- Kementerian Perang AS mengonfirmasi 415 tentara terluka dan 13 orang tewas akibat agresi militer di Iran per 21 April 2026.
- Organisasi Kedokteran Legal Iran melaporkan sebanyak 3.375 orang meninggal dunia dalam konflik yang melibatkan Amerika Serikat serta Israel tersebut.
- Presiden Donald Trump mengancam akan melakukan pengeboman ke Iran jika kesepakatan tidak tercapai hingga batas waktu 22 April 2026.
Suara.com - Kementerian Perang Amerika Serikat akhirnya mengonfirmasi jumlah serdadunya yang menjadi korban agresi ke Iran melonjak menjadi 415 tentara.
Dikutip dari The Express.com, Selasa (21/4/2026), jumlah itu melonjak dari sepekan sebelumnya yang tercatata sebanyak 399 korban.
Kenaikan jumlah korban luka selama periode gencatan senjata ini sebagian besar disebabkan oleh keterlambatan pelaporan cedera, terutama cedera otak traumatik atau traumatic brain injuries (TBI).
Gejala TBI sering kali tidak muncul atau tidak teridentifikasi hingga beberapa hari setelah kejadian awal, sehingga angka korban diperkirakan masih bisa terus bertambah seiring pemeriksaan medis yang lebih mendalam terhadap personel militer di lapangan.
Sementara itu, Kementerian Perang AS juga mengakui sebanyak 13 orang serdadunya mati selama perang agresi.
Di sisi lain, Iran juga merilis data korban terbaru pada hari Senin (20/4) awal pekan ini. Kepala Kedokteran Kehakiman Iran, Abbas Masjedi, yang memimpin Organisasi Kedokteran Legal Iran, melaporkan setidaknya 3.375 kematian akibat perang agresi yang dilancarkan AS serta Israel.
Masjedi, yang dikutip oleh kantor berita Mizan, menyatakan hanya empat dari jenazah yang ditemukan yang belum teridentifikasi.
Dalam pernyataannya, tidak ada rincian yang memisahkan antara korban sipil dan militer. Ia hanya mencatat 2.875 dari korban tewas adalah laki-laki dan 496 adalah perempuan.
Dari total kematian tersebut, Masjedi mengonfirmasi bahwa 383 di antaranya adalah anak-anak berusia 18 tahun ke bawah.

Trump masih mengancam
Meski secara de facto dalam masa gencatan senjata, Presiden AS Donald Trump masih terus melontarkan ancaman terhadpa Iran.
Trump mengancam bakal banyak melakukan pengeboman terhadap Iran bila tak ada kesepakatan terwujud sampai Rabu (22/4) besok.
Melalui platform Truth Social miliknya, Trump menegaskan posisinya yang tidak akan berkompromi dengan tekanan dari pihak mana pun.
"Saya sama sekali tidak berada di bawah tekanan," tegas Trump, "meskipun demikian, semuanya akan terjadi, secara relatif cepat!"
Sepanjang eskalasi konflik selama tujuh minggu terakhir, Trump menghadapi kritik dari kelompok kiri maupun sebagian pendukungnya sendiri, yang mengklaim bahwa dirinya hanya mengikuti arahan Israel dalam memulai perang.