-
Israel bersumpah menyerang Iran kembali demi menggagalkan kepemilikan senjata nuklir di kawasan.
-
Ancaman konfrontasi militer mencuat tepat setelah kesepakatan damai antara AS dan Iran berlaku.
-
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menegaskan penolakan keras terhadap segala bentuk kompromi diplomasi.
Suara.com - Israel menegaskan kesiapan untuk meluncurkan serangan militer susulan ke wilayah Iran guna menghentikan proyek persenjataan nuklir Teheran. Langkah sepihak ini diambil demi menggagalkan potensi kepemilikan bom atom yang dianggap mengancam eksistensi pertahanan mereka.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mendeklarasikan komitmen tersebut dalam sebuah wawancara khusus dengan stasiun televisi lokal Channel 14 pada hari Selasa. Ia mengklaim tindakan ofensif yang direncanakan negaranya menjadi kunci utama penyelamatan dari ancaman kehancuran massal.
Dalam kesempatan tersebut, Netanyahu menegaskan secara langsung sikap politiknya yang radikal terhadap program pertahanan Teheran.
![Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir melakukan tindakan provokasi dengan memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur. [Tangkap layar X]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/13/63609-tamar-ben-gvir-dan-benjamin-netanyahu.jpg)
"Di Iran, kami menyelamatkan diri kami sendiri dari bom atom," ujarnya dikutip dari Anadolu, Rabu (1/7/2026).
Pernyataan keras ini mencuat tepat setelah nota kesepahaman bersejarah antara Washington dan Teheran mulai diberlakukan secara resmi pada 18 Juni.
Perjanjian internasional tersebut ditegaskan melalui penandatanganan elektronik oleh Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Presiden AS Donald Trump dengan mediasi dari Pakistan.
Kesepakatan bilateral ini sebenarnya dirancang sebagai kerangka kerja strategis untuk mengakhiri perseteruan panjang melalui jalur negosiasi formal.
Fokus utama resolusi mencakup penghentian permusuhan, pencabutan sanksi ekonomi, regulasi nuklir, pemulihan jalur Selat Hormuz, hingga penataan keamanan kawasan.
Namun, pihak Tel Aviv secara konsisten memprotes keras segala bentuk kompromi diplomatik yang terjalin dengan pemerintah Iran. Israel menilai jalur diplomasi tidak akan efektif menahan ambisi militer Teheran sehingga opsi serangan fisik tetap dipertahankan.
Ketegangan antara Israel dan Iran berakar pada rivalitas geopolitik yang mendalam di kawasan Timur Tengah selama beberapa dekade terakhir.
Situasi kian meruncing seiring kemajuan teknologi pengayaan uranium Teheran yang memicu kekhawatiran global akan lahirnya kekuatan nuklir baru.
Kendati Amerika Serikat mencoba meredam eskalasi lewat pakta kerja sama baru, penolakan keras dari Israel menandakan bahwa stabilitas regional masih rapuh.