- Anggota BON JOWI, Lukas Luwarso, menilai daya tarik politik Joko Widodo menurun setelah tidak lagi menjabat sebagai Presiden RI.
- Safari politik Jokowi di Lampung sepi peminat karena ia tidak lagi memiliki akses mobilisasi massa melalui perangkat negara.
- Kondisi tersebut menunjukkan Jokowi kesulitan menyesuaikan diri terhadap perubahan respons publik dan hilangnya pengaruh kekuasaan pasca-menjabat presiden.
Suara.com - Joko Widodo atau Jokowi disebut mulai kehilangan daya tarik politik usai tak lagi menjabat sebagai Presiden RI.
Penilaian itu disampaikan anggota Tim Bongkar Ijazah Jokowi (BON JOWI), Lukas Luwarso, saat menjadi narasumber dalam podcast Madilog Forum Keadilan yang tayang pada Selasa (30/6/2026).
Dalam perbincangan tersebut, Lukas menilai safari politik Jokowi di Lampung menjadi gambaran bahwa situasi politik telah berubah.
Menurut dia, Jokowi tak lagi memiliki kemampuan memobilisasi massa seperti ketika masih memegang kekuasaan.
"Dia pikir dia masih sepopuler ketika dia masih jadi presiden. Kalau masih jadi presiden kan dia bisa menggerakkan aparat, polisi, TNI, birokrasi, semuanya harus mendukung, memobilisasi masyarakat untuk bergembira, menyambut," kata Lukas Luwarso.
"Tapi sekarang dia hanya mantan presiden, mobilisasi yang sifatnya formal menggunakan perangkat alat negara itu sudah tidak bisa dia lakukan lagi," tambahnya.
Ia menyinggung kegiatan dialog Jokowi di Lampung yang menurutnya tak dipenuhi peserta.
Lukas menyebut salah satu hal yang menjadi sorotan publik adalah banyaknya kursi kosong dalam acara tersebut.
"Kebanyakan yang datang di acara yang hari pertama itu justru acara dialog. Yang muncul di media sosial itu kursi yang kosong. Kalau pun ada yang hadir orang-orang yang memakai seragam kaos putih, kaosnya PSI. Itu sangat sedikit sekali," bebernya.
Lukas juga menilai Jokowi masih membawa cara pandang ketika menjabat sebagai kepala negara. Menurutnya, mantan presiden itu belum sepenuhnya keluar dari bayang-bayang kekuasaan.

"Problem Jokowi yang kelihatan yakin itu adalah carry over dari era dia jadi presiden. Jadi dia itu masih mengalami apa yang disebut post-power syndrome. Dia merasa masih bisa menyuruh orang. Dulu yang diperintah menteri, panglima TNI, kapolri. Sekarang orang yang diperintah justru bertanya, 'Oke, berapa nih?'" katanya.
Menurut Lukas, kondisi itu membuat Jokowi salah memperkirakan respons masyarakat terhadap agenda politik yang kini dijalaninya.
Ia bahkan menyebut citra Jokowi di mata publik sudah jauh berbeda dibanding beberapa tahun lalu.
"Image Jokowi ini sekarang sudah sangat buruk. Saya kira masyarakat setelah 10 tahun dan mulai melihat perilaku Jokowi dan keluarganya, mereka akan merasa malu kalau didatangi Jokowi dan tujuannya hanya satu, agar PSI menjadi partai yang punya pendukung," ucap Lukas.
Sebagai informasi, Jokowi menjadi sorotan usai menghadiri rangkaian kegiatan di Lampung belum lama ini.
Dalam agenda yang juga diisi pemberian gelar adat tersebut, beredar foto yang memperlihatkan Jokowi duduk di singgasana dengan salah satu kakinya berada di atas kepala kerbau yang telah disembelih.
Momen itu memicu perdebatan di media sosial. Sebagian pihak mempertanyakan makna simbolik dari tindakan tersebut, sementara pihak penyelenggara menjelaskan prosesi itu merupakan bagian dari rangkaian adat yang disiapkan dalam acara penyambutan Jokowi di Lampung.