-
Serangan udara Israel di Ghazieh menewaskan tujuh orang menjelang masa gencatan senjata berlaku.
-
Donald Trump mengumumkan kesepakatan jeda pertempuran selama sepuluh hari antara Israel dan Lebanon.
-
Jumlah korban luka mencapai 33 orang dan angka kematian masih berpotensi terus meningkat.
Suara.com - Harapan perdamaian di Lebanon selatan hancur seketika akibat agresi militer Israel yang menghantam pemukiman warga di kota Ghazieh.
Insiden berdarah ini terjadi hanya dalam hitungan jam sebelum kesepakatan penghentian kontak gencatan senjata secara resmi dimulai.
Dikutip dari Al Jazeera, tragedi ini menjadi bukti nyata betapa rapuhnya situasi keamanan di wilayah perbatasan meskipun diplomasi internasional sedang diupayakan.
![Potongan video Lebanon diserang Israel [Lebanon 24]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/03/04/99228-lebanon-diserang-israel.jpg)
Laporan resmi menunjukkan bahwa tindakan militer tersebut menyasar area padat yang mengakibatkan dampak kemanusiaan sangat fatal.
Kejadian ini memicu gelombang kemarahan publik Lebanon yang menilai serangan tersebut sebagai upaya sabotase stabilitas kawasan.
Otoritas medis di Lebanon mengonfirmasi bahwa sedikitnya tujuh nyawa melayang akibat ledakan yang menghancurkan struktur bangunan tersebut.
Selain korban jiwa, tercatat sebanyak 33 orang mengalami luka-luka serius dan memerlukan penanganan medis segera di rumah sakit.
Media pemerintah Lebanon melabeli peristiwa memilukan di wilayah selatan tersebut sebagai sebuah "pembantaian terhadap warga sipil".
Petugas penyelamat hingga saat ini masih berjibaku di lapangan untuk membersihkan reruntuhan bangunan yang luluh lantak.
Pihak berwenang mengkhawatirkan jumlah korban akan terus bertambah seiring berjalannya proses evakuasi di titik ledakan.
Status Korban dan Data Kementerian
Kementerian Kesehatan Lebanon menegaskan bahwa angka kematian tujuh orang tersebut masih bersifat informasi awal yang bisa berubah.
Pihak medis menyatakan bahwa jumlah korban adalah "pendahuluan dan belum final" mengingat kondisi kritis beberapa pasien yang dirawat.
Tim forensik terus melakukan identifikasi terhadap jenazah yang berhasil dievakuasi dari bawah tumpukan beton dan material bangunan.
Keluarga korban kini berkumpul di sekitar lokasi kejadian dengan penuh ketidakpastian menunggu kabar kerabat mereka yang hilang.