Kontras Ungkap Pola Penghilangan Paksa di Indonesia, Aktor Militer Disebut Dominan

Vania Rossa

Jum'at, 05 Juni 2026 | 17:32 WIB
Kontras Ungkap Pola Penghilangan Paksa di Indonesia, Aktor Militer Disebut Dominan
Anggota Kontras, Jessenia Destarini, membedah pola penghilangan paksa yang terjadi di Indonesia. (tangkap layar)
baca 10 detik
  • Kontras membedah pola penghilangan paksa di Indonesia melalui diskusi daring pada Jumat, 5 Juni 2026 sebagai sorotan impunitas.
  • Aparat militer menjadi aktor dominan dalam berbagai peristiwa penghilangan paksa di wilayah pelanggaran HAM berat dan operasi militer.
  • Kegagalan negara mengungkap nasib ribuan korban menunjukkan lemahnya upaya hukum dalam memberikan keadilan bagi keluarga para korban.

Suara.com - Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) membedah pola penghilangan paksa yang terjadi di Indonesia dalam diskusi publik bertajuk "Menunggu Mereka Kembali: Impunitas dan Kegagalan Negara Menuntaskan Penghilangan Paksa" yang digelar secara daring, Jumat (5/6/2026).

Anggota Kontras, Jessenia Destarini, menjelaskan bahwa riset yang dilakukan lembaganya berfokus pada pola penghilangan paksa serta posisi kejahatan tersebut dalam sistem hukum Indonesia.

Menurutnya, praktik penghilangan paksa di Indonesia dapat dikategorikan ke dalam tiga kelompok besar, yakni yang terjadi dalam peristiwa pelanggaran HAM berat, operasi militer, serta penghilangan paksa jangka pendek saat aksi demonstrasi.

"Penghilangan paksa yang terjadi dalam peristiwa pelanggaran berat HAM tercatat terjadi dalam sembilan peristiwa, dari total 17 peristiwa yang telah ditetapkan oleh Komnas HAM melalui penyelidikan pro justitia," ujar Jessenia dalam pemaparannya.

Sembilan peristiwa tersebut meliputi tragedi 1965-1966, Penembakan Misterius (Petrus), Tanjung Priok, Talang Sari, Rumoh Geudong, Penghilangan Paksa 1997-1998, Timor Timur 1999, Wasior 2001, dan Timang Gajah 2001.

Meski sejumlah korban telah berhasil diidentifikasi, Jessenia menilai jumlah korban sebenarnya kemungkinan jauh lebih besar dibandingkan data yang tersedia saat ini.

"Nyatanya, angka yang sesungguhnya sangat mungkin jauh lebih besar dari angka yang mampu diidentifikasi baik oleh Komnas HAM maupun oleh Kontras," tegasnya.

Aktor Militer dan Motif Politik

Praktik penghilangan paksa di tanah air terbagi dalam tiga kategori besar. (tangkap layar)
Praktik penghilangan paksa di tanah air terbagi dalam tiga kategori besar. (tangkap layar)

Dalam analisisnya, Kontras menemukan bahwa aktor yang paling dominan dalam berbagai kasus penghilangan paksa adalah aparat militer, meskipun dalam beberapa peristiwa juga ditemukan keterlibatan aparat kepolisian.

baca juga

Pola yang kerap ditemukan dimulai dari perampasan kebebasan secara sewenang-wenang hingga pengambilan paksa korban dari tempat penahanan. Setelah itu, korban tidak pernah kembali dan keberadaannya tidak diketahui.

Selain dalam kasus pelanggaran HAM berat masa lalu, praktik penghilangan paksa juga disebut terjadi secara masif di wilayah operasi militer.

Berdasarkan laporan Komisi Kebenaran, tercatat sedikitnya 1.438 korban penghilangan paksa di Timor-Timur selama periode 1975-1999 dan 371 korban di Aceh pada rentang 1976-2005.

Sementara itu, situasi di Papua dinilai berbeda karena hingga kini belum tersedia data terintegrasi mengenai jumlah korban penghilangan paksa.

Jessenia mengatakan kondisi tersebut dipengaruhi oleh minimnya keterbukaan informasi serta belum dibentuknya Komisi Kebenaran di Papua.

"Padahal pembentukan Komisi Kebenaran di Papua sejatinya merupakan mandat Pasal 46 Undang-Undang Otonomi Khusus Papua tahun 2001," ungkapnya.

Kontras mencatat sejumlah kasus penghilangan paksa yang pernah terjadi di Papua, di antaranya peristiwa Teminabuan (1966-1967), Sentani (1970), Biak Berdarah (1998), serta kasus Theys Eluay dan Aristoteles Masoka pada 2001.

Menurut Kontras, belum tuntasnya berbagai kasus tersebut menunjukkan masih kuatnya impunitas dan belum optimalnya upaya negara dalam mengungkap nasib para korban maupun memberikan keadilan bagi keluarga yang ditinggalkan.

Reporter: Tsabita Aulia
 
 
 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Ratusan Aktivis dan Intelektual Gelar Konferensi Republik Soroti Krisis Demokrasi hingga Oligarki

Ratusan Aktivis dan Intelektual Gelar Konferensi Republik Soroti Krisis Demokrasi hingga Oligarki

News | Jum'at, 29 Mei 2026 | 10:00 WIB

Keluarga Korban Mei 98 Tagih Nyali Prabowo: Kami Lelah Diombang-ambing Bak Bola Pingpong

Keluarga Korban Mei 98 Tagih Nyali Prabowo: Kami Lelah Diombang-ambing Bak Bola Pingpong

News | Jum'at, 29 Mei 2026 | 13:02 WIB

Aksi Kamisan di Istana: Menagih Janji Negara yang Hobi Lupa pada Korban Penghilangan Paksa

Aksi Kamisan di Istana: Menagih Janji Negara yang Hobi Lupa pada Korban Penghilangan Paksa

News | Kamis, 28 Mei 2026 | 19:56 WIB

Terkini

Hasil Porprov Jateng 2026: Tumbang dari Semarang, Tim Softball Solo Sabet Medali Perak

Hasil Porprov Jateng 2026: Tumbang dari Semarang, Tim Softball Solo Sabet Medali Perak

Surakarta | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 15:20 WIB

Layanan Premium Makin Diperluas, Jangkau TV Micro RGB evo hingga WashTower

Layanan Premium Makin Diperluas, Jangkau TV Micro RGB evo hingga WashTower

Tekno | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 15:20 WIB

Bahasa Indonesia Kalah Populer di Negeri Sendiri, Mengapa?

Bahasa Indonesia Kalah Populer di Negeri Sendiri, Mengapa?

Your Say | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 15:20 WIB

Menperin Usul Insentif Mobil Hybrid di Tengah Rendahnya Rasio Kepemilikan Mobil

Menperin Usul Insentif Mobil Hybrid di Tengah Rendahnya Rasio Kepemilikan Mobil

Otomotif | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 15:20 WIB

Kemarau Panjang di Kandangwesi, Bagaimana Masyarakat Adat Pulihkan Hutan Demi Jaga Sumber Air?

Kemarau Panjang di Kandangwesi, Bagaimana Masyarakat Adat Pulihkan Hutan Demi Jaga Sumber Air?

Lifestyle | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 15:18 WIB

Downgrade Lifestyle! 3 Subtitusi Fortuner, Pajero Sport, dan Innova: 7 Seater Irit, Kolong Tinggi

Downgrade Lifestyle! 3 Subtitusi Fortuner, Pajero Sport, dan Innova: 7 Seater Irit, Kolong Tinggi

Otomotif | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 15:17 WIB

Kalau Terdaftar Judol, Apa yang Harus Dilakukan?

Kalau Terdaftar Judol, Apa yang Harus Dilakukan?

Lifestyle | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 15:15 WIB

Dijejali Jargon NKRI tapi Warga Perbatasan Melarat: Di Mana Keadilan Itu?

Dijejali Jargon NKRI tapi Warga Perbatasan Melarat: Di Mana Keadilan Itu?

Your Say | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 15:15 WIB

5 Sunscreen untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas

5 Sunscreen untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas

Lifestyle | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 15:12 WIB

Bosan dengan Olahan Sosis yang Itu-Itu Saja? Coba Kreasi Ini Buat Menu Makin Bervariasi

Bosan dengan Olahan Sosis yang Itu-Itu Saja? Coba Kreasi Ini Buat Menu Makin Bervariasi

Lifestyle | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 15:09 WIB

×