- Pemuda Katolik menanggapi klarifikasi Jusuf Kalla pada 18 dan 21 April 2026 terkait dugaan penistaan agama di UGM.
- Organisasi tersebut menilai konferensi pers JK berpotensi memperluas polemik dengan menyeret nama tokoh nasional ke ruang publik.
- Pemuda Katolik meminta semua pihak menghormati proses hukum dan menahan diri agar suasana tetap kondusif bagi masyarakat.
Suara.com - Pemuda Katolik menanggapi dua konferensi pers yang disampaikan Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla pada 18 dan 21 April 2026.
Klarifikasi tersebut dilakukan terkait dugaan penistaan agama dalam ceramah di Universitas Gadjah Mada (UGM) yang sebelumnya memicu polemik di ruang publik.
Ketua Bidang Hukum Pemuda Katolik, FX Sintua Widhiatmoko, menegaskan pihaknya tetap menghormati kontribusi Jusuf Kalla dalam berbagai upaya perdamaian nasional.
Namun ia menilai, respons yang disampaikan seharusnya lebih terukur dan tidak memperpanjang kegaduhan.
“Kami sangat menghormati kontribusi beliau dalam penyelesaian konflik di Poso dan Ambon. Namun sebagai tokoh bangsa, diharapkan dapat bersikap arif. Klarifikasi Pak JK harus efektif dan efisien, tidak perlu berulang kali konferensi pers,” ujar FX Sintua, Selasa (21/4/2026).
Ia juga menyoroti pernyataan dalam konferensi pers yang dinilai menyeret sejumlah nama tokoh nasional lain, termasuk mantan presiden.
Menurutnya, hal tersebut justru berpotensi memperluas polemik di ruang publik.
Dalam konferensi pers sebelumnya, Jusuf Kalla disebut menyinggung peran sejumlah tokoh dalam penyelesaian konflik masa lalu. Hal itu kemudian menjadi sorotan karena dinilai membuka ruang perdebatan baru.
Pemuda Katolik menegaskan bahwa laporan yang mereka ajukan bersama sejumlah organisasi kemasyarakatan merupakan mekanisme hukum yang sah.
Laporan tersebut, kata mereka, berangkat dari dinamika di media sosial terkait isi ceramah di UGM yang memicu beragam interpretasi.
“Ini bagian dari proses hukum. Lebih baik semua pihak menahan diri dan tidak membangun opini berlebihan sebelum ada kejelasan hukum,” kata FX Sintua.
Ia juga menilai terdapat perbedaan pandangan terkait isi ceramah yang disampaikan.
Menurutnya, ada saksi sejarah yang memiliki versi berbeda atas peristiwa yang disampaikan dalam ceramah tersebut.
Lebih lanjut, FX Sintua menyayangkan jika konferensi pers justru melibatkan banyak pihak di luar substansi persoalan.
Ia menilai hal itu membuat fokus isu menjadi melebar.
Pemuda Katolik berharap seluruh pihak dapat menjaga ruang publik tetap kondusif dan menyerahkan proses sepenuhnya kepada jalur hukum.