CELIOS Soroti Pendamping Presiden dalam Kunjungan Luar Negeri, Dinilai Abaikan Peran Diplomat

Vania Rossa

Senin, 15 Juni 2026 | 16:25 WIB
CELIOS Soroti Pendamping Presiden dalam Kunjungan Luar Negeri, Dinilai Abaikan Peran Diplomat
Peneliti Hukum Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Muhammad Saleh, saat melakukan wawancara di kantor Suara.com. [Suara.com]
  • Presiden Prabowo dikritik karena melakukan 56 kunjungan luar negeri dengan membawa rombongan pribadi daripada melibatkan diplomat profesional.
  • Peneliti CELIOS menyatakan praktik tersebut mengabaikan prinsip meritokrasi serta dianggap tidak efisien dalam penggunaan anggaran pajak negara.
  • Pengabaian peran strategis duta besar dalam kunjungan kenegaraan berpotensi menurunkan citra kompetensi korps diplomatik Indonesia di mata dunia.

Suara.com - Intensitas kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto yang disebut telah mencapai 56 kali dalam satu setengah tahun masa pemerintahannya menuai kritik. Tak hanya terkait besaran anggaran, komposisi rombongan yang mendampingi Presiden dalam lawatan internasional juga menjadi sorotan karena dinilai mengabaikan peran diplomat profesional dan berpotensi mengikis prinsip meritokrasi.

Peneliti Hukum Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Muhammad Saleh, menyayangkan sikap Presiden yang dinilai lebih mengandalkan lingkaran terdekatnya, seperti Sekretaris Kabinet (Seskab) hingga anggota keluarga, dibandingkan memberdayakan duta besar maupun diplomat yang bertugas di negara tujuan.

Menurut Saleh, kondisi tersebut menjadi ironi mengingat para diplomat Indonesia di luar negeri dibiayai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang bersumber dari pajak masyarakat.

"Untuk apa? Kita membayar diplomat-diplomat kita di luar negeri itu pakai APBN. Itu uang pajak rakyat. Itu kenapa kita sebagai masyarakat merasa bisa marah. Karena dana pajak kita, gaji mereka di luar negeri itu didanai oleh dana masyarakat di Indonesia," ujar Saleh dalam podcast di kantor Suara.com, Jakarta Barat, dikutip Senin (15/6/2026).

Saleh menekankan bahwa setiap kunjungan kenegaraan memiliki protokol dan standar yang seharusnya dijalankan berdasarkan prinsip meritokrasi. Ia menilai terdapat kecenderungan mencampuradukkan kepentingan publik dengan kepentingan privat ketika Presiden membawa orang-orang di luar struktur diplomatik dalam agenda resmi negara.

"Kita mendorong agar pemerintah mengedepankan prinsip meritokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan. Kita sudah mendorong agar pihak-pihak yang menduduki jabatan publik, seperti Menteri Luar Negeri maupun kedutaan besar kita, adalah diplomat-diplomat ulung yang dipilih untuk menduduki jabatan-jabatan tersebut," tegasnya.

Lebih lanjut, Saleh mengingatkan bahwa pemisahan antara kepentingan publik dan kepentingan pribadi merupakan standar etika yang berlaku secara internasional.

"Ini sudah standar etik global. Ini bukan urusan domestik di Indonesia saja. Jadi kalau Anda melakukan lawatan ke luar negeri, standar etik globalnya itu bicara soal kenegaraan, bukan urusan-urusan personal," tambahnya.

Nilai Citra Diplomat Bisa Terdampak

Saleh juga menilai minimnya peran strategis duta besar dalam mendampingi Presiden berpotensi menimbulkan persepsi negatif terhadap korps diplomatik Indonesia di mata dunia.

Menurutnya, apabila Presiden terus mengandalkan orang-orang kepercayaan di luar jalur diplomatik resmi, fungsi kelembagaan kedutaan besar dapat terkesan tidak dimanfaatkan secara optimal.

"Yang rugi siapa? Masyarakat juga. Nah, ini yang membuat publik akhirnya tidak terima dengan cara-cara yang dilakukan oleh pemerintah hari ini. Membuat diplomat-diplomat kita terlihat incompetent di mata penyelenggara negara, padahal sebenarnya tidak juga incompetent," ujarnya.

Reporter: Tsabita Aulia

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Megawati: Saya Bukan Musuh Prabowo!

Megawati: Saya Bukan Musuh Prabowo!

News | Senin, 15 Juni 2026 | 16:17 WIB

Bahaya Konflik Kepentingan di Balik Dana Pribadi Prabowo untuk Diplomasi Luar Negeri

Bahaya Konflik Kepentingan di Balik Dana Pribadi Prabowo untuk Diplomasi Luar Negeri

News | Senin, 15 Juni 2026 | 16:04 WIB

Bukan Negara Kerajaan, Gaya Prabowo Soal Urusan Privat dan Negara Tuai Kritikan

Bukan Negara Kerajaan, Gaya Prabowo Soal Urusan Privat dan Negara Tuai Kritikan

News | Senin, 15 Juni 2026 | 15:57 WIB

Terkini

Sejarah Panjang Program Nuklir Iran dan Ketegangan dengan Amerika Serikat dari 1967 - 2026

Sejarah Panjang Program Nuklir Iran dan Ketegangan dengan Amerika Serikat dari 1967 - 2026

News | Senin, 15 Juni 2026 | 16:24 WIB

Aksi di DPR Memanas! Peserta Demo Cipayung Menggugat Ngaku Dianiaya Polisi usai Ditangkap

Aksi di DPR Memanas! Peserta Demo Cipayung Menggugat Ngaku Dianiaya Polisi usai Ditangkap

News | Senin, 15 Juni 2026 | 16:19 WIB

Megawati: Saya Bukan Musuh Prabowo!

Megawati: Saya Bukan Musuh Prabowo!

News | Senin, 15 Juni 2026 | 16:17 WIB

PDIP Tegaskan Tutup Buku dengan Jokowi: Mau Pakai Jaket PSI, Itu Urusannya

PDIP Tegaskan Tutup Buku dengan Jokowi: Mau Pakai Jaket PSI, Itu Urusannya

News | Senin, 15 Juni 2026 | 16:17 WIB

Bos Blueray Akui Beri Rp 21 Miliar ke Dirjen Bea Cukai, KPK Buka Peluang Kembangkan Penyidikan

Bos Blueray Akui Beri Rp 21 Miliar ke Dirjen Bea Cukai, KPK Buka Peluang Kembangkan Penyidikan

News | Senin, 15 Juni 2026 | 16:09 WIB

Bahaya Konflik Kepentingan di Balik Dana Pribadi Prabowo untuk Diplomasi Luar Negeri

Bahaya Konflik Kepentingan di Balik Dana Pribadi Prabowo untuk Diplomasi Luar Negeri

News | Senin, 15 Juni 2026 | 16:04 WIB

Pangi Syarwi: Kalau Bicara Gibran Lihat Jokowi di Belakangnya, Bisa Jadi Dia Presiden Malam Kan

Pangi Syarwi: Kalau Bicara Gibran Lihat Jokowi di Belakangnya, Bisa Jadi Dia Presiden Malam Kan

News | Senin, 15 Juni 2026 | 16:00 WIB

Mendagri Apresiasi Stabilitas Inflasi Mei 2026, Minta Daerah Waspadai Kenaikan Minyak Goreng

Mendagri Apresiasi Stabilitas Inflasi Mei 2026, Minta Daerah Waspadai Kenaikan Minyak Goreng

News | Senin, 15 Juni 2026 | 15:58 WIB

Bukan Negara Kerajaan, Gaya Prabowo Soal Urusan Privat dan Negara Tuai Kritikan

Bukan Negara Kerajaan, Gaya Prabowo Soal Urusan Privat dan Negara Tuai Kritikan

News | Senin, 15 Juni 2026 | 15:57 WIB

Mahasiswa UBK: Presiden Kerap Tinggalkan Rakyat, Kedaulatan Masih Mengemis!

Mahasiswa UBK: Presiden Kerap Tinggalkan Rakyat, Kedaulatan Masih Mengemis!

News | Senin, 15 Juni 2026 | 15:51 WIB