-
Perang merusak ratusan sekolah di Iran memaksa pengalihan sistem belajar ke jaringan intranet domestik.
-
Siswa di daerah terpencil terancam tertinggal karena keterbatasan infrastruktur internet dan perangkat digital.
-
Otoritas Iran memperketat kontrol informasi digital melalui penggunaan jaringan internet nasional yang tertutup.
Suara.com - Perang yang berkepanjangan memaksa otoritas pendidikan Iran menghentikan seluruh aktivitas belajar tatap muka secara nasional.
Pemerintah kini mengalihkan proses transfer ilmu melalui platform digital domestik dan siaran televisi guna menyiasati kelumpuhan infrastruktur.
Diceritakan DW, langkah darurat ini diambil setelah ratusan gedung sekolah hancur akibat serangan udara yang memutus akses fisik siswa ke ruang kelas.
![Ilustrasi warga Iran rayakan Lebaran 2026 [BBC]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/03/19/99030-ilustrasi-warga-iran-rayakan-lebaran-2026.jpg)
Namun kebijakan ini menciptakan jurang pendidikan baru bagi kelompok masyarakat ekonomi rendah yang tidak memiliki gawai memadai.
Ketergantungan pada intranet nasional juga menandai era baru kontrol informasi ketat yang memutus hubungan siswa dengan dunia luar.
Data organisasi pembangunan sekolah setempat mencatat lebih dari 640 bangunan edukasi di 17 provinsi mengalami kerusakan parah.
Sebanyak 250 bangunan di antaranya memerlukan renovasi total sementara belasan sekolah lainnya sudah tidak mungkin lagi untuk diperbaiki.
Di saat yang sama Iran mengalami pemutusan jaringan internet global terlama dalam sejarah yang dipantau oleh lembaga NetBlocks.
Kini arus informasi digital hanya bersirkulasi melalui intranet nasional yang sangat terbatas dan diawasi ketat oleh otoritas keamanan.
Kondisi ini membuat warga hanya bisa mengakses situs web dalam negeri tanpa bisa menjangkau platform media sosial internasional.
Kontrol Digital dan Nasib Siswa Miskin
"Blokade internet di Iran kemungkinan besar tidak akan pernah dicabut sepenuhnya," kata pakar keamanan siber Amir Rashidi.
Pemerintah dinilai sengaja membangun ekosistem digital yang terpisah dari jaringan dunia untuk memastikan kendali penuh negara.
"Ide yang telah lama dikerjakan oleh otoritas Iran adalah sejenis intranet yang sepenuhnya terpisah dari internet global. Ini tentang kontrol negara yang komprehensif di ruang digital," tambahnya.
Sistem ini efektif mencegah koordinasi massa dan penyebaran dokumentasi protes namun tetap mengizinkan layanan domestik berjalan.
Akan tetapi transisi ke pembelajaran virtual ini menghantam keras para siswa di wilayah tertinggal seperti Sistan dan Baluchistan.
"Masalahnya adalah di beberapa wilayah, seperti Sistan dan Baluchistan, hampir tidak ada koneksi internet karena mereka kekurangan infrastruktur yang diperlukan," jelas Rashidi.
Ketiadaan perangkat seperti laptop dan ponsel pintar menjadi hambatan utama bagi anak-anak dari keluarga tidak mampu.
"Sebagian besar orang di Iran mengakses internet melalui ponsel mereka. Namun, wilayah-wilayah ini memiliki lebih sedikit ponsel pintar dan bahkan lebih sedikit perangkat yang dibutuhkan anak sekolah, seperti laptop," ungkapnya lagi.
Masalah ekonomi dan inflasi akibat perang juga membuat bantuan perangkat bekas dari lembaga swadaya masyarakat kini menurun drastis.
Sebagai solusi terakhir pemerintah memanfaatkan stasiun televisi untuk menyiarkan materi pelajaran pokok seperti matematika dan fisika secara terjadwal.
Krisis pendidikan ini merupakan dampak langsung dari eskalasi militer yang melibatkan serangan udara dari pihak Amerika Serikat dan Israel.
Ketegangan yang gagal diredam oleh gencatan senjata sementara ini membuat Iran mempercepat pembangunan Jaringan Informasi Nasional.
Proyek tersebut kini menjadi tulang punggung baru bagi kehidupan publik Iran di tengah keterisolasian dari komunitas global.