-
Donald Trump memediasi gencatan senjata 10 hari antara Israel dan Lebanon mulai April 2026.
-
PM Nawaf Salam berterima kasih atas dukungan mediator internasional termasuk Amerika Serikat dan negara Arab.
-
Konflik tersebut telah menyebabkan satu juta orang mengungsi dan merenggut ribuan nyawa di Lebanon.
Suara.com - PM Lebanon Nawaf Salam secara resmi menyambut baik inisiatif penghentian permusuhan antara militer Israel dan pihak Lebanon.
Langkah diplomatik ini diumumkan secara langsung oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebagai upaya mengakhiri konflik bersenjata.
Dikutip dari Al Jazeera, fokus utama dari kesepakatan ini adalah menghentikan baku tembak yang melibatkan Hizbullah di wilayah kedaulatan Lebanon.

Gencatan senjata ini menjadi harapan baru bagi stabilitas keamanan di kawasan perbatasan kedua negara yang terus bergejolak.
Keberhasilan mediasi ini dianggap sebagai titik balik penting dalam peta politik dan keamanan internasional saat ini.
Nawaf Salam menyampaikan apresiasi mendalam melalui platform X kepada seluruh pihak yang membantu proses negosiasi tersebut.
Sejumlah negara seperti Prancis, Arab Saudi, Mesir, Qatar, dan Yordania disebut memiliki peran vital dalam penengahan ini.
Amerika Serikat berada di barisan terdepan dalam merajut dialog antara pihak-pihak yang bertikai selama beberapa bulan terakhir.
Sinergi internasional ini diharapkan mampu menciptakan koridor kemanusiaan yang lebih aman bagi warga sipil di Lebanon.
Keterlibatan aktif negara-negara Arab juga menunjukkan adanya solidaritas regional untuk meredam eskalasi konflik yang lebih luas.
Komunikasi Intensif Trump dan Pemimpin Timur Tengah
Pengumuman besar ini muncul tepat setelah Donald Trump menjalin komunikasi telepon dengan para pemimpin kunci di wilayah tersebut.
Trump berbicara secara intensif dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Lebanon Joseph Aoun guna mencapai kesepakatan.
Dialog tersebut menjadi landasan kuat sebelum kesepakatan resmi mengenai penghentian serangan militer diumumkan ke publik dunia.
Para pemimpin setuju untuk menurunkan tensi militer demi mencegah jatuhnya korban jiwa lebih banyak dari kedua belah pihak.