- Polda Jawa Tengah menangkap mantan artis berinisial F karena terlibat sindikat penipuan daring internasional di Solo Baru.
- Tersangka F berperan meyakinkan korban melalui panggilan video untuk investasi kripto palsu sejak Juli 2025 hingga Mei 2026.
- Sindikat ini merugikan 133 korban dari berbagai negara dengan total nilai kerugian mencapai Rp 41,1 miliar.
Suara.com - Mantan artis berinisial F ditangkap Polda Jawa Tengah, karena terlibat dalam jaringan penipuan daring atau online berskala internasional. F bersama komplotannya bermarkas di Solo Baru, Kabupaten Sukoharjo.
Kasus ini mencuri perhatian publik bukan hanya karena nilai kerugiannya yang fantastis mencapai Rp 41,1 miliar, tetapi juga keterlibatan seorang wanita yang diketahui merupakan mantan artis berinisial F sebagai bagian dari sindikat tersebut.
Direktur Direktorat Reserse Siber (Dit Ressiber) Polda Jawa Tengah, Kombes Himawan Susanto Saragih, Selasa (2/6/2026), mengungkapkan F telah ditetapkan sebagai tersangka.
Peran F dalam organisasi kriminal ini sangat krusial, yakni sebagai model yang bertugas meyakinkan para korban melalui interaksi visual langsung.
Kehadirannya menjadi kunci untuk memuluskan tahap akhir penipuan, setelah korban terjebak dalam rayuan tim marketing.
"F ini mantan artis dan model. Dia bertugas melayani video call dengan korban," kata Himawan.
Strategi Manipulasi Emosional dan Peran Model F
Sindikat ini bekerja dengan sangat terorganisir. Mereka menggunakan entitas perusahaan bernama PT Digi Global Konsultan, sebagai kedok untuk melakukan rekrutmen pekerja sekaligus menjalankan operasional ilegal mereka.
Target utama mereka bukan warga lokal, melainkan warga negara asing, terutama dari Amerika Serikat.
Modus operandi yang digunakan adalah membangun kedekatan emosional melalui media sosial.
Awalnya, tim marketing yang bertugas mencari korban menggunakan akun fiktif dengan foto-foto menarik.
Ketika korban mulai tertarik namun masih ragu untuk menyetorkan uang investasi, barulah "senjata rahasia" mereka, yakni tersangka F, dimunculkan.
"Jadi marketing itu untuk menjerat korban. Mereka akan menyortir calon korban yang butuh diyakinkan, maka F yang akan maju melani video call. Itu supaya korban berinvestasi," kata dia.
Himawan menambahkan, F dipilih karena latar belakangnya di dunia hiburan yang memiliki kemampuan komunikasi dan penampilan yang mampu memikat.
Meski enggan merinci identitas aslinya secara gamblang, polisi memberikan ciri-ciri fisik tersangka.