-
Uni Emirat Arab resmi keluar dari OPEC untuk mengejar target produksi mandiri secara bebas.
-
Kepergian ini melemahkan pengaruh Arab Saudi dalam mengendalikan stabilitas harga minyak dunia secara global.
-
Analis memprediksi risiko volatilitas harga tinggi akibat hilangnya kapasitas cadangan strategis aliansi energi.
Suara.com - Langkah Uni Emirat Arab meninggalkan kartel minyak OPEC diambil untuk memastikan kebijakan energi nasional tetap lincah.
Keputusan ini dianggap sangat tepat mengingat kondisi Selat Hormuz yang saat ini sedang mengalami penutupan akses.
Dampak dari pengunduran diri ini diprediksi tidak akan mengguncang stabilitas harga minyak di pasar global secara drastis.
![Iustrasi Kilang Minyak [Pexels].](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/03/25/93261-ilustrasi-kilang-minyak-harga-minyak-dunia-minyak.jpg)
Keterbatasan distribusi di jalur laut utama tersebut membuat volume ekspor dari berbagai negara produsen menjadi tertahan.
UEA menilai momentum ini sebagai waktu terbaik untuk melakukan transisi kebijakan tanpa membebani negara-negara mitra lainnya.
Menteri Energi Suhail Al Mazrouei menegaskan bahwa langkah ini merupakan perwujudan kedaulatan penuh negara atas sumber dayanya.
Ia menyampaikan bahwa pilihan untuk keluar sama sekali tidak dipengaruhi oleh tekanan politik dari pihak eksternal.
![Harga minyak dunia naik tipis [Foto: ANTARA]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2022/05/05/75434-harga-minyak-dunia-naik-tipis.jpg)
Fokus utama pemerintah adalah memiliki ruang gerak yang lebih luas dalam merespons fluktuasi ekonomi dengan cepat.
Keanggotaan dalam organisasi internasional terkadang memberikan batasan produksi yang tidak selaras dengan visi jangka panjang negara.
Dengan menjadi pemain mandiri, UEA berharap dapat lebih adaptif dalam menghadapi tantangan industri migas masa depan.
Suhail Al Mazrouei dalam wawancaranya menjelaskan secara detail mengenai latar belakang waktu pengambilan keputusan strategis tersebut.
"Waktunya tepat karena tidak akan berdampak signifikan terhadap pasar dan harga karena Selat Hormuz ditutup dan dibatasi," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa situasi geografis saat ini secara alami telah membatasi kemampuan distribusi seluruh produsen minyak.
"Jadi semua orang terkendala, termasuk kami, namun mengambil keputusan sekarang akan membantu semua teman kami… (untuk) tidak merasakan tekanan pada harga," tambahnya.
Penjelasan ini ditujukan untuk menenangkan kekhawatiran pelaku pasar mengenai potensi lonjakan harga akibat berkurangnya koordinasi produksi.