- Seorang WNA Italia menjadi korban penjambretan ponsel di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, pada Kamis, 14 Mei 2026.
- Anggota DPRD DKI Jakarta, Kevin Wu, mendesak aparat segera menangkap pelaku serta menyelidiki pola kejahatan sistematis di wilayah tersebut.
- Pemprov DKI diminta mengevaluasi sistem pengawasan keamanan guna menjamin keselamatan publik dan menjaga citra Jakarta sebagai kota global.
Suara.com - Anggota Komisi A DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PSI, Kevin Wu, angkat bicara soal penjambretan terhadap warga negara asing (WNA) asal Italia di kawasan Bundaran HI, Menteng, Jakarta Pusat, yang terjadi pada Kamis (14/5/2026).
Kejadian bermula ketika korban sedang melihat ponselnya di tepi jalan, lalu pelaku yang mengendarai sepeda motor menarik paksa ponsel korban dan melarikan diri.
Korban sempat mengejar pelaku, namun terjatuh dalam upaya pengejarannya.
Insiden tersebut bukan yang pertama terjadi di wilayah Jakarta Pusat sepanjang tahun ini.
Sebelumnya, pada 19 April 2026, seorang WNA asal Jerman bernama Robin juga menjadi korban penjambretan di depan Sekolah Santa Ursula, kawasan Pasar Baru, Sawah Besar.
Aksi yang terekam kamera dan viral di media sosial, dengan tiga orang pelaku berhasil ditangkap, termasuk dua eksekutor dan satu penadah.
Merespons kejadian berulang ini, Kevin Wu menyorot lokasi insiden terbaru yang tidak bisa lagi dipandang remeh oleh mereka yang berwenang menindak.
"Ini bukan sekadar kasus kriminal jalanan biasa, karena lokasinya adalah salah satu wajah utama Jakarta. Bundaran HI itu etalase ibu kota, simbol Jakarta modern, dan titik yang sering dilihat wisatawan maupun masyarakat internasional," ujarnya kepada Suara.com melalui keterangan tertulis.
Kejadian ini harusnya menjadi peringatan keras bagi Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dan aparat keamanan di wilayah terkait.
"Kalau di kawasan seikonik Bundaran HI saja orang masih bisa dijambret, maka ini harus menjadi alarm serius bagi Pemprov DKI dan aparat keamanan. Jakarta ingin menjadi kota global, tapi kota global tidak boleh hanya bicara gedung tinggi, event internasional, dan slogan. Yang paling dasar adalah rasa aman di ruang publik," tegas Kevin Wu.
Ia pun memperingatkan dampak jangka panjang dari berulangnya kasus serupa terhadap citra Jakarta di mata dunia.
"Kejadian seperti ini kalau dibiarkan berulang akan merusak image Jakarta di mata publik, wisatawan, investor, dan komunitas internasional," sorot Kevin Wu tajam.
"Satu video viral tentang turis dijambret bisa menghapus banyak narasi promosi kota yang dibangun dengan biaya besar. Jangan sampai Jakarta dikenal bukan karena kemajuannya, tapi karena orang merasa tidak aman saat berjalan di ruang public," lanjutnya.
Legislator partai berlambang gajah ini mendorong kepolisian untuk segera menangkap pelaku, sekaligus mengusut apakah insiden ini bagian dari pola kejahatan yang lebih sistematis.
![Suasana di Bundaran Hotel Indonesi (HI), Jakarta, Selasa (23/4/2024). [Suara.com/Alfian Winanto]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2024/04/23/93841-daerah-khusus-jakarta-dkj-jakarta-ilustrasi-jakarta-ilustrasi-dkj-ilustrasi-bundaran-hi.jpg)
Kevin juga menuntut evaluasi serius dari Pemprov DKI Jakarta terkait penyelenggaraan sistem pengawasan keamanan di kawasan vital seperti Bundaran HI.