-
Israel meluncurkan seratus serangan udara dalam sepuluh menit di Lebanon yang menewaskan ratusan warga.
-
Agresi militer besar-besaran terjadi di tengah rencana gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat.
-
Konflik memicu gangguan penerbangan internasional dan krisis energi akibat blokade di Selat Hormuz.
Agresi militer ini terjadi tepat setelah munculnya harapan perdamaian melalui pengumuman gencatan senjata pekan ini.
Sebelumnya pihak Iran dan Amerika Serikat telah menyepakati penghentian konflik sementara selama dua minggu penuh.
Langkah diplomatik tersebut sebenarnya dirancang untuk membuka pintu bagi penyelesaian akhir perang besar di kawasan itu.
Konfrontasi ini bermula sejak operasi militer Washington dan Tel Aviv yang menyasar Teheran pada Februari lalu.
Namun aksi sepihak Israel di Dahiyeh kini mengancam keberlangsungan kesepakatan damai yang baru saja diinisiasi tersebut.
Efek dari peperangan ini tidak hanya dirasakan oleh masyarakat di Lebanon namun juga dunia internasional.
Sektor penerbangan global mengalami gangguan serius akibat ruang udara yang tidak aman bagi pesawat komersial.
Krisis energi dunia pun mulai menghantui seiring dengan terganggunya jalur distribusi minyak di Timur Tengah.
Teheran melakukan tindakan balasan dengan membatasi lalu lintas kapal pada jalur strategis di Selat Hormuz.
Langkah Iran tersebut merupakan respons langsung atas agresi militer yang dilakukan oleh aliansi Amerika dan Israel.
Hingga saat ini kondisi di Beirut selatan masih sangat mencekam dengan ancaman serangan susulan yang diprediksi berlanjut.
Banyak warga sipil kini kehilangan tempat tinggal dan harus mengungsi ke wilayah yang lebih aman.
Dunia internasional kini menanti langkah konkret dari badan keamanan dunia untuk segera menghentikan pertumpahan darah ini.
Ketegangan di perbatasan Lebanon dipastikan akan terus meningkat jika tidak ada intervensi diplomatik yang cukup kuat.
Seluruh mata dunia kini tertuju pada nasib warga Lebanon yang terjebak di tengah pusaran konflik besar.