Gelombang Panas Picu Krisis Pangan, Dunia Mulai Cari Cara Bertahan

Bimo Aria Fundrika

Rabu, 13 Mei 2026 | 11:37 WIB
Gelombang Panas Picu Krisis Pangan, Dunia Mulai Cari Cara Bertahan
Ilustrasi Petani (Pexels/Hartono Subagio)
baca 10 detik
  • Laporan FAO dan WMO menyatakan gelombang panas ekstrem global menurunkan produktivitas pertanian serta menyebabkan kehilangan jutaan jam kerja tahunan.
  • Dampak suhu panas merusak sektor tanaman pangan, peternakan, hingga ekosistem laut yang memicu penurunan hasil panen di berbagai negara.
  • Upaya adaptasi melalui varietas tahan panas, sistem peringatan dini, serta dukungan finansial diperlukan untuk menjaga ketahanan pangan global.

Suara.com - Gelombang panas ekstrem kini tidak hanya menjadi ancaman bagi kesehatan manusia, tetapi juga mulai mengguncang sistem pangan global. Laporan gabungan Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) serta Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menunjukkan bahwa suhu panas ekstrem telah menyebabkan hilangnya sekitar setengah triliun jam kerja setiap tahun di sektor pangan dan pertanian.

Namun di tengah ancaman tersebut, berbagai upaya adaptasi mulai dikembangkan untuk menjaga ketahanan pangan dan melindungi para pekerja.

Sekretaris Jenderal WMO, Celeste Saulo, mengatakan panas ekstrem kini semakin menentukan cara sistem pangan global beroperasi. Menurutnya, suhu panas menjadi faktor yang memperbesar berbagai kerentanan yang sudah lebih dulu ada di sektor pertanian.

Tunggu Tumbang: Penjaga padi lokal Semende di tengah krisis iklim
Tunggu Tumbang: Penjaga padi lokal Semende di tengah krisis iklim

Laporan tersebut menjelaskan bahwa gelombang panas berkepanjangan berdampak pada tanaman pangan, peternakan, perikanan, hingga hutan.

Banyak tanaman pangan utama mulai mengalami penurunan hasil ketika suhu melewati 30 derajat Celsius. Sementara itu, hewan ternak seperti unggas dan babi lebih rentan mengalami stres panas karena kesulitan mendinginkan tubuh mereka.

Dampaknya juga dirasakan di lautan. Sepanjang 2024, sekitar 91 persen wilayah laut global mengalami setidaknya satu gelombang panas laut yang menyebabkan penurunan kadar oksigen dan mengganggu kehidupan ikan.

Direktur Jenderal FAO, Qu Dongyu, menyebut panas ekstrem kini menjadi “pengganda risiko” yang menekan sektor pangan sekaligus kehidupan masyarakat yang bergantung padanya.

Meski begitu, laporan tersebut juga menyoroti berbagai solusi adaptasi yang mulai dikembangkan di berbagai negara untuk menghadapi suhu panas ekstrem.

Salah satunya melalui penggunaan varietas tanaman yang lebih tahan panas dan kekeringan, perubahan jadwal tanam agar menyesuaikan pola cuaca baru, hingga penerapan praktik pertanian yang lebih efisien dalam penggunaan air.

baca juga

Sistem peringatan dini juga dinilai penting agar petani dapat mempersiapkan diri menghadapi cuaca ekstrem sebelum terjadi gagal panen. Selain itu, dukungan finansial seperti asuransi pertanian dan perlindungan sosial mulai dipandang sebagai kebutuhan mendesak untuk membantu petani bertahan saat produksi menurun.

Sejumlah negara mulai merasakan pentingnya langkah adaptasi tersebut. Di Kirgizstan, misalnya, gelombang panas pada 2025 menyebabkan suhu meningkat hingga 10 derajat Celsius di atas normal dan memicu penurunan panen serealia hingga 25 persen. Kondisi itu diperparah dengan munculnya serangan belalang dan berkurangnya kapasitas irigasi.

Sementara di Brasil, panas ekstrem dan kekeringan sepanjang 2023 hingga 2024 menyebabkan hasil panen kedelai turun hingga 20 persen. Gelombang panas besar di Amerika Utara pada 2021 juga memicu kerusakan tanaman buah dan meningkatkan kebakaran hutan secara signifikan.

Laporan FAO dan WMO memperingatkan bahwa tanpa langkah adaptasi yang cepat, jutaan pekerja pertanian di Asia Selatan, Afrika sub-Sahara, dan Amerika Latin berisiko kehilangan hari kerja akibat suhu yang terlalu panas untuk bekerja. Di beberapa wilayah, jumlah hari yang terlalu panas untuk bekerja bahkan diperkirakan bisa mencapai 250 hari per tahun.

Namun, laporan itu juga menegaskan bahwa masa depan sektor pangan masih dapat dilindungi jika dunia memperkuat ketahanan pertanian sekaligus menekan emisi karbon penyebab krisis iklim. Menurut FAO dan WMO, transformasi menuju sistem pangan yang lebih tahan terhadap perubahan iklim menjadi salah satu kunci agar produksi pangan global tetap terjaga di tengah suhu bumi yang terus meningkat.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Peneliti Ungkap Dua Ancaman Besar Ketahanan Pangan Indonesia, Apa Saja Itu?

Peneliti Ungkap Dua Ancaman Besar Ketahanan Pangan Indonesia, Apa Saja Itu?

News | Selasa, 12 Mei 2026 | 13:13 WIB

Riset Soroti Dampak Krisis Iklim terhadap Ketahanan Pangan di NTT dan Flores

Riset Soroti Dampak Krisis Iklim terhadap Ketahanan Pangan di NTT dan Flores

News | Senin, 11 Mei 2026 | 13:15 WIB

Perempuan Jadi Kelompok Paling Rentan di Tengah Krisis Iklim dan Bencana, Bagaimana Solusinya?

Perempuan Jadi Kelompok Paling Rentan di Tengah Krisis Iklim dan Bencana, Bagaimana Solusinya?

Health | Jum'at, 08 Mei 2026 | 11:49 WIB

Terkini

Menghadapi Infertilitas dan Pentingnya Pendampingan Tepat bagi Pasangan Usia Subur

Menghadapi Infertilitas dan Pentingnya Pendampingan Tepat bagi Pasangan Usia Subur

Lifestyle | Rabu, 07 Oktober 2026 | 06:19 WIB

Tok! MK Tolak Gugatan Ijazah Gibran

Tok! MK Tolak Gugatan Ijazah Gibran

Foto | Rabu, 07 Oktober 2026 | 06:00 WIB

Tak Sanggup Bayar Kontrakan, Janda di Tangsel Terpaksa Tinggal di Tenda Kebun Bersama Anak-Cucu

Tak Sanggup Bayar Kontrakan, Janda di Tangsel Terpaksa Tinggal di Tenda Kebun Bersama Anak-Cucu

Banten | Selasa, 06 Oktober 2026 | 22:52 WIB

Gugatan Karhutla Kalbar Masuk Pengadilan, Warga Soroti Data dan Penanganan Asap

Gugatan Karhutla Kalbar Masuk Pengadilan, Warga Soroti Data dan Penanganan Asap

Kalbar | Selasa, 06 Oktober 2026 | 22:38 WIB

Jualan Pakai QRIS Makin Untung, Biaya Admin Dipangkas Habis oleh BRI!

Jualan Pakai QRIS Makin Untung, Biaya Admin Dipangkas Habis oleh BRI!

Bri | Selasa, 06 Oktober 2026 | 22:33 WIB

Pembangunan PSEL di Kota Tangsel Mandek, DLH Ungkap Masih Ada Warga Tolak Pembebasan Lahan

Pembangunan PSEL di Kota Tangsel Mandek, DLH Ungkap Masih Ada Warga Tolak Pembebasan Lahan

Banten | Selasa, 06 Oktober 2026 | 22:19 WIB

Promo Tiket Bioskop The Premiere Buy 1 Get 2 Khusus Nasabah BRI, Begini Caranya!

Promo Tiket Bioskop The Premiere Buy 1 Get 2 Khusus Nasabah BRI, Begini Caranya!

Bri | Selasa, 06 Oktober 2026 | 22:11 WIB

33 Tahun Kayuh Becak, Kini Acep Beralih ke Becak Listrik Bantuan Prabowo

33 Tahun Kayuh Becak, Kini Acep Beralih ke Becak Listrik Bantuan Prabowo

Bogor | Selasa, 06 Oktober 2026 | 22:10 WIB

Dari Subuh hingga Sore, Begini Perubahan Udara Palembang yang Masih Dikepung Asap

Dari Subuh hingga Sore, Begini Perubahan Udara Palembang yang Masih Dikepung Asap

Sumsel | Selasa, 06 Oktober 2026 | 22:05 WIB

BRI Beri Karpet Merah dan Cashback Fantastis di Event Burberry

BRI Beri Karpet Merah dan Cashback Fantastis di Event Burberry

Bri | Selasa, 06 Oktober 2026 | 22:00 WIB

×