- Anak-anak di Jakarta memanfaatkan jalan aspal sebagai arena sepak bola karena minimnya akses lapangan yang terjangkau.
- Liga Akamsi dan Liga Aspal diselenggarakan di permukiman padat Jakarta untuk memfasilitasi bakat sepak bola anak-anak setempat.
- Anggota DPRD DKI Jakarta mendesak pemerintah menyediakan ruang bermain aman sebagai solusi atas risiko keselamatan di jalan.
Suara.com - Jalan aspal di sejumlah kampung padat Jakarta kini disulap menjadi arena sepak bola bagi anak-anak yang tak memiliki akses ke lapangan.
Fenomena ini terlihat dari munculnya dua liga sepak bola jalanan, Liga Akamsi dan Liga Aspal, yang digelar di tengah permukiman padat penduduk.
Liga Akamsi, singkatan dari Anak Kampung Sini, digagas oleh Mochamad Ichsan atau yang akrab disapa Kiwil, seorang suporter Persija berusia 23 tahun asal Penjaringan, Jakarta Utara.
Setelah edisi pertama digelar di Penjaringan, edisi kedua Liga Akamsi berlangsung di RW 05 Jembatan Lima/Sawah Lio, Tambora, Jakarta Barat, dengan diikuti delapan tim dari 14 RT dan total 48 anak.
Kompetisi yang berlangsung sekitar tiga bulan dengan lima kali penyelenggaraan ini digelar di atas jalan aspal yang ditutup sementara setiap dua pekan sekali.
Turnamen ini turut menjadi bagian dari perayaan Piala Dunia FIFA 2026, dan saat ini panitia tengah merencanakan edisi III meski lokasinya masih dirahasiakan.
Peserta Liga Akamsi dibatasi untuk usia 8 hingga 15 tahun dan wajib mengantongi izin orang tua atau wali serta verifikasi domisili RW.
Meski demikian, para peserta sendiri mengakui adanya risiko cedera akibat bermain di atas permukaan aspal yang keras.
Di Jakarta Pusat, fenomena serupa terjadi lewat Liga Aspal yang digagas Karang Taruna RW 08 Menteng Jaya di bawah kepemimpinan Andicka Prasetia atau Odoy, 27 tahun.
Liga yang baru pertama kali digelar ini berlangsung sejak 20 Juni 2026 dan ditargetkan rampung pada 18 Juli 2026, diperuntukkan bagi anak-anak usia di bawah 13 tahun di jalan kampung dekat jalur rel kereta api.
Kegiatan terinspirasi langsung dari Liga Akamsi di Tambora, yang lahir dari keresahan atas mahalnya sewa lapangan futsal berkisar Rp100.000 hingga Rp150.000 per jam sehingga menyulitkan anak-anak menyalurkan bakat.
Warga sempat bergotong royong selama tiga bulan membersihkan lahan kosong milik PT KAI untuk dijadikan lapangan, namun PT KAI menolak izin penggunaan lahan tersebut dengan alasan keamanan.
Panitia akhirnya berinisiatif membuat pengamanan mandiri berupa tiang dan jaring tinggi agar bola tidak masuk ke area rel kereta api.
Kedua liga ini merupakan bagian dari fenomena yang semakin menjamur di Jakarta, yang didorong oleh minimnya ruang terbuka hijau dan lapangan di permukiman padat.
Sebagai gambaran, Kecamatan Tambora tercatat memiliki kepadatan penduduk 47.683 jiwa per kilometer persegi dengan ruang terbuka hijau yang sangat terbatas, berdasarkan data BPS Jakarta Barat 2025.
Menanggapi fenomena ini, anggota DPRD DKI Jakarta Kevin Wu menyebut kondisi tersebut sebagai alarm bagi semua pihak.
"Menurut saya, fenomena anak-anak yang terpaksa bermain di jalan karena tidak memiliki lapangan atau ruang terbuka adalah alarm bagi kita semua. Anak-anak membutuhkan ruang yang aman untuk bermain, berolahraga, dan bersosialisasi," ujarnya dalam keterangan yang diterima Suara.com, Jumat (3/7/2026).
Kevin Wu juga menyoroti risiko yang ditanggung anak-anak akibat bermain di jalan raya.
"Bermain di jalan tentu berisiko terhadap keselamatan mereka sekaligus dapat mengganggu lalu lintas. Hal ini diangkat dalam laporan beberapa media terkemuka yang menggambarkan keterbatasan ruang bermain di kawasan permukiman padat," lanjut Anggota Komisi A DPRD DKI Jakarta itu.
Ia pun mendorong Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk lebih serius menambah ruang bermain bagi anak.
"Saya mendorong Pemprov DKI Jakarta agar lebih serius menambah Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA), khususnya di wilayah-wilayah yang sudah sangat padat penduduk. Tidak semua harus melalui pembebasan lahan yang mahal. Pemprov bisa mengoptimalkan aset yang dimiliki, memanfaatkan lahan tidur, atau merevitalisasi ruang-ruang yang belum produktif menjadi area bermain dan olahraga bagi anak-anak," kata Kevin Wu.
Legislator dari Fraksi PSI itu menutup pernyataan dengan menekankan pentingnya arah pembangunan kota yang berpihak pada anak.
"Ke depan, pembangunan kota tidak boleh hanya berorientasi pada gedung dan jalan, tetapi juga harus memastikan setiap anak Jakarta memiliki akses terhadap ruang bermain yang layak. Ini adalah investasi jangka panjang untuk kesehatan fisik, mental, dan kualitas hidup generasi penerus kita," pungkasnya.