- Maria Katarina Sumarsih memimpin Aksi Kamisan ke-904 di depan Istana Merdeka pada Kamis, 16 April 2026.
- Aksi ini menuntut pertanggungjawaban negara atas tragedi Semanggi I serta seluruh kasus pelanggaran HAM berat di Indonesia.
- Sumarsih mengajak generasi muda tetap kritis dan melanjutkan perjuangan reformasi guna menegakkan keadilan serta demokrasi di Indonesia.
Suara.com - Di bawah payung hitam yang menjadi simbol perlawanan, Maria Katarina Sumarsih kembali berdiri di depan Istana Merdeka. Aksi Kamisan memasuki angka ke-904, menandai lebih dari dua dekade perjuangan tanpa henti menuntut keadilan atas pelanggaran HAM.
Dalam aksi yang digelar Kamis (16/4/2026) itu, Sumarsih—ibu dari korban Tragedi Semanggi I 1998, Bernardinus Realino Norma Irawan (Wawan)—menegaskan bahwa perjuangannya tidak dilandasi dendam, melainkan cinta.
"Ya karena cinta. Kami mencintai Wawan, dan ketika Wawan ditembak terus terang kami mengakui kami bersedih, kami berduka cita," ujar Sumarsih saat ditemui Suara.com usai aksi.
Ia menyebut, duka yang dirasakan keluarga korban telah berubah menjadi energi perjuangan yang lebih luas, tidak hanya untuk kasus Semanggi I, tetapi juga seluruh pelanggaran HAM berat di Indonesia.
"Duka cita kami bertransformasi pada cinta kepada sesama dan yang kami perjuangkan tidak hanya kasus penembakan Wawan dan kawan-kawannya dalam tragedi Semanggi 1 13 November 1998, tetapi semua kasus kekerasan atau semua kasus pelanggaran berat HAM kami perjuangkan agar negara bertanggung jawab," katanya.
![Aksi Kamisan ke-904 di depan Istana Negara, Jakarta, Kamis (16/4/2026). [Suara.com/Dinda]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/16/29894-aksi-kamisan.jpg)
Mengangkat tema “Remiliterisasi Ruang Sipil: Wajah Kegelapan Impunitas Indonesia”, aksi ini juga menjadi panggung kritik terhadap arah demokrasi yang dinilai mengalami kemunduran.
Sumarsih mengingatkan kondisi negara saat ini tidak sedang baik-baik saja dan membutuhkan peran aktif masyarakat, terutama generasi muda.
Ia juga menaruh harapan besar pada keterlibatan anak muda dalam Aksi Kamisan yang dinilai sebagai estafet perjuangan reformasi.
"Ketika aksi Kamisan banyak dihadiri oleh anak-anak muda... saya percaya mereka akan melanjutkan perjuangan gerakan para mahasiswa pada tahun 98 yang salah satu korbannya adalah anak saya, Wawan," ungkapnya.
Kepada generasi muda, Sumarsih berpesan agar tidak apatis dan tetap kritis terhadap informasi.
"Saya berharap agar banyak membaca, banyak mendengarkan informasi, jangan terlalu mudah percaya dengan semua pernyataan-pernyataan tanpa ada dukungan data yang lengkap dan bisa dipertanggungjawabkan,” tuturnya.
Dalam aksi tersebut, tuntutan terhadap negara juga kembali ditegaskannya, termasuk desakan menjalankan agenda reformasi yang dinilai terabaikan.
"Tuntutan kami kepada pemerintah agar melaksanakan 6 agenda reformasi, yang pertama adalah cabut gelar pahlawan nasional Soeharto karena Soeharto adalah koruptor," pungkas Sumarsih.
Reporter: Dinda Pramesti K