- Presiden Prabowo dan Sufmi Dasco dinilai berhasil memperkuat persatuan nasional melalui kepemimpinan inklusif serta dialog terbuka pada 8 April 2026.
- Pemerintah menolak praktik politik pecah belah guna menghentikan konflik horizontal yang sempat terjadi demi meraih kepentingan kekuasaan sesaat.
- Stabilitas politik domestik memungkinkan pemerintah fokus menjaga ketahanan energi dan swasembada pangan di tengah ancaman krisis ekonomi global.
Suara.com - Duet Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad dinilai berhasil membuktikan pemerintah tidak antikritik dari masyarakat, serta mampu menangkal politik pecah belah untuk meraih kekuasaan.
Haris Rusly Moti, pemrakarsa 98 Resolution Network, mengatakan hal itu menjadi kunci terjaganya persatuan nasional di tengah konflik Timur Tengah yang melihatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat, tak berdampak luas di Indonesia.
"Gaya kepemimpinan Pak Prabowo dan Prof Dasco yang inklusif dan terbuka terhadap dialog, ini penting untuk persatuan nasional. Dasco juga bisa memastikan tak ada pihak yang menggunakan taktik politik devide et impera atau pecah belah," kata Haris Rusly Moti, Rabu (8/4/2026).
Menurutnya, saat banyak negara mengalami destabilisasi akibat benturan geopolitik, Indonesia justru mampu memperkuat persatuan nasional melalui manajemen persaudaraan yang diusung Prabowo serta Dasco.
Haris mengungkapkan, stigma mengenai pemerintah yang anti-kritik adalah sebuah kekeliruan besar.
Ia menyaksikan sendiri bagaimana Dasco secara konsisten membuka ruang komunikasi dengan berbagai pihak, termasuk kelompok-kelompok yang berada di spektrum politik berseberangan.
“Prof Dasco bahkan sering menghadiri forum-forum diskusi formal maupun informal dan mendengar langsung pandangan kritis dari berbagai kelompok yang berbeda spektrum. Sangat tidak beralasan jika ada pihak yang mengatakan pemerintah antikritik dan antidialog,” ujar Haris.
Menolak Warisan Politik Pecah Belah
Strategi politik yang merangkul semua pihak ini, dipandang sebagai antitesis dari praktik politik masa lalu yang sering kali membenturkan masyarakat secara horizontal.
Haris menekankan, Dasco dan Prabowo memiliki visi yang sama untuk menghentikan segala bentuk rekayasa konflik di tengah masyarakat demi kepentingan kekuasaan sesaat.
“Presiden Prabowo maupun Prof Dasco, keduanya tidak menganut aliran politik devide et impera, yang membenturkan secara horisontal masyarakat untuk tujuan memperkuat kekuasaan. Bahkan segala bentuk warisan konflik horisontal yang direkayasa di masa lampau, secara senyap telah diupayakan Presiden Prabowo untuk dihentikan,” jelas Haris.
Langkah ini dianggap sangat krusial mengingat Indonesia saat ini sedang berhadapan dengan dampak ekonomi dari perang Iran versus Israel-Amerika.
Dengan tidak adanya gejolak politik di dalam negeri, pemerintah dapat lebih fokus dalam mengamankan pasokan energi dan mempercepat program swasembada pangan.
Persatuan nasional menjadi benteng utama agar rakyat tidak terjebak dalam krisis kelaparan atau kelangkaan BBM yang saat ini mulai melanda beberapa negara di dunia.