- Iran mengancam akan keluar dari kesepakatan gencatan senjata sementara usai militer Israel melanggar syarat perdamaian dengan membombardir wilayah Lebanon.
- Pejabat Teheran mengultimatum AS agar menertibkan 'anjing gila' Zionis, atau Angkatan Bersenjata Iran akan turun tangan menggunakan kekuatan paksa.
- Meski sepakat berunding di Islamabad berkat mediasi Pakistan, Iran menegaskan tidak pernah percaya pada AS dan tetap menyiagakan militernya.
Di luar dugaan pihak agresor yang mengharapkan kemenangan instan, respons Teheran justru terbukti jauh lebih mematikan dan menimbulkan kerugian besar bagi aset militer musuh.
Kebuntuan di medan tempur pada akhirnya memaksa pihak-pihak yang bertikai untuk menerima mediasi dari pemerintah Pakistan yang menghasilkan jeda pertempuran sementara.
Selama masa jeda ini, perundingan diplomatik rencananya akan dilangsungkan di ibu kota Islamabad dengan membawa sepuluh poin tuntutan utama dari pihak Iran.
Tuntutan krusial tersebut mencakup penarikan mundur seluruh pasukan tempur AS dari kawasan, pencabutan sanksi ekonomi, hingga hak kontrol atas Selat Hormuz.
Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran sebelumnya telah menyatakan bahwa keberhasilan memaksa AS ke meja perundingan merupakan sebuah kemenangan bersejarah bagi bangsa mereka.
Meski demikian, Teheran berulang kali menegaskan bahwa proses negosiasi ini sama sekali bukanlah penanda berakhirnya perang secara total.
Mereka memandang jalur diplomasi ini murni sebagai perpanjangan dari medan pertempuran dengan tetap mempertahankan sikap ketidakpercayaan yang mendalam terhadap niat asli Amerika Serikat.