Amerika Terancam Krisis Rudal Jika Perang Berlanjut dengan Iran

Pebriansyah Ariefana

Rabu, 22 April 2026 | 10:22 WIB
Amerika Terancam Krisis Rudal Jika Perang Berlanjut dengan Iran
Ilustrasi Rudal (Tasnimnews)
  • Perang di Iran menghabiskan hampir separuh cadangan rudal strategis utama milik Amerika Serikat.

  • Pemulihan total stok senjata canggih Amerika Serikat memerlukan waktu hingga lima tahun ke depan.

  • Kelangkaan amunisi menciptakan risiko keamanan serius bagi Amerika Serikat di wilayah Pasifik Barat.

Suara.com - Eskalasi konflik dengan Iran telah menguras cadangan persenjataan strategis Amerika Serikat hingga ke level yang mengkhawatirkan.

Kondisi ini menciptakan celah kerentanan pertahanan yang sangat nyata bagi militer Paman Sam dalam jangka pendek.

Dikutip dari CNN, fakta tersebut terungkap melalui laporan internal Departemen Pertahanan dan analisis terbaru dari pakar keamanan internasional.

Persediaan Rudal AS disinyalir menipis. (Instagram)
Persediaan Rudal AS disinyalir menipis. (Instagram)

Data menunjukkan bahwa Amerika Serikat telah menghabiskan setidaknya 45 persen dari seluruh stok rudal serangan presisi.

Inventaris rudal pencegat balistik THAAD bahkan kini dilaporkan telah berkurang hingga mencapai angka separuh dari jumlah total.

Hampir 50 persen persediaan rudal pertahanan udara Patriot juga telah digunakan selama tujuh minggu peperangan berlangsung.

Temuan ini selaras dengan data rahasia Pentagon mengenai kondisi aktual gudang senjata milik militer Amerika Serikat.

Meskipun kontrak produksi baru telah diteken, pemulihan sistem persenjataan ini memerlukan waktu tunggu hingga lima tahun.

Persediaan bom dan rudal yang tersisa saat ini diprediksi hanya cukup untuk melanjutkan operasi terbatas di Iran.

Kekuatan militer Amerika Serikat kini dianggap tidak lagi memadai untuk menghadapi musuh setara seperti China di masa depan.

Kerentanan di Wilayah Pasifik

Mark Cancian, pensiunan Kolonel Korps Marinir AS, memberikan peringatan keras mengenai dampak dari pengurasan besar-besaran amunisi ini.

“Pengeluaran amunisi yang tinggi telah menciptakan jendela kerentanan yang meningkat di Pasifik barat,” kata Mark Cancian kepada CNN.

“Akan butuh waktu satu hingga empat tahun untuk mengisi kembali inventaris ini dan beberapa tahun setelah itu untuk memperluasnya ke tempat yang seharusnya.”

Di sisi lain, juru bicara utama Pentagon, Sean Parnell, memberikan pernyataan yang berusaha menenangkan publik terkait kesiapan militer.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Silent Treatment Ala Iran Usai Trump Umumkan Gencatan Senjata Tanpa Batas Waktu

Silent Treatment Ala Iran Usai Trump Umumkan Gencatan Senjata Tanpa Batas Waktu

News | Rabu, 22 April 2026 | 09:38 WIB

IHSG DIproyeksi Kebanjiran Dana Asing, Jadi Sentimen Positif di Tengah Perang

IHSG DIproyeksi Kebanjiran Dana Asing, Jadi Sentimen Positif di Tengah Perang

Bisnis | Rabu, 22 April 2026 | 08:55 WIB

Perang AS vs Iran: Trump Perpanjang Gencatan Senjata Tanpa Batas Waktu

Perang AS vs Iran: Trump Perpanjang Gencatan Senjata Tanpa Batas Waktu

News | Rabu, 22 April 2026 | 07:44 WIB

Terkini

KPK Ungkap Alasan Tak Menerbitkan Surat Panggilan untuk Silmy Karim

KPK Ungkap Alasan Tak Menerbitkan Surat Panggilan untuk Silmy Karim

News | Sabtu, 06 Juni 2026 | 21:30 WIB

Pemprov DKI Buka 2.843 Lowongan Padat Karya, Syaratnya Cukup KTP Jakarta

Pemprov DKI Buka 2.843 Lowongan Padat Karya, Syaratnya Cukup KTP Jakarta

News | Sabtu, 06 Juni 2026 | 20:56 WIB

Gus Ipul Kunjungi Al Falah Ploso, Minta Doa Kiai Huda untuk Munas-Konbes 2026

Gus Ipul Kunjungi Al Falah Ploso, Minta Doa Kiai Huda untuk Munas-Konbes 2026

News | Sabtu, 06 Juni 2026 | 20:12 WIB

Sepertiga Kelurahan di Jakarta Belum Punya Pos Pemadam Kebakaran

Sepertiga Kelurahan di Jakarta Belum Punya Pos Pemadam Kebakaran

News | Sabtu, 06 Juni 2026 | 19:37 WIB

Prasasti: Stabilitas Rupiah dan Inflasi Jadi Ujian Pemerintah

Prasasti: Stabilitas Rupiah dan Inflasi Jadi Ujian Pemerintah

News | Sabtu, 06 Juni 2026 | 18:38 WIB

Ekstradisi Paulus Tannos ke Indonesia Tunggu Sidang Lanjutan di Singapura pada Agustus 2026

Ekstradisi Paulus Tannos ke Indonesia Tunggu Sidang Lanjutan di Singapura pada Agustus 2026

News | Sabtu, 06 Juni 2026 | 17:40 WIB

ICW soal Kasus Silmy Karim: Pemerasan Masih Marak, Pemerintah Gagal Benahi Sistem Perizinan.

ICW soal Kasus Silmy Karim: Pemerasan Masih Marak, Pemerintah Gagal Benahi Sistem Perizinan.

News | Sabtu, 06 Juni 2026 | 17:18 WIB

4 Cara Mengelola Pengeluaran Bulanan agar Saldo Dompet Digital Lebih Hemat dengan ShopeePay

4 Cara Mengelola Pengeluaran Bulanan agar Saldo Dompet Digital Lebih Hemat dengan ShopeePay

News | Sabtu, 06 Juni 2026 | 16:48 WIB

Sengketa Tanah Kedoya Memanas, Tergugat Persoalkan Status Kuasa Hukum Penggugat

Sengketa Tanah Kedoya Memanas, Tergugat Persoalkan Status Kuasa Hukum Penggugat

News | Sabtu, 06 Juni 2026 | 16:35 WIB

Jakarta Siapkan Sistem Peringatan Dini Kualitas Udara, Warga Bisa Cek Polusi 3 Hari ke Depan

Jakarta Siapkan Sistem Peringatan Dini Kualitas Udara, Warga Bisa Cek Polusi 3 Hari ke Depan

News | Sabtu, 06 Juni 2026 | 14:54 WIB