- Serangan udara Israel dan Amerika Serikat menghancurkan Sinagoge Rafi-Nia di pusat kota Teheran pada Senin, 6 April malam.
- Ledakan tersebut mengakibatkan kehancuran total bangunan sinagoge serta merusak sejumlah bangunan tempat tinggal yang berada di sekitarnya.
- Gempuran di berbagai wilayah Iran tersebut menewaskan lebih dari 15 orang dan menghancurkan sejumlah fasilitas penting lainnya.
![Tanakh, kitab suci Yahudi, berserakan di antara puing-puing Sinagoge Rafi-Nia, Teheran, Iran, yang hancur dibom Israel, Selasa (7/4/2026). [MEHR News Agency]](https://media.suara.com/pictures/original/2026/04/07/81380-sinagoge-rafi-nia-iran-dibom-israel.jpg)
Jejak Komunitas Yahudi di Iran
Kehancuran Sinagoge Rafi-Nia menjadi sorotan internasional karena posisi unik komunitas Yahudi di Iran.
Yudaisme adalah salah satu agama minoritas yang diakui secara hukum oleh konstitusi Iran.
Meskipun banyak anggota komunitas Yahudi melarikan diri setelah Revolusi Islam 1979, Iran masih menjadi rumah bagi komunitas Yahudi terbesar di Timur Tengah di luar Israel.
Walaupun tidak ada angka resmi yang tersedia secara publik, diperkirakan masih ada beberapa ribu orang Yahudi yang menetap di Iran.
Mereka memiliki perwakilan di parlemen dan menjalankan kehidupan beragama secara aktif.
Surat kabar Shargh menyebut Sinagoge Rafi-Nia sebagai "salah satu tempat paling penting bagi orang Yahudi Khorasan untuk berkumpul dan merayakan hari besar," merujuk pada komunitas Yahudi yang berasal dari provinsi timur laut Iran.
Korban Jiwa Terus Bertambah di Berbagai Kota
Serangan semalam tidak hanya menyasar pusat kota Teheran. Media lokal melaporkan bahwa setidaknya 15 orang tewas di berbagai titik akibat gempuran udara tersebut.
Sementara di kota Pardis, yang terletak di sebelah timur Teheran, enam jenazah telah ditemukan dari bawah reruntuhan bangunan yang terkena hantaman rudal.
Sementara itu, di kota Shahriar yang berada di bagian barat provinsi Teheran, otoritas setempat melaporkan sembilan orang tewas akibat serangan udara Israel yang menghantam kawasan pemukiman warga.
Ketegangan yang terus meningkat ini membuat warga di kota-kota besar Iran berada dalam kondisi siaga tinggi, sementara dunia internasional memperhatikan dengan cemas bagaimana eskalasi ini akan berdampak pada stabilitas global.
Serangan yang menghancurkan tempat ibadah ini menambah dimensi baru dalam narasi konflik Iran-Israel.
Bagi banyak pihak, hancurnya sinagoge oleh serangan yang juga melibatkan Israel dianggap sebagai paradoks yang menyakitkan, di mana simbol-simbol keagamaan justru menjadi korban dalam perebutan kekuasaan geopolitik yang kian memanas.