- Connie Rahakundini Bakrie mengkritik pelaksanaan program MBG karena dianggap terlalu tergesa-gesa tanpa melalui uji coba matang.
- Ia khawatir program tersebut berpotensi menjadi proyek bagi kelompok tertentu dan mengabaikan kesejahteraan anak sebagai tujuan utamanya.
- Connie mendesak adanya pengawasan ketat serta transparansi anggaran untuk mencegah terjadinya penyimpangan dana dalam pelaksanaan program berskala nasional.
Suara.com - Pengamat militer, Connie Rahakundini Bakrie, meminta Presiden Prabowo Subianto membuka ruang lebih luas untuk menerima masukan dari berbagai kalangan, termasuk akademisi dan tokoh-tokoh senior yang berpengalaman dalam pemerintahan.
Menurut Connie, kondisi Indonesia saat ini menghadapi berbagai persoalan yang membutuhkan pemikiran matang, sehingga Presiden tidak boleh hanya bergantung pada lingkaran sempit di sekitarnya.
Hal tersebut disampaikan Connie ketika membahas arah pemerintahan Prabowo beberapa bulan setelah menjabat sebagai Presiden.
Connie secara terbuka menyinggung posisi Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya yang menurutnya terlalu dominan dalam lingkaran kekuasaan Presiden.
"Yang Pak Prabowo mesti denger sekarang, coba suruh Teddy libur dulu ke mana nggak tahu saya, ke kutub kek, ke Afrika ke mana gua nggak ngertilah suruh dia ngapain. Jangan ada dulu Teddy," kata Connie, dikutip dari kanal YouTube Refly Harun Podcast, Sabtu (13/6/2026).
Menurut dia, Presiden perlu meluangkan waktu untuk berdiskusi dengan orang-orang yang telah memiliki pengalaman panjang dalam mengelola negara.
"Dia duduk dengan semua orang-orang terdekat dia yang betul-betul sudah punya asam garam, yang matang," ujarnya.
Connie kemudian menyebut beberapa tokoh yang menurutnya layak didengar oleh Presiden.
"Dengarkan Pak Dasco, dengarkan Pak Sjafrie, dengarkanlah semua orang, nggak cuma Pak Dasco sama Pak Sjafrie ya, yang lain-lain-lain. Tapi dengarkan orang-orang ini termasuk dengarkan akademisi," katanya.
Ia menilai saat ini muncul persepsi di tengah masyarakat bahwa akses terhadap Presiden semakin terbatas. Bahkan, menurut Connie, berkembang pandangan di media sosial yang menilai sosok Teddy memiliki pengaruh yang sangat besar dalam pemerintahan.
"Semua akses ke beliau tuh ditutup. Jadi the real president tuh adalah Teddy. Orang udah sampai... bukan saya nyimpulin nih, kalau saya baca sosial media kan udah kayak begitu," ujarnya.
![Guru Besar ST. Petersburg, Connie Rahakundini Bakrie [Youtube Budiman Tanuredjo]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/08/07/86539-connie-rahakundini.jpg)
Lebih jauh, Connie menilai Presiden perlu kembali mengedepankan proses diskusi dan kajian dalam setiap pengambilan keputusan strategis.
Ia mengkritik pandangan yang menganggap kekuatan negara hanya ditentukan oleh militer dan alat utama sistem persenjataan (alutsista).
"Kekuatan tuh di pikiran. Ini udah hilang di Pak Prabowo sekarang. Seolah kekuatan tuh di besi, di senjata, di alutsista, di alpalhankam. No, kekuatan negara itu kekuatan bangsa itu di pikirannya. Makannya lahir peradaban kan," kata Connie.
Menurut dia, sejarah menunjukkan bahwa kemajuan bangsa lahir dari gagasan dan pemikiran yang kuat, bukan semata-mata dari kekuatan fisik.
Karena itu, Connie berharap Presiden dapat lebih banyak menyerap pandangan dari berbagai elemen masyarakat sebelum menentukan arah kebijakan negara.
Reporter: Dinda Pramesti K