-
Empat orang tewas dan puluhan warga luka akibat serangan udara Israel di Lebanon selatan.
-
Serangan terjadi meski terdapat kesepakatan perpanjangan gencatan senjata hasil mediasi di Washington.
-
Total korban tewas di Lebanon sejak Maret kini mencapai lebih dari 2.520 jiwa.
Suara.com - Agresi militer Israel di wilayah selatan Lebanon kembali memakan korban jiwa di tengah rapuhnya komitmen gencatan senjata antar kedua negara.
Laporan terbaru dari Kementerian Kesehatan Lebanon mengonfirmasi empat orang meninggal dunia dan 51 warga lainnya mengalami luka-luka serius.
Dikutip dari Anadolu, insiden berdarah ini menunjukkan pola serangan yang kian intensif meski jalur diplomasi di Washington tengah diupayakan secara maraton.
![Puluhan ribu warga Lebanon yang mengungsi mulai kembali ke rumah mereka di wilayah selatan, meski gencatan senjata dengan Israel masih diwarnai pelanggaran. [Tangkap layar X]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/18/25303-kondisi-lebanon.jpg)
Kekerasan ini terjadi justru saat masyarakat internasional menaruh harapan pada perpanjangan durasi penghentian permusuhan sementara yang baru saja diumumkan.
Data medis menunjukkan bahwa di antara puluhan korban luka, terdapat anak-anak dan perempuan yang terjebak dalam zona ledakan.
Wilayah distrik Tyre menjadi titik paling mematikan setelah jet tempur Israel menghantam kawasan pemukiman di kota Majdal Zoun.
Kementerian Kesehatan merinci bahwa seorang perempuan termasuk dalam daftar korban tewas akibat serangan udara yang menghancurkan bangunan tersebut.

"Kementerian menyatakan seorang perempuan berada di antara mereka yang tewas, sementara korban luka termasuk tiga anak-anak dan enam perempuan," ungkap otoritas kesehatan setempat.
Kondisi para korban luka saat ini masih dalam penanganan intensif di sejumlah rumah sakit terdekat di wilayah Lebanon selatan.
Tim penyelamat masih terus menyisir puing-puing bangunan untuk memastikan tidak ada warga sipil yang terjebak pasca-ledakan.
Selain serangan udara, militer Israel juga dilaporkan melakukan operasi penghancuran struktur bangunan secara masif di wilayah Hanin.
Ledakan berskala besar juga terjadi di Chihine sebagai bagian dari strategi militer darat yang memicu kepanikan warga lokal.
National News Agency (NNA) melaporkan bahwa gempuran udara juga menyasar titik-titik vital di kota Hadatha, Braachit, hingga Haris.
Kawasan Alman - Ech Choumariye di distrik Nabatieh tak luput dari sasaran setelah dihujani artileri secara berkala sepanjang hari.
Titik koordinat antara Qana dan Siddiqine juga menjadi target proyektil militer yang menambah daftar panjang kerusakan infrastruktur publik.
Data resmi pemerintah Lebanon mencatat lebih dari 1,6 juta orang telah kehilangan tempat tinggal sejak eskalasi meningkat awal Maret.
Secara akumulatif, total korban jiwa telah menembus angka 2.520 orang dengan lebih dari 7.800 warga menderita luka-luka.
Situasi di lapangan semakin rumit karena serangan drone Hezbollah juga mulai menyasar posisi tentara Israel sebagai bentuk respons.
Pihak Hezbollah berdalih bahwa aksi militer mereka merupakan jawaban atas rangkaian pelanggaran gencatan senjata yang dilakukan oleh Tel Aviv.
Ketegangan ini mengancam keberlangsungan kesepakatan damai yang sebenarnya baru saja mendapatkan napas baru melalui mediasi internasional.
Upaya perdamaian sebelumnya telah dideklarasikan melalui jeda kemanusiaan selama sepuluh hari yang dimulai pada pertengahan April lalu.
Meskipun kesepakatan tersebut telah ditandatangani, laporan lapangan menunjukkan adanya pelanggaran berulang yang memicu saling balas serangan.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sempat memberikan pengumuman optimistis mengenai masa depan stabilitas di kawasan perbatasan tersebut.
"Pada hari Kamis, Presiden AS Donald Trump mengatakan Lebanon dan Israel setuju untuk memperpanjang gencatan senjata selama tiga minggu menyusul putaran kedua pembicaraan antara kedua belah pihak di Washington," tulis laporan resmi.
Namun, realita di Lebanon selatan menunjukkan bahwa kesepakatan di atas kertas belum mampu menghentikan dentuman meriam dan bom.
Konflik bersenjata antara Israel dan Lebanon ini telah mengalami eskalasi tajam sejak tanggal 2 Maret yang memicu krisis kemanusiaan hebat.
Wilayah perbatasan kedua negara menjadi zona tempur aktif yang melumpuhkan aktivitas ekonomi serta pendidikan bagi jutaan warga sipil.
Meskipun terdapat upaya gencatan senjata pada 17 April, stabilitas keamanan tetap rapuh akibat saling klaim pelanggaran wilayah udara dan darat.
Saat ini, fokus internasional tertuju pada efektivitas perpanjangan gencatan senjata tiga minggu yang diinisiasi di Washington guna mencegah perang terbuka yang lebih luas.
Krisis ini terus menjadi perhatian global seiring meningkatnya jumlah korban dari kalangan non-kombatan di wilayah Lebanon.