Pengamat UMY Soal Safari Politik Jokowi dan PSI: Upaya Amankan Oligarki Lewat Politik 'Bagi Uang'

Bangun Santoso, Hiskia Andika Weadcaksana

Senin, 29 Juni 2026 | 14:59 WIB
Pengamat UMY Soal Safari Politik Jokowi dan PSI: Upaya Amankan Oligarki Lewat Politik 'Bagi Uang'
Blusukan Jokowi di Lampung. (Ist)
baca 10 detik
  • Pengamat politik Zuly Qodir menilai safari politik Jokowi bersama PSI bertujuan memperkuat pengaruh politik dan mengamankan kepentingan oligarkinya.
  • Strategi Jokowi menyasar peningkatan elektabilitas PSI yang dipimpin putranya guna menjaga dominasi kekuasaan pada Pemilu 2029 mendatang.
  • Praktik politik uang melalui pola blusukan dinilai efektif karena rendahnya kesadaran politik masyarakat yang cenderung bersifat transaksional.

Suara.com - Pengamat Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Zuly Qodir, menilai safari politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo atau Jokowi bersama Partai Solidaritas Indonesia (PSI) merupakan bagian dari strategi untuk memperkuat posisi partai tersebut menjelang Pemilu 2029.

Menurutnya, langkah itu tidak hanya bertujuan mendongkrak elektabilitas PSI. Lebih dari itu, Jokowi disebut ingin mempertahankan pengaruh politik dan ekonomi yang telah dibangun selama satu dekade terakhir.

Zuly mengatakan Jokowi masih meyakini dirinya memiliki pengaruh kuat terhadap pemilih.

Oleh sebab itu, ia menilai Jokowi berkepentingan memastikan PSI yang kini dipimpin putranya mampu meraih suara besar pada pemilu mendatang.

"Karena itu anaknya sebagai ketua PSI, maka ya dia tidak mau dong ketinggalan kalau nanti partai anaknya itu tidak mendapatkan suara," kata Zuly kepada Suara.com, Senin (29/6/2026).

Belum lagi, ia yang menyoroti adanya perpindahan sejumlah tokoh politik ke PSI. Hal tersebut dinilainya sebagai bagian dari upaya memperkuat mesin partai sekaligus menjaga dominasi politik dan kepentingan oligarki Jokowi.

"Ini salah satu hal yang menurut hemat saya, bagaimanapun Jokowi dalam rangka mengamankan suara anaknya dan mengamankan oligarki yang saat ini sudah dibangun selama 10 tahun sebelumnya," ujarnya.

Zuly menilai pola safari politik yang dilakukan dengan mendatangi masyarakat berpotensi disertai praktik politik uang.

Menurutnya, cara seperti itu masih dianggap efektif selama masyarakat memilih berdasarkan imbalan materi, bukan pertimbangan rasional terhadap kualitas calon maupun partai.

baca juga

"Datang ke masyarakat macam-macam itu bukan datang sembarangan loh itu. Itu datang dengan membawa duit atau dengan membawa modal yang nanti akan dibagi-bagikan. Salah satunya adalah membagikan modal, membagikan uang kepada masyarakat, lalu kemudian nanti masyarakat simpati," ungkapnya.

Lebih jauh, kata Zuly, persoalan utama terletak pada rendahnya kesadaran politik masyarakat.

Kondisi tersebut membuat praktik politik transaksional terus bertahan dan membuka ruang bagi elite politik untuk mempertahankan kekuasaannya.

"Kok bisa-bisanya ya dengan secepat kilat masyarakat itu menerima saja orang yang datang ke mana-mana membawa duit lalu memilih partainya atau memilih partai-partai yang memberikan duit. Itu artinya memang kesadaran politik masyarakat kita itu sangat rendah, tidak kritikal. Tidak kritis," tandasnya.

Terkait pola blusukan masih akan efektif apabila budaya politik patron-klien dan paternalistik tetap mengakar.

Namun, ia menilai keuntungan dari pola tersebut hanya akan dinikmati segelintir elite, sementara masyarakat kembali menjadi objek mobilisasi politik.

Pihaknya mengingatkan praktik semacam itu pada akhirnya dapat merusak kualitas demokrasi Indonesia.

Media, perguruan tinggi, organisasi kemasyarakatan, dan masyarakat sipil diajak untuk meningkatkan pendidikan politik agar masyarakat menjadi pemilih yang lebih kritis.

"Ya blusukannya (Jokowi) orang akan melihat, semuanya sudah tahu sih sebetulnya bahwa itu blusukan tipu-tipu. Tapi kan tadi, masyarakat kita tuh gampang amnesia, pelupa, yang penting dibayar, selesai urusan. 'Ah daripada enggak dapat apa-apa, lebih baik milih yang membayar', kan begitu?" tandasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Pedas! Guntur Romli Sebut Kepala Kerbau Diinjak Jokowi Simbol Loyalis Terbuai Perilaku Raja

Pedas! Guntur Romli Sebut Kepala Kerbau Diinjak Jokowi Simbol Loyalis Terbuai Perilaku Raja

News | Senin, 29 Juni 2026 | 14:23 WIB

Naik Pitam! Roy Suryo Semprot Pendukung Jokowi yang Mau Intervensi Sidang Praperadilan

Naik Pitam! Roy Suryo Semprot Pendukung Jokowi yang Mau Intervensi Sidang Praperadilan

News | Senin, 29 Juni 2026 | 14:11 WIB

Jokowi Injak Kepala Kerbau, PDIP Tertawa

Jokowi Injak Kepala Kerbau, PDIP Tertawa

News | Senin, 29 Juni 2026 | 12:59 WIB

Roy Suryo: Penangkapan Saya Seperti Film G30S/PKI, Polisi Masuk Kamar dan Larang Mandi!

Roy Suryo: Penangkapan Saya Seperti Film G30S/PKI, Polisi Masuk Kamar dan Larang Mandi!

News | Senin, 29 Juni 2026 | 10:54 WIB

Roy Suryo Telat Masuk Ruang Sidang: Tadi Saya Harus Wajib Lapor Dulu di Kejaksaan Jaksel

Roy Suryo Telat Masuk Ruang Sidang: Tadi Saya Harus Wajib Lapor Dulu di Kejaksaan Jaksel

News | Senin, 29 Juni 2026 | 10:13 WIB

Gugat Polisi dan Jaksa di Kasus Ijazah Jokowi! Roy Suryo Jalani Sidang Praperadilan Hari Ini

Gugat Polisi dan Jaksa di Kasus Ijazah Jokowi! Roy Suryo Jalani Sidang Praperadilan Hari Ini

News | Senin, 29 Juni 2026 | 09:02 WIB

Pakar Manajemen Publik: Ambisi Politik Keluarga Jokowi Berisiko Rusak Kepercayaan Demokrasi

Pakar Manajemen Publik: Ambisi Politik Keluarga Jokowi Berisiko Rusak Kepercayaan Demokrasi

News | Minggu, 28 Juni 2026 | 22:53 WIB

Terkini

Main 10 Orang, Indonesia Tahan Malaysia 0-0 di SUGBK

Main 10 Orang, Indonesia Tahan Malaysia 0-0 di SUGBK

Foto | Selasa, 29 September 2026 | 06:00 WIB

HUT ke-81, KAI Layani 258,9 Juta Pelanggan pada Semester I 2026

HUT ke-81, KAI Layani 258,9 Juta Pelanggan pada Semester I 2026

Foto | Selasa, 29 September 2026 | 05:05 WIB

Suporter Malaysia Klaim Ditahan Lebih dari Sejam Usai Laga Lawan Timnas Indonesia

Suporter Malaysia Klaim Ditahan Lebih dari Sejam Usai Laga Lawan Timnas Indonesia

Bola | Senin, 28 September 2026 | 23:30 WIB

Tanggal Merah untuk Ibu: Bukan Sekadar Me Time tapi Waktu untuk Recovery

Tanggal Merah untuk Ibu: Bukan Sekadar Me Time tapi Waktu untuk Recovery

Lifestyle | Senin, 28 September 2026 | 23:23 WIB

Hari Pertambangan dan Energi, PTBA Perkuat Pasokan dan Hilirisasi untuk Kemandirian Energi

Hari Pertambangan dan Energi, PTBA Perkuat Pasokan dan Hilirisasi untuk Kemandirian Energi

Sumsel | Senin, 28 September 2026 | 23:16 WIB

Kata-kata John Herdman Usai Timnas Indonesia Ditahan Malaysia Tanpa Gol di GBK

Kata-kata John Herdman Usai Timnas Indonesia Ditahan Malaysia Tanpa Gol di GBK

Bola | Senin, 28 September 2026 | 23:05 WIB

Timnas Indonesia Tak Mampu Kalahkan Malaysia, Nama Shin Tae-yong Menggema di GBK

Timnas Indonesia Tak Mampu Kalahkan Malaysia, Nama Shin Tae-yong Menggema di GBK

Bola | Senin, 28 September 2026 | 23:05 WIB

Halloween di Singapura, Ada Rumah Hantu hingga Dunia Bawah Laut Penuh Cahaya

Halloween di Singapura, Ada Rumah Hantu hingga Dunia Bawah Laut Penuh Cahaya

Lifestyle | Senin, 28 September 2026 | 23:04 WIB

Tan Cheng Hoe Angkat Tangan: Pertahanan 10 Pemain Timnas Indonesia Sangat Sulit Ditembus

Tan Cheng Hoe Angkat Tangan: Pertahanan 10 Pemain Timnas Indonesia Sangat Sulit Ditembus

Bola | Senin, 28 September 2026 | 23:01 WIB

Guruh Soekarnoputra Berpulang, Mengapa Kepergiannya Begitu Berarti bagi Indonesia?

Guruh Soekarnoputra Berpulang, Mengapa Kepergiannya Begitu Berarti bagi Indonesia?

Sumsel | Senin, 28 September 2026 | 22:57 WIB

×