Benjamin Netanyahu Perintahkan Militer Israel Caplok 70 Persen Wilayah Gaza

Pebriansyah Ariefana

Jum'at, 29 Mei 2026 | 08:40 WIB
Benjamin Netanyahu Perintahkan Militer Israel Caplok 70 Persen Wilayah Gaza
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memerintahkan militer Israel memperluas pendudukan hingga menguasai 70 persen wilayah Gaza. (Istimewa)
baca 10 detik
  • Perdana Menteri Israel memerintahkan militer untuk merebut hingga 70 persen wilayah Gaza secara bertahap.

  • Langkah ekspansi ini melanggar batas demarkasi gencatan senjata Oktober 2025 yang disepakati bersama.

  • Hamas mengecam keras aneksasi tersebut karena menghancurkan peluang stabilisasi dan deeskalasi di Gaza.

Suara.com - Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memerintahkan militer Israel untuk memperluas wilayah pendudukan hingga mencakup 70 persen teritori Gaza. Langkah agresif ini mengancam keberlangsungan kesepakatan damai dan mempersempit ruang hidup warga Palestina.

Pencaplokan sepihak tersebut memicu kekhawatiran mendalam atas pembagian wilayah Gaza secara permanen. Blokade yang kian ketat berisiko mengisolasi jutaan warga sipil di zona yang terus mengecil.

Peta militer menunjukkan bahwa kendali penuh Israel atas jalur pesisir ini telah merusak peta jalan perdamaian global. Komunitas internasional kini menghadapi kebuntuan dalam mencegah aneksasi yang lebih masif.

Anak-anak yatim Gaza peringati 2 tahun perang dengan seruan perdamaian. (ANTARA)
Anak-anak yatim Gaza peringati 2 tahun perang dengan seruan perdamaian. (ANTARA)

"Kita sekarang berada di 60 persen wilayah Jalur Gaza. Kita tadinya berada di 50 persen. Kita bergerak ke 60 persen," kata Netanyahu dikutip dari CNN dikutip Jumat (29/5/2026).

Ia menambahkan, "Arahan saya adalah bergerak untuk mengambilnya langkah demi langkah—pertama-tama 70 persen. Mari kita mulai dengan itu."

Perluasan wilayah ini memaksa sekitar 2 juta warga Palestina berdesakan di sisa teritori yang hancur. Kondisi tersebut memicu krisis kemanusiaan yang jauh lebih ekstrem di dalam wilayah kantong.

Padahal, kesepakatan gencatan senjata sebelumnya membatasi posisi militer Israel hanya di angka 53 persen wilayah. Hamas menuduh Tel Aviv sengaja memanipulasi batas geografis demi memperkuat cengkeraman kekuasaan.

Tentara Israel pada Sabtu (28/6/202), mengeluarkan perintah pengusiran terhadap warga Palestina. (ist)
Tentara Israel pada Sabtu (28/6/202), mengeluarkan perintah pengusiran terhadap warga Palestina. (ist)

Hamas menyatakan tindakan tersebut "merupakan pelemahan yang nyata dan terus-menerus terhadap perjanjian gencatan senjata, pelanggaran serius terhadap ketentuan-ketentuannya, dan upaya terbuka untuk memaksakan fakta baru di lapangan dengan kekerasan, dengan tujuan memperkuat kendali militer atas Jalur Gaza dan merusak peluang nyata untuk menstabilkan situasi atau menyukseskan upaya deeskalasi."

Di sisi lain, proses pelucutan senjata yang macet menjadi alasan Israel menahan penarikan pasukannya. Ketidakpastian pengiriman pasukan keamanan internasional memperkeruh kebuntuan diplomasi di lapangan.

baca juga

Utusan diplomatik Nickolay Mladenov memperingatkan adanya risiko pemisahan wilayah secara permanen jika pembicaraan damai tidak segera maju. Garis batas sementara dikhawatirkan berubah menjadi tembok pembatas yang kokoh.

Mladenov mengakui realitas kelam di lapangan saat "warga sipil masih terbunuh" dan "keluarga hidup dalam ketakutan" akibat serangan udara. Korban jiwa dari pihak warga sipil terus berjatuhan di tengah situasi gencatan senjata yang rapuh.

Otoritas kesehatan Palestina mencatat ratusan nyawa melayang sejak kesepakatan damai formal mulai diberlakukan. Operasi militer Israel terus menyasar tokoh-tokoh kunci sayap militer Hamas secara berturut-turut.

Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menegaskan komitmennya untuk mengejar seluruh pihak yang terlibat dalam serangan masa lalu. Sikap keras ini memperkecil peluang diplomasi damai dalam waktu dekat.

"Kami berjanji untuk melenyapkan semua orang yang memimpin pembantaian 7 Oktober, dan itulah yang akan dilakukan: mereka semua dijatuhi hukuman mati di mana saja," tulis Katz.

Ketegangan terbaru ini berakar pada perjanjian gencatan senjata Oktober 2025 yang dimediasi oleh Amerika Serikat. Perjanjian tersebut awalnya mematok batas demarkasi kuning untuk memisahkan kedua kekuatan.

Namun, implementasi rencana damai yang didorong Donald Trump ini mandek akibat kedua pihak saling tuduh melakukan pelanggaran. Kini, masa depan pembentukan pasukan keamanan internasional di Gaza masih berada dalam ketidakpastian total.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Serangan Israel di Lebanon Bom Kota Tyre dan Beirut, Pengungsian Massal Kian Kritis

Serangan Israel di Lebanon Bom Kota Tyre dan Beirut, Pengungsian Massal Kian Kritis

News | Jum'at, 29 Mei 2026 | 08:29 WIB

Temui Macron, Prabowo Tegaskan Palestina Merdeka Harga Mati!

Temui Macron, Prabowo Tegaskan Palestina Merdeka Harga Mati!

News | Jum'at, 29 Mei 2026 | 07:15 WIB

Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur

Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur

News | Kamis, 28 Mei 2026 | 23:37 WIB

Terkini

25 Tahun Konflik Agraria di Jambi Tak Selesai! BAM DPR Bakal Turun dan Investigasi

25 Tahun Konflik Agraria di Jambi Tak Selesai! BAM DPR Bakal Turun dan Investigasi

News | Rabu, 09 September 2026 | 23:45 WIB

Genap 17 Tahun Otomatis Punya Rekening, Buat Apa?

Genap 17 Tahun Otomatis Punya Rekening, Buat Apa?

News | Rabu, 09 September 2026 | 23:19 WIB

Bukan Siang Hari, Ini Waktu Udara Palembang Paling Berbahaya Saat PM2.5 Tembus 600

Bukan Siang Hari, Ini Waktu Udara Palembang Paling Berbahaya Saat PM2.5 Tembus 600

Sumsel | Rabu, 09 September 2026 | 22:30 WIB

Mendagri Apresiasi Gubernur Bobby Nasution Inisiasi Pertemuan Provinsi se-Sumatera Satukan Kekuatan

Mendagri Apresiasi Gubernur Bobby Nasution Inisiasi Pertemuan Provinsi se-Sumatera Satukan Kekuatan

News | Rabu, 09 September 2026 | 22:27 WIB

Donal Husni Hilang Kontak Saat Liputan Krakatau, Ketua RT Ungkap Sosok dan Keseharian Sang Jurnalis

Donal Husni Hilang Kontak Saat Liputan Krakatau, Ketua RT Ungkap Sosok dan Keseharian Sang Jurnalis

Banten | Rabu, 09 September 2026 | 22:17 WIB

Kabut Asap Kian Meluas, Kini Siswa Madrasah di Palembang Juga Belajar dari Rumah

Kabut Asap Kian Meluas, Kini Siswa Madrasah di Palembang Juga Belajar dari Rumah

Sumsel | Rabu, 09 September 2026 | 22:17 WIB

5 Jurnalis Hilang Kontak Saat Liput Anak Krakatau, Pencarian Diperluas di Selat Sunda

5 Jurnalis Hilang Kontak Saat Liput Anak Krakatau, Pencarian Diperluas di Selat Sunda

Sumsel | Rabu, 09 September 2026 | 22:15 WIB

Pekerja Perempuan Dominasi Perkebunan Sawit, Menteri PPPA Soroti Kesenjangan Upah

Pekerja Perempuan Dominasi Perkebunan Sawit, Menteri PPPA Soroti Kesenjangan Upah

News | Rabu, 09 September 2026 | 22:09 WIB

PTBA Dorong Budaya Inovasi Lewat BIGMIND Innovation Award 2026, Ubah Ide Jadi Dampak

PTBA Dorong Budaya Inovasi Lewat BIGMIND Innovation Award 2026, Ubah Ide Jadi Dampak

Sumsel | Rabu, 09 September 2026 | 22:05 WIB

AHY Klarifikasi Maksud Pidato, Apa Respons Prabowo?

AHY Klarifikasi Maksud Pidato, Apa Respons Prabowo?

News | Rabu, 09 September 2026 | 22:01 WIB

×