi kesehatan manusia. Di banyak wilayah, penebangan hutan secara besar-besaran membuat suhu meningkat dan memperburuk kondisi hidup masyarakat sekitar.
Dikutip dari Phys.org, hutan tropis merupakan hutan yang memiliki tipe panas dan lembap. Oleh karena itu, ketika banyak pohon pada akhirnya ditebangi, maka suhu yang ada di dalamnya akan menjadi lebih panas dari sebelumnya.
Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Climate Change menunjukkan adanya keterkaitan antara hilangnya tutupan hutan hujan dengan peningkatan risiko kesehatan masyarakat secara global. Phys.org juga melaporkan dalam beritanya bahwa penebangan hutan skala besar di wilayah tropis telah membuat ratusan juta orang terpapar suhu lebih tinggi, yang secara langsung meningkatkan risiko stres panas hingga menyebabkan kematian.
Mekanisme Pendinginan Alami Hutan
Hutan tropis mengatur suhu dengan dua mekanisme utama. Yang pertama, memberikan naungan melalui kanopi pohon. Kedua, hutan melakukan proses evapotranspirasi, yaitu pemompaan air dari tanah ke atmosfer yang prosesnya menyerupai cara keringat menguap dari kulit manusia untuk mendinginkan udara di sekitarnya.
Satu pohon tropis besar diperkirakan mampu memberikan efek pendinginan setara dengan beberapa unit pendingin ruangan yang beroperasi secara terus-menerus. Di wilayah seperti Amazon atau Kongo, miliaran pohon bekerja sama mendinginkan seluruh wilayah melalui proses penguapan.
Masyarakat Indonesia yang tinggal di dekat hutan tropis Kalimantan juga menyadari bahwa hutan tropis bermanfaat untuk menjaga suhu lokal agar tetap sejuk. Namun, pada tahun 2024, tercatat lebih dari 6 juta hektar hutan tropis primer hilang karena dihancurkan (luasnya hampir setara dengan Panama). Ini menjadi laju kehilangan tercepat sejak pencatatan dimulai.
Perbandingan Suhu di Wilayah Berhutan dengan Wilayah Deforestasi
Melalui analisis data satelit selama 20 tahun terakhir di Amazon, Kongo, dan Asia Tenggara, peneliti membandingkan perubahan suhu pada wilayah yang berbeda,yakni di wilayah yang telah mengalami deforestasi dengan wilayah terdekat yang masih memiliki hutan.
Wilayah tropis dengan tutupan hutan mengalami peningkatan suhu rata-rata sebesar 0,2°C. Sementara, di wilayah hasil deforestasi, kenaikan suhu terjadi dengan rata-rata sebesar 0,7°C. Data ini menunjukkan bahwa deforestasi dapat mengakibatkan percepatan pemanasan iklim regional hingga tiga kali lebih cepat dibandingkan area yang masih terjaga.
Dampak Paparan, Krisis Kesehatan Hingga Angka Kematian
Penelitian tersebut menemukan bahwa lebih dari 300 juta orang di seluruh wilayah tropis kini mengalami paparan suhu lebih tinggi akibat deforestasi. Distribusi paparan tersebut meliputi Asia Tenggara 122 juta orang (dengan 49 juta orang di Indonesia), Afrika 148 juta orang (dengan 42 juta orang di Republik Demokratik Kongo), serta Amerika Tengah dan Selatan 67 juta orang (dengan 22 juta orang di Brasil).
Peningkatan suhu akibat hilangnya hutan ini memiliki efek negatif, salah satunya menciptakan krisis kesehatan masyarakat. Paparan panas ekstrem diketahui dapat menurunkan produktivitas petani, membatasi durasi aman bekerja di luar ruangan, serta memicu penyakit kardiovaskular.
Dengan menggabungkan data paparan panas dan tingkat kerentanan wilayah, penelitian ini memperkirakan terdapat sekitar 28.000 kematian terkait panas setiap tahun di seluruh daerah tropis yang mengalami deforestasi.
Upaya Mitigasi