-
Konflik Iran menyebabkan kenaikan biaya hidup rumah tangga Inggris hingga ratusan poundsterling tahun ini.
-
Harga bensin dan diesel melonjak akibat fluktuasi harga minyak mentah di pasar internasional.
-
Suku bunga hipotek meningkat tajam, menghambat impian warga Inggris memiliki hunian dengan biaya rendah.
Suara.com - Konflik bersenjata yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat telah memberikan pukulan telak bagi stabilitas finansial rumah tangga di Inggris.
Krisis ini menyebabkan pengeluaran rata-rata keluarga usia kerja membengkak hingga ratusan poundsterling sepanjang tahun ini.
Dikutip dari BBC, laju inflasi yang semula diprediksi melandai kini justru berbalik arah akibat ketidakpastian distribusi komoditas global.
![Harga minyak dunia, termasuk di Indonesia terancam naik akibat perang antara Amerika Serikat dan Israel vs Iran di Teluk, yang membuat jalur perdangan minyak dunia di Selat Hormuz tak bisa dilewati. [Suara.com/Syahda]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/03/02/68097-perang-iran-selat-hormuz-dan-harga-minyak-dunia.jpg)
Sektor transportasi dan perumahan menjadi garda terdepan yang paling terdampak oleh fluktuasi pasar internasional ini.
Para ahli memperingatkan bahwa tanpa gencatan senjata permanen, daya beli masyarakat akan terus tergerus secara signifikan.
Kenaikan harga minyak mentah dunia secara otomatis mengerek biaya pengisian tangki kendaraan bagi jutaan pengemudi.
Setiap kenaikan harga grosir minyak sebesar 10 dolar AS berdampak pada tambahan biaya sekitar 7 pence per liter.
Meskipun sempat terjadi tren penurunan sejak pertengahan April, biaya pengisian bensin rata-rata tetap naik belasan poundsterling.
Kondisi ini diperparah oleh gangguan logistik di Timur Tengah yang menghambat kelancaran distribusi energi ke pasar Eropa.
Sektor ritel kini berada di bawah pengawasan ketat regulator untuk memastikan tidak adanya praktik manipulasi harga selama krisis.
Beban Suku Bunga dan Ketidakpastian Sektor Properti
Harapan masyarakat akan penurunan suku bunga pinjaman perumahan atau hipotek kini sirna seiring meningkatnya risiko perang.
Perbankan merespons situasi dengan menaikkan bunga KPR sebagai bentuk antisipasi terhadap biaya pendanaan yang lebih mahal.
"Energi tetap berada jauh di atas level sebelum perang, yang berarti banyak rumah tangga menghadapi penurunan daya beli tahun ini," ujar James Smith, kepala ekonom di lembaga pemikir Resolution Foundation.
Hilangnya ribuan produk hipotek dari pasar mempersempit pilihan konsumen yang ingin mengamankan aset properti mereka.