-
Serangan Israel menewaskan empat warga Gaza termasuk seorang anak saat masa gencatan senjata.
-
Militer Israel mengklaim serangan dilakukan karena warga dianggap melanggar batas aman garis kuning.
-
Total 765 warga tewas sejak gencatan senjata Oktober 2025 akibat pelanggaran militer berulang.
Situasi di lapangan semakin mencekam karena warga merasa tidak ada tempat yang benar-benar aman dari jangkauan senjata.
Bergerak ke wilayah selatan seorang pria berusia 38 tahun bernama Mohsen al-Dabbari juga menjadi sasaran fatal.
Ia tewas seketika setelah diterjang timah panas di area Ard al-Laymoun yang terletak di selatan Khan Younis.
Ketegangan berlanjut saat tentara Israel mengarahkan tembakan ke arah tenda-tenda pengungsi di kamp Al-Maghazi wilayah tengah.
Tiga orang termasuk seorang remaja laki-laki dilaporkan terluka akibat serangan yang menyasar pemukiman darurat tersebut.
Kondisi para pengungsi yang sudah menderita semakin diperparah dengan ancaman serangan mendadak yang terus menghantui mereka.
Realita Pahit Di Balik Garis Kuning
"Garis kuning" merupakan batas penarikan mundur tentara Israel yang secara teknis membelah wilayah Gaza menjadi dua bagian.
Area di timur garis tersebut mencakup sekitar 53 persen wilayah yang berada di bawah kendali penuh militer.
Sayangnya garis demarkasi ini seringkali menjadi titik picu kematian bagi puluhan warga sipil yang dianggap melanggar batas.
Kementerian Kesehatan Gaza mencatat setidaknya 765 orang telah gugur akibat serangan rutin sejak gencatan senjata dimulai.
Selain jumlah korban jiwa terdapat lebih dari 2.140 warga lainnya yang menderita luka-luka akibat aksi kekerasan serupa.
Gencatan senjata yang dimulai 10 Oktober 2025 ini lahir dari puing-puing perang genosida yang berlangsung dua tahun.
Konflik besar sebelumnya telah merenggut lebih dari 72.000 nyawa warga Palestina dan melukai ratusan ribu orang lainnya.
Hampir 90 persen infrastruktur di seluruh wilayah Jalur Gaza telah hancur total akibat pemboman intensif masa lalu.