-
Odeh Awawdeh tewas ditembak pemukim Israel di West Bank meninggalkan bayi kembar dua bulan.
-
PBB mendesak akuntabilitas atas kekerasan sistemik oleh pemukim bersenjata terhadap warga Palestina.
-
Eskalasi konflik meluas hingga Gaza dan Nablus dengan jatuhnya korban jiwa warga sipil.
Suara.com - Kematian tragis Odeh Awawdeh yang ditembak dari belakang mengungkap potret kelam impunitas kelompok pemukim bersenjata di wilayah Tepi Barat.
Aksi militeristik pemukim yang dilindungi negara ini telah menciptakan eskalasi kekerasan tanpa henti terhadap warga sipil Palestina di Deir Dibwan.
Dikutip dari Skynews, kehilangan sosok ayah bagi sepasang bayi kembar berusia dua bulan menjadi simbol luka kemanusiaan di tengah pendudukan yang kian represif.
![Pembongkaran bangunan warga Palestina di Tepi Barat oleh Israel [Foto: ANTARA]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/03/24/15550-pembongkaran-bangunan-warga-palestina-di-tepi-barat-oleh-israel.jpg)
Jenazah pria berusia 25 tahun tersebut diarak dalam prosesi pemakaman yang penuh isak tangis di dekat wilayah Ramallah.
Warga setempat menyaksikan bagaimana peluru tajam menembus punggung Awawdeh saat kelompok pemukim menyerbu pemukiman mereka.
Kekuatan militer Israel dilaporkan melakukan penutupan akses desa serta penahanan puluhan warga saat insiden berdarah itu berlangsung.

Pejabat PBB menyoroti pola kekerasan yang terus berkembang dari gerakan pemukim yang kini semakin terorganisir secara militer.
Kutipan resmi menyebutkan bahwa para pemukim "memasuki desa dan bentrok dengan penduduk, dengan seorang pemukim bersenjata menembak dan membunuh" Awawdeh.
Laporan media lokal menyebutkan beberapa pemukim sempat ditahan untuk dimintai keterangan setelah tekanan publik meluas.
Namun, pihak militer Israel memilih untuk tidak memberikan komentar segera terkait keterlibatan mereka dalam pengamanan aksi tersebut.
Desakan Akuntabilitas Internasional Atas Pertumpahan Darah
Kementerian Kesehatan Palestina mencatat sedikitnya 15 nyawa warga sipil telah melayang akibat ulah pemukim sepanjang tahun ini.
Situasi di lapangan digambarkan oleh perwakilan hak asasi manusia PBB sebagai sebuah kengerian yang tidak pernah berhenti bagi warga.
Ajith Sunghay dari kantor HAM PBB menyatakan, "Komunitas internasional harus bersikeras pada akuntabilitas yang bermakna bagi para pelaku dari semua pembunuhan melawan hukum di wilayah pendudukan Palestina untuk menghentikan pertumpahan darah."
Di lokasi berbeda, seorang remaja berusia 15 tahun di Nablus juga tewas setelah diterjang timah panas tentara Israel.
Militer mengklaim penembakan tersebut adalah prosedur standar penangkapan tersangka setelah adanya aksi pelemparan batu di area operasi.
Kekerasan tidak hanya terbatas di Tepi Barat, melainkan juga merembet hingga ke wilayah Khan Younis dan kamp pengungsian.
Empat warga Palestina dilaporkan tewas akibat serangan udara yang diluncurkan militer Israel ke beberapa titik strategis.
Salah satu korban tewas diketahui merupakan seorang petugas penyelamat yang sedang bertugas di kamp pengungsian Maghazi.
Israel berdalih serangan di selatan Gaza menyasar target militan yang sedang mengangkut amunisi berbahaya.
Dunia internasional kini menanti tindakan tegas untuk menyeret pelaku pembunuhan warga sipil ke pengadilan yang adil.
Konflik di Tepi Barat terus memanas akibat perluasan pemukiman ilegal yang sering memicu konfrontasi fisik antara warga asli dan pendatang.
Ketegangan ini diperparah dengan kehadiran pasukan keamanan yang kerap dianggap membiarkan aksi kekerasan oleh kelompok pemukim.
Insiden penembakan Odeh Awawdeh menambah daftar panjang pelanggaran hak asasi manusia di wilayah pendudukan yang hingga kini belum menemukan solusi perdamaian permanen.