Gas dari Limbah Pemotongan Ayam Diduga Jadi Pemicu Utama Kebakaran Misterius di Sleman

Vania Rossa, Hiskia Andika Weadcaksana

Kamis, 04 Juni 2026 | 11:06 WIB
Gas dari Limbah Pemotongan Ayam Diduga Jadi Pemicu Utama Kebakaran Misterius di Sleman
Rumah di Sleman terbakar api misterius, Selasa (2/6/2026). (Suara.com/Hiskia)
baca 10 detik
  • Tim peneliti UGM menyelidiki penyebab api spontan di rumah warga Seyegan, Sleman, yang terjadi sejak akhir Mei 2026.
  • Kebakaran diduga dipicu akumulasi gas hidrogen dan fosfin hasil fermentasi limbah organik dari usaha pemotongan ayam pemilik rumah.
  • Peneliti merekomendasikan evakuasi barang mudah terbakar, penggunaan ventilasi udara, serta penggunaan cairan basa untuk menetralkan sisa limbah organik.

Suara.com - Tim Peneliti Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) mengungkap hasil penelitian sementara terkait misteri kemunculan api secara spontan di sebuah rumah warga Padukuhan Mriyan X, Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Sleman, DIY.

Koordinator Tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik UGM, Alva Edy Tontowi mengatakan peristiwa itu diduga kuat dipicu oleh keberadaan gas fosfin (PH3). 

Pihaknya mengindikasikan bahwa gas yang sangat mudah terbakar pada suhu kamar tersebut terbentuk dari material kaya fosfat, seperti limbah tulang dan bagian keras bulu ayam yang tertimbun di sekitar lokasi.

Diketahui rumah tersebut memang digunakan sebagai tempat usaha pemotongan ayam oleh keluarga.

Tim PKPE UGM memaparkan bagaimana zat kimia dari limbah pemotongan ayam tersebut disinyalir menjadi biang keladi yang memantik zat mudah terbakar lainnya di dalam rumah.

Terkait rantai produksi gas di area tersebut, para peneliti menarik kesimpulan sementara mengenai keterikatan erat antara kemunculan api dan aktivitas biologis limbah tersebut.

"Kesimpulan sementara, satu, keluarnya api, berasosiasi dengan gas hidrogen. Dua, gas hidrogen diduga kuat berasal dari proses fermentasi limbah organik pemotongan ayam," kata Alva dalam keterangan tertulisnya, Kamis (4/6/2026).

Disampaikan Alva, selain hidrogen, diduga ada gas lain yang mudah terbakar khususnya pada suhu kamar ikut muncul di titik-titik rumah tersebut.

"Sangat dimungkinkan, bersama dengan gas hidrogen tersebut ada gas lain yang lebih mudah terbakar pada suhu kamar, yaitu gas fosfin (PH3), yang diduga bisa terbentuk dari material yang kaya fosfat seperti tulang dan bagian keras dari bulu ayam," ungkapnya.

baca juga

Sifat gas fosfin yang langsung habis terbakar begitu bereaksi dengan oksigen membuat keberadaannya sulit ditangkap secara kasat mata. 

"Gas fosfin ini sayangnya tidak mudah terdeteksi dan akan habis terbakar jika bertemu oksigen. Sangat dimungkinkan gas fosfin tersebut yang memicu terbakarnya gas hidrogen yang keluar bersamaan. Hal ini masih perlu diselidiki secara lebih mendalam," tegasnya.

Sebelum indikasi kuat mengenai gas fosfin ini mencuat, tim sempat menguji kemungkinan adanya kandungan gas bumi atau jenis gas rawa lainnya. Observasi sudah dilakukan sejak Sabtu (30/5/2026) kemarin.

Pengukuran berkala yang dilakukan pada Senin (1/6/2026) awalnya menemukan lonjakan drastis pada konsentrasi gas hidrogen (H2) di area sanitasi dan kamar tidur, sesaat setelah api mendadak muncul kembali.

Guna memastikan tidak ada faktor eksternal lain di luar limbah organik, tim kembali menggelar uji validasi lanjutan pada Rabu (3/6/2026) kemarin. 

Dari pemeriksaan bersilang tersebut, tim menyebut bahwa masalah kebakaran ini bertumpu pada akumulasi gas hidrogen dan interaksinya dengan gas pemantik.

"Tidak terdeteksi adanya gas yang mudah terbakar selain gas hidrogen," imbuhnya.

Tim beranggapan bahwa kunci dari penyelesaian masalah ini adalah mengetahui sumber gas. Setidaknya terdapat dua kandidat sumber gas, yaitu limbah cair atau gas tanah. 

Pada Kamis (4/6/2026) hari ini, tim akan memastikan keberadaan gas dalam tanah, dengan melakukan penggalian dangkal di beberapa titik dan mengukur keberadaan gas. 

Sementar untuk kandidat sumber dari limbah cairan sedang dalam tahap analisis laboratorium.

Mengingat api yang masih berpotensi muncul sewaktu-waktu, penelitia UGM merekomendasikan penghuni rumah untuk segera mengosongkan barang-barang mudah terbakar dan membuka seluruh jalur ventilasi. 

"Pasang blower dan atau kipas angin, untuk menghalau kemungkinan rembesan gas berkumpul dalam kadar yang cukup untuk memantik api," ujarnya.

Selain itu, tim peneliti merencanakan tindakan darurat di lapangan berupa penyiraman cairan basa di sekitar lokasi.

"Tim UGM akan membantu melakukan penjenuhan cairan basa (air kapur) pada tanah dan lantai rumah, untuk menekan kemungkinan adanya bakteri Clostridium yang berperan dalam menghasilkan gas hidrogen," tandasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Misteri Api Sleman: Ahli UPN Petakan Bawah Permukaan Rumah, Selidiki Jalur Gas Rahasia

Misteri Api Sleman: Ahli UPN Petakan Bawah Permukaan Rumah, Selidiki Jalur Gas Rahasia

News | Rabu, 03 Juni 2026 | 16:59 WIB

Kebakaran Misterius di Sleman: Teror Manusia atau Anomali Alam?

Kebakaran Misterius di Sleman: Teror Manusia atau Anomali Alam?

News | Rabu, 03 Juni 2026 | 18:39 WIB

Terkini

FIFA Buka Voting Tim Terbaik Piala Dunia 2026: Argentina Sumbang 5 Pemain, Spanyol?

FIFA Buka Voting Tim Terbaik Piala Dunia 2026: Argentina Sumbang 5 Pemain, Spanyol?

Bola | Rabu, 22 Juli 2026 | 00:08 WIB

Dari Pameran Kudatuli, Megawati Titip Pesan untuk Generasi Muda Indonesia

Dari Pameran Kudatuli, Megawati Titip Pesan untuk Generasi Muda Indonesia

News | Rabu, 22 Juli 2026 | 00:00 WIB

Kasus Dugaan Penculikan Atlet Golf Jesslyn Wijaya, Polisi Telusuri Perjalanan hingga Kuala Lumpur

Kasus Dugaan Penculikan Atlet Golf Jesslyn Wijaya, Polisi Telusuri Perjalanan hingga Kuala Lumpur

News | Selasa, 21 Juli 2026 | 23:39 WIB

Bukan Sekedar Catatan Masa Lalu, Peristiwa Kudatuli Merupakan Simbol Perjuangan Lawan Ketidakadilan

Bukan Sekedar Catatan Masa Lalu, Peristiwa Kudatuli Merupakan Simbol Perjuangan Lawan Ketidakadilan

News | Selasa, 21 Juli 2026 | 23:29 WIB

Usut Aliran Rp 91 Miliar Suap Bea Cukai, KPK Tetapkan Tersangka Baru

Usut Aliran Rp 91 Miliar Suap Bea Cukai, KPK Tetapkan Tersangka Baru

News | Selasa, 21 Juli 2026 | 23:22 WIB

Korupsi Disebut Kejahatan HAM, Mengapa Hak Korban Belum Jadi Perhatian?

Korupsi Disebut Kejahatan HAM, Mengapa Hak Korban Belum Jadi Perhatian?

News | Selasa, 21 Juli 2026 | 23:17 WIB

Aksesori Estetik Makin Digemari, Ini Tempat Belanja Lengkap Incaran Reseller hingga Jastiper

Aksesori Estetik Makin Digemari, Ini Tempat Belanja Lengkap Incaran Reseller hingga Jastiper

Lifestyle | Selasa, 21 Juli 2026 | 23:11 WIB

Salah Setting Aplikasi Navigasi, Pemotor RX-King Nekat Masuk Tol Jagorawi

Salah Setting Aplikasi Navigasi, Pemotor RX-King Nekat Masuk Tol Jagorawi

Jabar | Selasa, 21 Juli 2026 | 23:04 WIB

Anggaran Jasa Belanja Tenaga Ahli Banten Tembus Rp55,47 Miliar, Kepala BPKAD Mengaku Kaget

Anggaran Jasa Belanja Tenaga Ahli Banten Tembus Rp55,47 Miliar, Kepala BPKAD Mengaku Kaget

Banten | Selasa, 21 Juli 2026 | 22:52 WIB

Jembatan di Serang Mulai Dibangun Andra Soni Usai 25 Tahun Tak Tersentuh Perbaikan

Jembatan di Serang Mulai Dibangun Andra Soni Usai 25 Tahun Tak Tersentuh Perbaikan

Banten | Selasa, 21 Juli 2026 | 22:47 WIB

×