-
Amerika Serikat menyerang langsung Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Darkhovin milik Iran untuk pertama kali.
-
Tidak ada kebocoran radiasi karena fasilitas nuklir tersebut masih dalam tahap konstruksi fisik.
-
Proyek energi strategis Iran yang ditargetkan selesai tahun 2030 kini mengalami kehancuran total.
Suara.com - Amerika Serikat meluncurkan serangan militer langsung yang menghantam Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Darkhovin di wilayah Iran. Ketegangan bersenjata ini menandai babak baru yang semakin berbahaya dalam eskalasi konflik kedua negara.
Gempuran udara tersebut langsung memicu reaksi keras dan kecaman diplomatik dari otoritas tertinggi Teheran. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengutuk keras serangan terhadap Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Darkhovin, dengan menyatakan bahwa situs tersebut ditujukan untuk tujuan damai.
Langkah agresif Washington ini memecah kebuntuan taktik militer yang sebelumnya menghindari target reaktor utama. Beruntung, otoritas setempat memastikan tidak ada ancaman kontaminasi lingkungan yang berbahaya bagi warga sekitar setelah ledakan terjadi.

Situs strategis tersebut dilaporkan masih dalam tahap pembangunan sehingga belum menyimpan bahan bakar aktif. Ketakutan global mengenai bencana kebocoran zat radioaktif yang mematikan dipastikan tidak terbukti di lapangan.
Pemerintah Iran menegaskan bahwa instalasi yang hancur ini merupakan proyek masa depan untuk kemandirian energi nasional mereka.
Kehilangan fasilitas Darkhovin menjadi pukulan telak bagi cetak biru pembangunan infrastruktur strategis Teheran. Proyek ambisius ini telah dirancang sejak lama untuk memenuhi kebutuhan listrik domestik di masa depan.
Negara tersebut memulai proses konstruksi fisik pembangkit ini pada tahun 2022. Target awal penyelesaian total dan pengoperasian penuh instalasi ditargetkan tercapai pada tahun 2030.
Kehancuran situs ini otomatis membuyarkan lini masa pembangunan energi yang telah disusun rapi. Kerugian materi dan waktu yang dialami Iran diperkirakan sangat masif akibat serangan udara tersebut.
Agresi militer ini melengkapi rentetan operasi udara yang menyasar aset vital di sepanjang pesisir selatan Iran. Penghancuran infrastruktur kritis tampaknya menjadi strategi utama musuh untuk melumpuhkan ketahanan ekonomi Teheran.
Sebelum insiden ini terjadi, militer Amerika Serikat juga sempat membombardir kawasan di sekitar Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Bushehr.
Rentetan serangan udara dalam waktu singkat ini menunjukkan perluasan zona target operasi militer Amerika Serikat. Sejumlah reaktor penting dan pusat penelitian strategis terus menjadi sasaran bom selama 38 hari pertama perang berkecamuk.
Sejarah mencatat bahwa ini adalah momen pertama sebuah pembangkit listrik tenaga nuklir aktif ditembak secara langsung pada tahun 2026. Skala konfrontasi kali ini dinilai jauh lebih destruktif dibandingkan ketegangan bersenjata pada periode-periode sebelumnya.
Pentagon sendiri sebenarnya sudah pernah menyasar fasilitas nuklir milik Iran di Natanz, Fordow, dan Isfahan pada Juni 2025. Namun, gempuran di Darkhovin menjadi preseden baru karena menyasar fisik bangunan pembangkit listrik secara langsung.
Konteks perang terbuka antara poros Amerika Serikat-Israel melawan Iran ini sendiri telah meletus sejak tanggal 28 Februari. Benturan bersenjata ini terus meluas dan menghancurkan berbagai fasilitas strategis yang dimiliki oleh negara para mullah tersebut.
Kini, dunia internasional terus memantau dampak lanjutan dari kehancuran Darkhovin terhadap kestabilan geopolitik di kawasan Timur Tengah.