- Ganjar Pranowo menonton film Ghost in the Cell karya Joko Anwar di kawasan Megaria, Jakarta, Minggu (7/6/2026).
- Ganjar menilai film tersebut memberikan kritik tajam terkait ketimpangan sosial dan kondisi nyata di Indonesia saat ini.
- Acara nonton bareng tersebut dihadiri sejumlah tokoh PDIP untuk memperingati momentum Bulan Bung Karno secara kreatif.
Suara.com - Ketua DPP PDI Perjuangan (PDIP) Ganjar Pranowo menilai film Ghost in the Cell karya sutradara Joko Anwar menyajikan kritik sosial yang tajam terhadap berbagai persoalan di Indonesia.
Pesan yang disampaikan film tersebut menurutnya juga terasa "nyelekit" dan berhasil menggambarkan kondisi republik saat ini.
Pernyataan itu disampaikan Ganjar usai mengikuti nonton bareng Ghost in the Cell yang digelar Kulturnesia dalam rangka peringatan Bulan Bung Karno di kawasan Megaria, Jakarta Pusat, Minggu (7/6/2026).
"Sindirannya lumayan nyelekit gitu ya, meskipun horornya juga wah, ngeri juga. Tapi pesan-pesannya menjadi sampai, bahwa kondisi Republik seperti ini," kata Ganjar kepada wartawan.
Mantan Gubernur Jawa Tengah itu menilai karya seni, termasuk film, merupakan ruang penting bagi anak-anak bangsa untuk menyampaikan keresahan sosial yang mereka rasakan.
Menurut Ganjar, momentum Bulan Bung Karno seharusnya menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengekspresikan gagasan dan kritik secara kreatif.
Ganjar mengaku menangkap sejumlah pesan kuat dalam film tersebut, termasuk gambaran soal ketimpangan sosial hingga praktik-praktik yang terjadi di balik tembok penjara.
"Oh ternyata orang di penjara itu pesannya bisa macam-macam. Ada kelasnya kali ya? Ada kelas atas tempatnya tersendiri, kelas bawah tempatnya lain. Bahkan tadi ada tur ke penjaranya, disebutkan oh itu ada kelompoknya dia, ini ada kelompok ini,” ungkapnya.
“Ada preman bayaran di dalam, ada bisnisnya. Saya tidak tahu apakah itu merepresentasikan cerita nyata, tapi saya kira sutradara sudah melihat situasi kondisi untuk ditampilkan dalam sebuah visual film," lanjutnya.
Bagi Ganjar, kritik yang disampaikan melalui film justru penting agar institusi negara terus berbenah dan menjaga integritas.
Ia menegaskan bahwa berbagai medium seni perlu terus diberi ruang karena mampu mewakili kegelisahan publik tanpa harus selalu disampaikan melalui cara-cara yang konfrontatif.
"Menurut saya itu ruang ekspresi yang bisa merepresentasikan berbagai kelompok dan kegelisahan. Jadi ada lukis, ada film, mungkin nyanyi, puisi, atau barangkali mendongeng,"katanya.
![Wakil Gubernur Jakarta Rano Karno usai nonton bareng film Ghost in the Cell yang digelar Kulturnesia dalam rangka peringatan Bulan Bung Karno di kawasan Megaria, Jakarta Pusat, Minggu (7/6/2026). [Suara.com/Faqih]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/06/07/84387-rano-karno.jpg)
Rano Karno: Saya Tidak Suka Film Joko Anwar
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Gubernur Jakarta Rano Karno melontarkan candaan soal karya-karya Joko Anwar.
Rano mengaku dirinya termasuk orang yang "tidak suka" film-film Joko Anwar, tetapi dengan alasan yang berbeda.
"Saya jujur salah satu orang yang tidak suka film Joko (Anwar). Tidak suka karena membuat saya ingin menonton filmnya," kata Rano disambut tawa peserta acara.
Pria yang akrab disapa Bang Doel itu mengaku pertama kali terpikat oleh karya Joko Anwar saat menonton film Pengabdi Setan.
"Pertama kali saya nonton yaitu Pengabdi Setan. Luar biasa," ujarnya.
Rano mengatakan kehadirannya dalam acara nonton bareng tersebut memiliki dua kapasitas sekaligus, yakni sebagai Wakil Gubernur Jakarta dan sebagai insan perfilman.
"Pertama, saya menjadi Wakil Gubernur yang sangat menyambut kegiatan ini karena Jakarta sedang mendesain Jakarta Film Commission. Yang kedua, saya bicara sebagai orang film barangkali," katanya.
Selain Ganjar dan Rano, acara tersebut juga dihadiri sejumlah tokoh PDI Perjuangan, antara lain Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto, Kepala BKN PDIP Once Mekel, serta Krisdayanti.