- Israel melanggar kesepakatan gencatan senjata AS-Iran dengan meluncurkan 100 serangan udara ke Lebanon, menewaskan 254 orang dan melukai 837 lainnya.
- PM Israel Benjamin Netanyahu menegaskan negaranya tak terikat gencatan senjata di Lebanon dan siap melanjutkan perang dengan "jari di pelatuk".
- Menkes Lebanon meminta bantuan medis darurat internasional pasca hancurnya infrastruktur, di tengah upaya mediasi damai Turki, Pakistan, dan Mesir.
“Kami menyerukan bantuan kemanusiaan internasional yang mendesak untuk sistem kesehatan Lebanon. Kami terus menjalin kontak dengan mitra internasional dan negara sahabat kami, seperti Organisasi Kesehatan Dunia, UNICEF, dan Dana Kependudukan PBB, untuk mengamankan pasokan medis yang mendesak, peralatan bedah, dan dukungan farmasi.”
Di sisi lain, Kepala Staf Israel Eyal Zamir kembali menegaskan bahwa militer mereka akan terus memburu kelompok Hizbullah di seluruh penjuru negara tersebut.
Zamir secara terang-terangan menekankan bahwa negaranya akan merebut setiap kesempatan untuk menyerang perlawanan faksi itu terlepas dari adanya kesepakatan damai AS-Iran.
Perang berskala besar ini sendiri bermula dari invasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu yang sempat memicu krisis energi.
Kepanikan dunia baru sedikit mereda ketika sang presiden AS akhirnya mengumumkan persetujuannya untuk menangguhkan serangan pada pukul 1:30 dini hari tanggal 8 April.
Keputusan penindasan perang selama dua minggu itu diambil dengan syarat pembukaan kembali Selat Hormuz serta didasarkan pada proposal perdamaian 10 poin dari Iran.
Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran sebelumnya telah menyatakan bahwa tujuan perang mereka telah tercapai dan berharap perundingan akhir bisa rampung dalam 15 hari di Islamabad.
Keberhasilan membawa kedua kubu yang saling berseteru ke meja perundingan ini nyatanya tidak lepas dari upaya komunikasi yang dimediasi oleh Turki, Pakistan, dan Mesir.