- Pemprov DKI Jakarta dan BMKG meluncurkan sistem peringatan dini kualitas udara untuk memantau polusi di seluruh kecamatan Jakarta.
- Teknologi SILAM Urban memetakan enam jenis polutan secara detail untuk menyediakan prakiraan kualitas udara tiga hari ke depan.
- Masyarakat dapat memanfaatkan data tersebut untuk melakukan tindakan pencegahan kesehatan serta menyesuaikan aktivitas harian demi menghindari paparan polusi.
Suara.com - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyiapkan sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS) kualitas udara demi melindungi kesehatan masyarakat dari ancaman pencemaran udara.
Sistem ini memungkinkan warga Jakarta mengetahui prakiraan kondisi kualitas udara hingga tiga hari ke depan, sehingga dapat mengambil langkah antisipasi lebih awal.
BMKG mengembangkan sistem prakiraan tersebut melalui teknologi pemodelan kualitas udara berbasis spasial bernama SILAM Urban, yang mampu memetakan kondisi polusi secara rinci hingga radius satu kilometer dengan cakupan seluruh 44 kecamatan di Jakarta.
Koordinator Sub Bidang Informatif Gas Rumah Kaca BMKG, Albert C Nahas, menjelaskan bahwa SILAM Urban dibangun menggunakan data inventori emisi lokal, mulai dari emisi sektoral hingga emisi polutan.
“Informasi yang dihasilkan mencakup enam jenis polutan utama, termasuk PM2.5. Melalui SILAM Urban, masyarakat dapat melihat peta kualitas udara per kecamatan di Jakarta, tren ISPU hingga tiga hari ke depan, kondisi meteorologi, peringkat kecamatan berdasarkan kualitas udara, hingga grafik konsentrasi polutan yang memudahkan pemantauan kualitas udara sehari-hari,” ujar Albert, mengutip laman resmi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Sabtu (6/6/2026).
Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Dudi Gardesi, menyebut pengembangan EWS kualitas udara merupakan bagian dari langkah strategis Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk memperkuat upaya pencegahan pencemaran udara sekaligus meningkatkan perlindungan kesehatan masyarakat.
“EWS kualitas udara ini kami siapkan sebagai instrumen pencegahan. Dengan mengetahui potensi kondisi kualitas udara beberapa hari ke depan, pemerintah dapat memperkuat langkah mitigasi yang diperlukan, sementara masyarakat memiliki waktu untuk menyesuaikan aktivitas dan melakukan langkah perlindungan diri sejak dini,” jelas Dudi.
Dudi menambahkan bahwa informasi prakiraan kualitas udara akan sangat bermanfaat bagi kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta warga dengan riwayat gangguan pernapasan.
Warga yang mendapati prakiraan kualitas udara memburuk disarankan mengambil langkah antisipatif, seperti mengenakan masker atau mengurangi aktivitas di luar ruangan.
“Kolaborasi Pemprov DKI Jakarta dan BMKG ini diharapkan menghadirkan sistem informasi kualitas udara yang lebih akurat, prediktif, dan mudah diakses masyarakat, sehingga warga memiliki perlindungan yang lebih baik terhadap risiko pencemaran udara,” tandas Dudi.
Sebagaimana diketahui, kualitas udara Jakarta memang masih sering mendapat sorotan karena kadar tercemarnya yang cukup tinggi.
Contohnya seperti hari ini, di mana Jakarta masih masuk kategori lima besar kota di dunia dengan kualitas udara terburuk.