-
Mojtaba Khamenei dikabarkan dalam kondisi kritis dan tidak sadarkan diri di pusat medis Qom.
-
Intelijen Amerika Serikat mendeteksi adanya potensi pengambilalihan kekuasaan Iran oleh kelompok militer IRGC.
-
Ketidakhadiran pemimpin tertinggi dalam pengumuman gencatan senjata dengan AS memicu keraguan publik internasional.
Dokumen yang dibagikan kepada aliansi Amerika Serikat di kawasan Teluk ini merupakan bocoran pertama mengenai koordinat pasti Khamenei.
The Jerusalem Post juga menyoroti bagaimana situasi ini menciptakan kekosongan kekuasaan yang sangat berbahaya di dalam negeri.
Publik mencatat bahwa Mojtaba Khamenei tidak pernah terlihat secara fisik sejak ia menggantikan mendiang ayahnya pada Februari.
Ayatollah Ali Khamenei sendiri diketahui meninggal dunia akibat operasi serangan udara yang dilancarkan oleh pihak Amerika-Israel.
"Khamenei tetap memegang kendali sebagai pemimpin tertinggi," ujar pejabat Iran yang terus berusaha meyakinkan masyarakat internasional.
Namun klaim para pejabat tersebut bertolak belakang dengan fakta absennya sang pemimpin dalam momen-momen krusial negara.
Banyak pihak mulai meyakini bahwa roda pemerintahan saat ini mungkin sudah dijalankan oleh pihak atau kelompok lain.
Kondisi fisik yang tidak memungkinkan selama beberapa minggu terakhir membuat fungsi kepemimpinan nasional menjadi sangat tidak menentu.
Kini muncul dugaan kuat bahwa Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC telah mengambil alih kekuasaan.
Pengambilalihan secara de facto ini dianggap sebagai langkah darurat untuk menjaga stabilitas negara di tengah krisis kesehatan.
Televisi pemerintah memang sempat menyiarkan dua buah pernyataan yang diklaim berasal langsung dari lisan Mojtaba Khamenei.
Anehnya tidak ada satu pun bukti visual maupun rekaman suara asli yang menyertai pengumuman resmi di televisi tersebut.
Aktivitas terakhir yang terdeteksi hanya berasal dari akun media sosial X miliknya yang mengunggah sebuah pesan duka.
Cuitan tersebut berisi ungkapan belasungkawa atas wafatnya Kepala Intelijen Iran, Mayor Jenderal Sayyid Majid Khademi.
Khademi sendiri dilaporkan tewas dalam sebuah serangan militer yang kembali melibatkan kekuatan gabungan Amerika Serikat serta Israel.